Berita Terkini

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Cuaca Buruk Di Bandara Soetta, Sejumlah Pendaratan Pesawat Dialihkan

Ilustrasi, beberapa pesawat di Bandara Soekarno-Hatta.
(Foto: Istimewa)  



NET - Hujan yang turun secara terus menerus mengguyur wilayah Jakarta dan sekitarnya sejak Senin pagi, 12 Januari 2026, memaksa AirNav Indonesia melakukan sejumlah prosedur pengalihan hingga pembatalan pendaratan terhadap sejumlah penerbangan tujuan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Banten, guna memastikan keselamatan penerbangan.

“Langkah ini adalah bagian dari layanan navigasi yang harus kami lakukan mengacu pada kondisi cuaca buruk yang berisiko terhadap keselamatan penerbangan. Semua dilakukan berdasarkan aturan dan ketentuan serta dengan satu alasan yaitu untuk keselamatan penerbangan,” jelas EVP of Corporate Secretary Airnav Indonesia Hermana Soegijanto kepada wartawan di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Senin (12/1/2026).

Manajemen AirNav Indonesia melalui pernyataan resminya menegaskan langkah tersebut sebagai bagian dari prosedur keselamatan penerbangan yang harus dijalankan para petugas Air Traffic Controller (ATC) yang melakukan pemanduan.

Hermana menjelaskan perubahan navigasi penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta ini khususnya terjadi pada periode pukul 05:00-10:00 WIB, ketika hujan dengan derasnya mengguyur wilayah bandara dan sekitarnya. Situasi tersebut menyebabkan peningkatan pergerakan pesawat yang melakukan pembatalan pendaratan (go-around) dan pengalihan pendaratan ke bandara alternatif (divert).

“Pada periode tersebut, jarak pandang di semua landasan pacu yang ada di Soekarno-Hatta tercatat di bawah 1.000 meter, yang merupakan batas minimum prosedur pendaratan bagi pesawat. Kalau dipaksakan untuk terus mendarat, itu sangat membahayakan. Karena itu, kondisi ini mengakibatkan terjadinya penumpukan lalu lintas kedatangan di wilayah udara Jakarta,” ungkapnya.

Sebagai bagian dari prosedur keselamatan penerbangan, petugas ATC mengatur pesawat untuk melakukan holding pada area atau pola holding pada area atau pola holding yang ditetapkan. Durasi holding berkisar antara 40 menit hingga 1 jam. Pada durasi ini, jumlah pesawat yang berada dalam holding mencapai sekitar 15 pesawat. Selain itu, tercatat 16 pesawat diarahkan untuk melakukan divert ke bandara alternatif.

“Tujuan divert antara lain ke Palembang sebanyak dua pesawat. Kemudian ke Semarang sebanyak tiga pesawat, Halim Perdanakusuma 3 pesawat, Tanjung Pandan 1 pesawat, Pangkalpinan 1 pesawat, Solo 2 pesawat, Yogyakarta Internasional Airport/YAI 4 pesawat, dan Jambi 1 pesawat,” tutur Hermana.

Hermana menjelaskan prosedur go-around, holding, maupun divert merupakan bagiann dari prosedur keselamatan penerbangan yang baku dan diterapakan apabila kondisi cuaca atau faktor operasional tidak memenuhi standar keselamtan. Kendati demikian, keputusan akhir tetap menjadi kewenangan pilot.

“Sementara petugas ATC memberikan informasi cuaca, kondisi lalu lintas, serta clearance sebagai rekomendasi guna memastikan separasi pesawat tetap aman,” ujarnya. (*/pur)


Post a Comment

0 Comments