ads


PPID Provinsi Banten

Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Baca Juga

Oleh Dodi Prasetya Azhari, SH


(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti (PEMIMPIN) itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya (PENGIKUT), dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti (PENGIKUT) : "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka (PEMIMPIN), sebagaimana mereka berlepas diri dari kami." Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api neraka. (Qs. Al Baqarah 166-167)

Dalam ayat di atas Allah SWT  memberikan peringatan (warning) agar senantiasa waspada terhadap pemimpin-pemimpin penipu yang mirip syaithan. Yang tak bertanggung jawab setelah menyesatkan. Lagaknya saja akan membawa kesejahteraan dan kebaikan buat rakyatnya. Bahkan dengan berbagai program kampanye dan penampilan yang seolah-olah perhatian penuh kepada masyarakat. Dengan membawa sembako dan uang yang dibagi-bagi kepada masyarakat untuk menunjukkan bahwa mereka peduli, bahwa mereka orang baik, belum jadi saja sudah bagi-bagi apalagi kalau sudah jadi?

Tapi faktanya pada kemudian hari berdasarkan pengalaman menunjukkan bahwa mereka adalah para penipu. Mereka adalah para “pemimpin” penipu yang melakukan transaksi pengambil-alihan kekuasaan masyarakat dengan uang receh, lalu setelah jadi mereka ternyata bukan bekerja untuk mensejahterakan rakyat.

Saking pinternya mereka menipu, mereka datang dengan peci dan baju takwa, mendatangi masjid, majelis taklim, madrasah, dan pondok pesantren. Dengan membawa bantuan, padahal mereka adalah kaum munafiq yang sebenarnya tidak peduli dengan perubahan dan kesejahteraan rakyat banyak.

Agar tak terus-terusan dibohongi para pemimpin munafik yang berkolaborasi bersama para petualang, spekulator dan pedagang yang sama - sama mempunyai kepentingan pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), konstituen yang berhak pilih, mutlak harus mewaspadai dan lebih peka terhadap hal ini. Jangan mudah dikelabui, dalam proses Pilkada serentak 2015 menjadi pemilih kritis dan cerdas adalah suatu keharusan yakni harus piawai mengelola daya ingat tentang tabiat si calon dan pasangannya di masa lalu,harus menggunakan tegaknya akal sehat dan logika murni bukan sebatas pembenaran sadar konsekuensi dan tidak mudah terprovokasi dan diperalat. Atau bahkan diadu-domba. Serta saling dibenturkan satu-sama-lain.

Bagaimana pun sejatinya kekuasaan selalu berkecendrungan bohong dan atau membentuk opini palsu. Termasuk, pada ajang Pilkada langsung nanti. Kepalsuan dan pembohongan itu bisa menyangkut aspek pencitraan, upaya pengelabuan baik menutup aib, merahasiakan asal-usul, menggelapkan jejak masa lalu. Maka, waspadalah.

Pilkada serentak adalah ajang praktik manipulasi dan penyalahgunaan “aspirasi publik”. Dengan cara menyelewengkan makna “representasi”. Dengan menggiring arah “partisipasi”. Hati-hati dengan penyesatan informasi, kesengajaan menciptakan kesenjangan pengetahuan. Misalnya dengan taktik mutilasi data. Atau penghilangan bukti, dan relasi kontekstual.

Memilih atau Dipilihkan? Ada salah kaprah, bahwa Demokrasi dipahami sekadar ‘kebebasan memilih, tanpa paksaan’. Akibatnya, banyak yang masih belum sadar, bahwa “Demokrasi” bisa dipalsukan. Karena pemilih bisa di-setting agar tak benar-benar bebas memilih. Sebab, yang dipilih, bisa saja, sebenarnya sudah dipilihkan. Oleh pihak yang ingin terpilih. Atau oleh kepentingan yang mengatur keterpilihan.

Jumlah (seharusnya) bukan indikator. Demokrasi cenderung dipersepsikan bahwa yang benar adalah yang pendapatnya didukung lebih banyak. Seakan tak ada tempat bagi kebenaran minoritas. Padahal, bisa saja “Kebenaran” tadi, cuma konsensus dari mayoritas. Kalau memilih calon cuma karena ikut-ikutan saja; atau sekadar mengandalkan mana yang lebih banyak jumlah pendukungnya, ya harus siap-siap jadi korban kecewa dan mungkin saja dibohongi lagi untuk 5 tahun ke depan.

Kritisi yang cuma bermodal “terkenal”. Calon yang merasa ngetop, dan berhasrat pokoknya harus terpilih, harus diwaspadai. Maka, pemilih dituntut kian terampil membedakan mana calon yang sekadar pengen ‘tampil beda’; terhadap calon yang berkepemimpinan unik; dari yang berorientasi eksentrik; atas yang pola kepemimpinannya aneh. Kepemimpinan model begini bisa blunder, jika orientasinya sekadar nyeleneh, demi bisa terpilih. Padahal content kepemimpinannya tak relevan dengan permasalahan aktual.

Rakyat kini rindu terhadap pemimpin yang berpihak kepada kepentingan umum dan kesejahteraan rakyat. Pemimpin harus jadi bagian dari solusi. Pemimpin seharusnya tidak malah nambah masalah. Makanya pemimpin harus ‘terampil mendengarkan’. Bukan cuman mau ‘didengarkan’ –padahal keputusannya salah. Urusan tentang yang dipimpin, jauh lebih penting bagi kelangsungan bangsa ini, ketimbang ego yang akan memimpin.

Di alam demokrasi baik setan (koruptor,pembohong,munafiq) mau pun malaikat (orang bersih) mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi pemenang.

Tugas kita selaku pemilih adalah bagaimana si setan tersebut jangan sampai menjadi pemenang kompetisi pelaksanaan proses demokrasi di Republik ini.

Musuh demokrasi selain kemiskinan ialah kekuasaan yang termonopolikan. Agar Tangsel menjadi kota terbuka, oligarki kekuasaan adalah ancaman serius yang harus dihentikan. Kedua, kepemimpinan yang profesional, tegas, cerdas dan tidak memiliki ’utang politis’ yang besar.

Tentu, tak ada makan siang gratis, kata pepatah. Realitasnya, esensi kepemimpinan adalah kekuasaan. Dan di balik kekuasaan, ada banyak kepentingan ikut mendompleng. Berhasrat ikut mengendalikan. Sehingga, apakah kepemimpinan ke depan amanah, atau serakah, pilihan kita yang tentukan.

Jadi, mari memilih dengan bertanggung-jawab. Tetap waspada tapi berpikiran terbuka. Sambil senantiasa tetap kritis dan cermat. Dengan pintar menakar. Jeli meneliti. Fasih memilih. Demi Tangerang Selatan yang jauh lebih baik, bagi kepentingan rakyat. *

Penulis: Ketua Umum Suara Kreasi Anak Bangsa (SKAB)
Tinggal di Kelurahan  Serua, Kecamatan Ciputat, Tangerang Selatan

Tangerang NET

Berita Tangerang Untuk Dunia
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Masukkan Komentar

Ad Inside Post


Top