![]() |
| Junaidi Rusli. (Foto: Istimewa/JR) |
Junaidi menyebutkan regenerasi bukan berarti menyingkirkan
senior, melainkan bentuk penghormatan. “Mereka pembuka jalan. Tapi zaman sudah
berubah. PWI butuh energi baru, ide segar, dan cara pandang modern menghadapi
disrupsi media, ada Iqbal Irsyad Sekjen PWI, Helmy Zainal - Ketua Kalimantan
Selatan (Kalsel) dan Farianda Putra Sidiq - Ketua Sumut yang punya track record
bagus,” ujar Junaidi di Jakarta, Selasa (5/8/2025).
Junaidi menekankan pentingnya sosok baru yang bersih dari
konflik masa lalu. “Harus ada figur baru, bukan bagian dari kelompok yang
selama ini berseteru. Sosok muda yang masih aktif turun ke lapangan sebagai
wartawan,” tutur Junaidi sembari tersenyum.
Bagi Junaidi, kepemimpinan organisasi profesi tak boleh
stagnan. Dunia digital dan tantangan independensi pers menuntut pemimpin yang
paham medan baru. “Pers tak bisa dikelola dengan cara lama,” ujarn Junaidi
menyarankan.
Junaidi Rusli mengaku pernyataannya ini mendapat dukungan
dari sejumlah kalangan wartawan muda. Mereka menilai PWI terlalu lama dikuasai
figur lama yang tak cukup responsif terhadap perubahan media.
Namun, lepas dari sikapnya, Junaidi mengakui juga kalau tak
semua sepakat dengan pandangannya. Ada juga wartawan senior, menyebutkan pernyataannya itu tendensius.
“Regenerasi penting, tapi bukan dengan merendahkan. Kolaborasi itu kunci,” kata
Junaidi menirukan pernyataan wartawan senior yang tidak ia sebut namanya itu.
Meski kontroversial, pernyataan Junaidi membuka ruang
diskusi soal pembaruan dalam tubuh organisasi wartawan tertua di Indonesia.
Kongres PWI yang akan dilaksanakan pada 29-30 Agustus ini
diprediksi jadi ajang pertarungan dua arus besar: kontinuitas dan perubahan.
(*/pur)




0 Comments