![]() |
| Bambang Soesatyo (tengah) dan dua rekan pemilik senjata api. (Foto: Istimewa) |
Asah Keterampilan PERIKHSA 2025 bukan hanya menjadi ajang
pelatihan keterampilan menembak dan bela diri, tetapi membentuk kesadaran
kolektif tentang pentingnya kepemilikan senjata api yang bertanggung jawab,
beretika, dan berlandaskan semangat bela negara.
"Kegiatan ini merupakan bentuk konkret dari tanggung
jawab moral dan hukum yang melekat pada setiap pemilik izin khusus senjata api
bela diri," ujar Bambang Soesatyo (Bamsoet) saat membuka Asah Keterampilan
PERIKHSA 2025 di Denpasar Bali, Sabtu (26/7/2025).
Memiliki senjata api bukan sekadar soal hak, kata Bamsoet, tetapi
lebih pada komitmen untuk menjadi bagian dari kekuatan sipil yang tertib,
siaga, dan terlatih sebagai komponen cadangan bela negara dalam menjaga
keamanan pribadi serta lingkungan sekitarnya.
Hadir antara lain Kajasdam IX/Udayana Kolonel Inf Amin M
Said, Dansat Brimob Polda Bali Kombes Pol. Rachmat Hendrawan, Kasubdit 4
Intelkam Polda Bali AKBP Gede Gajah Dartiyasa, Ketua Harian DPP PERIKHSA Eko
Budianto, Bendahara Umum DPP PERIKHSA Steven Djajadiningrat, Bidang Hukum DPP
PERIKHSA Aldwin Rahadian, Bidang Humas DPP PERIKHSA Nicolas Kesuma, Ketua
PERIKHSA Bali Made Muliawan Arya, Ketua PERIKHSA Jawa Timur Hadi Susilo dan
Ketua PERIKHSA Jakarta Heru Prakoso.
Ketua DPR ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 itu menjelaskan
Asah Keterampilan PERIKHSA menjadi pilar penting dalam membangun budaya
kepemilikan senjata yang modern, beretika, dan berlandaskan pada asas
keselamatan serta hukum. Dengan jumlah pemilik izin khusus senjata api bela
diri yang diperkirakan mencapai 27 ribu orang di Indonesia, kegiatan ini
menjadi kunci untuk membangun standar tunggal dalam kemampuan teknis, kontrol
emosi, serta pengambilan keputusan taktis dalam situasi darurat.
"Namun, dari total jumlah tersebut, baru sekitar 500
orang yang secara aktif tergabung dalam PERIKHSA. Kondisi ini menunjukkan masih
adanya kesenjangan serius antara kepemilikan dan pembinaan, yang harus
dijembatani dengan pendekatan sistematis dan inklusif," kata Bamsoet.
Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Ketua Umum KADIN
Indonesia ini memaparkan kegiatan Asah Keterampilan PERIKHSA 2025 dirancang
dengan pendekatan realistis berbasis kejadian kriminalitas yang marak terjadi
di masyarakat. Delapan stage asah keterampilan yang diterapkan bukan sekadar
variasi gaya menembak, melainkan simulasi situasi nyata yang memaksa peserta
untuk berpikir taktis, tenang, dan efisien dalam pengambilan keputusan.
Mulai dari simulasi perampokan dalam rumah dengan posisi
tidur, kata Bamsoet, perampokan ATM, cafe, kantor hingga penembakan dari dalam
kendaraan. Setiap sesi dirancang untuk melatih respons cepat, akurat, dan aman.
"Peserta dilatih menembak sambil melindungi anggota
keluarga dalam format body system. Sebuah pendekatan yang menggambarkan
bagaimana anggota PERIKHSA harus mampu bertindak cepat dan tepat saat
menghadapi situasi mendesak. Kita bukan membentuk penembak jitu, tetapi pribadi
yang mampu menjaga keselamatan dirinya dan orang tercinta dalam koridor hukum dan keselamatan,”
urai Bamsoet.
Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI dan Wakil
Ketua Umum Pemuda Pancasila ini mengajak seluruh pemilik izin senjata api bela
diri di Indonesia untuk tidak hanya berhenti pada tahap perizinan
administratif. Keanggotaan aktif di PERIKHSA adalah bentuk komitmen terhadap
pelatihan berkelanjutan, pembinaan karakter, serta partisipasi dalam membangun
budaya senjata api yang aman dan sesuai koridor hukum. Jika tidak diimbangi
dengan pengetahuan, etika, dan pelatihan, maka akan menciptakan lebih banyak bahaya
dari pada perlindungan.
“Senjata api bukan alat untuk berkuasa atau menakuti,
melainkan salah satu bentuk dari hak membela diri. Melalui PERIKHSA, kita ingin
menciptakan pemilik senjata api bela diri yang tidak hanya ahli dalam menembak,
tetapi juga unggul dalam berpikir, bertindak, dan mengendalikan diri,” pungkas
Bamsoet. (*/pur)




0 Comments