
Ilustrasi Pasar Pramuka Pojok
menerima jasa pembuatan ijazah.
(Foto: Istimewa)
Oleh: Rizal Fadillah
KETIKA empat tahun Joko Widodo (Jokowi) tidak mampu memperlihatkan ijazahnya, ketika ia tidak pernah menghadiri berbagai persidangan Pengadilan, dan ketika ijazah itu masih misteri status keasliannya di tangan penegak hukum, maka kuat sekali dugaan bahwa memang ijazah Jokowi itu palsu. Putusan majelis Komisi Infomrasi Publik (KIP) di Jakarta memperkuat hal itu.
Suara agar dokumen yang ada di Polda Metro Jaya diuji di Laboratorium Forensik independen atau sekurang-kurangnya diperkenankan uji banding di Laboratorium lain ternyata tidak mendapat respon kesediaan. Keraguan publik terhadap proses pemeriksaan di Kepolisian sangat beralasan mengingat pemihakan kepada Jokowi sebagaimana yang diperlihatkan selama ini.
Kepolisian pun tidak berani mengumumkan secara terbuka barang bukti tersebut. Jokowi sendiri masih dapat terus berkelit, bahkan bermanuver laporan pencemaran dan fitnah atas beberapa orang kepada Polda Metro Jaya, mengumbar foto teman kuliah, serta melakukan restorative justice atas Eggi dan Damai Lubis. Ijazah “UGM” itu sedemikian rupa diputar-putar agar tetap misterius. Publik semakin yakin ijazah itu palsu.
Terobosan serta langkah rasional dan jujur adalah Polisi segera memeriksa segala hal yang terkait dengan Pasar Pramuka, Jakarta. Beberapa nama sudah dimunculkan mengenai pembuatan ijazah Jokowi di pasar ini untuk keperluan pendaftaran Calon Gubernur (Cagub) DKI Jakarta dan Calon Presiden Republik Indonesia (Capres RI) bahkan Calon Walikota (Cawalkot) Surakarta, Jawa Tengah. Penegak hukum profesional dan presisi tidak akan pernah mengabaikan informasi penting sekelas Pasar Pramuka.
Terbakarnya Pojok Pasar Pramuka pada Desember 2024 pasca Teim Pembela Ulama dan Aktifis (TPUA) mengadukan Jokowi ke Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri pada 9 Desember 2024 atas dugaan membuat dan menggunakan ijazah palsu telah mengundang kecurigaan serius. Area yang musnah terbakar dikenal sebagai tempat pembuatan berbagai dokumen palsu. Terindikasi berkas atau jejak pemalsuan ijazah Jokowi dan lainnya ada di sana. Dan itu dihancurkan.
Beathor Suryadi kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) adalah orang yang pertama mengangkat Pasar Pramuka sebagai lokasi pembuatan ijazah palsu Jokowi. Ia menyebut adanya dua tim terlibat, yaitu tim Solo dan tim Jakarta.
Menurut Beathor nama-nama yang layak diminta keterangan antara lain Andi Widjojanto, Prasetyo Edy Marsudi, Widodo, Anggit, David, Dany Iskandar, Indra, Yulianto, Syarif, dan Juri Ardianto. Sejak awal nama pemeran penting Pratikno didorong untuk diperiksa. Muncul pula sosok Paiman.
Mantan intel Badan Intelijen Negara (BIN) Kol. (Purn) Sri Rajasa Candra meyakini ijazah palsu Jokowi dibuat di Pasar Pramuka dengan mengaitkan kecurigaan pada mantan Wamen Paiman, pemilik kios percetakan, dan menyebut nama Supeno dan Ibu Kana. Ia punya 10 saksi. Sementara aktivis Rustam Effendi mengaku mendapat info tentang keterlibatan beberapa nama lain. Ada juga seseorang yang siap mengakui pembuatan namun khawatir akan ancaman atas diri dan keluarganya.
Polisi tidak boleh menutup mata dan telinga atas Pasar Pramuka. Di sini ada kunci untuk membongkar misteri itu. Meski dokumen ijazah Jokowi tetap sembunyi di Polda Metro Jaya dan enggan di buka publik, namun itu bukan persembunyian terakhir. Meki Jokowi terus bersilat lidah dan berkelit, namun kebohongannya akan terkuak dari tempat pemalsuannya sendiri.
Tersangka dari proses pengalihan mata boleh ada dan berganda, akan tetapi ujung cerita akan menunjukkan bukti nyata. Kepalsuan segera terbuka dengan kesaksian mafia Pasar Pramuka. Ketika ijazah hasil uji forensik itu ternyata palsu, maka tindak lanjut adalah Pasar Pramuka. Demikian juga jika diumumkan Polisi bahwa ijazah itu asli, maka benturan yang akan menghancurkan segala rekayasa adalah Pasar Pramuka.
Polisi, UGM, dan KPU meneriakkan “Hiduup Jokowii…!” . Dijawab dengan teriaķan Rakyat yang sangat keras dan menggema “Hiduuup Pasar Pramuka….!” (***)



0 Comments