![]() |
Wina Armada Sukardi. (Foto: Ist/koleksi pribadi Wina AS) |
PAKAR kaligrafi sekaligus penulis kaligrafi profesional,
Didin Sirojuddin A.R., awal bulan April 2023 ini, mengirim WA kepada
hamba, tetapi lantaran baru hamba
baca setelah sholat subuh berjemaah
di mesjid sehari kemudian. Isinya menerangkan bagaimana besarnya pahala
bagi yang membaca dan menulis kembali ayat-ayat Al Quran.
Lantaran isinya bagus buat diketahui kaum muslim, hamba pikir sangat baik kiriman WA dari Didin Sirojuddin A.R. tersebut hamba
foward atau tayangkan kembali di sini, segera setiba di rumah dari sholat subuh
di mesjid.
Untuk menyesuaikan dengan tayangan artikel di media online,
hamba adakan editing seperlunya, tanpa mengubah secuil pun maknanya. Demikian
pula hamba hanya memuat bagian yang terkait dengan pahala membaca Al Quran
saja, sedangkan untuk bagian pahala terkait menulis kembali ayat-ayat Al Quran tidak hamba tayangkan
dengan dua alasan. Pertama, menghindari terlampau panjang, dan kedua tulisan
itu lebih dikhususkan untuk para penulis kaligrafi.
Hamba sendiri, terus terang saja, bukanlah manusia sempurna,
yang telah sanggup mengerjakan membaca Al Quran dengan fasih dan dengan
intonasi atawa lafal yang tepat dan benar, padahal hamba faham benar pahalanya sedemikian besar.
Hal ini menyadari hamba, Allah menciptakn manusia dengan
beragam-ragam kemampuan dan kekurangannya masing-masing. Maafkan hamba ini, Ya
Allah.
Berikut kutipan WA
dari Didin Sirojuddin AR:
AL QURAN kitab suci yang penuh mukjizat, membacanya saja
berpahala dan dianggap ibadah. Mari kita hitung jumlah pahala kebaikan dari
membaca Alquran yg merupakan way of life
kaum muslimin dalam Hadis:
"Barangsiapa membaca *satu huruf * dari Kitabullah
Alquran, maka ia mendapat satu kebaikan.
Sedangkan satu kebaikan dibalas pahala 10 x lipat yang seumpamanya. Ingat, aku
tidak bilang: Aliflammim satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf,
dan Mim satu huruf." (HR Hakim)
Subhanallah, pahalanya dihitung untuk setiap huruf!
Bila setiap huruf pahalanya 10 kebaikan, kita kalikan jumlah
rata-rata:
• 1 baris: 40 huruf x 10 pahala = 400 pahala.
• 1 halaman: 15 baris x 400 pahala = 6.000 pahala.
• 1 juz: 18 halaman x 6.000 pahala = 108.000 pahala
• 30 juz: 30 x 108.000 pahala = 3.240.000 pahala kebaikan.
Subhanallah, banyak sekali!!!
Kita hitung dengan cara lain. Imam Syafi'i (lahir 150 H di
Gaza) lebih 1.200 tahun silam, ketika dunia belum kenal komputer dan mesin
kalkulator, telah mampu mendata jumlah masing-masing huruf dalam Alquran secara
detail dan akurat.
Dalam kitabnya, مجموع العلوم ومطلع النجوم dan dikutip Imam
Ibnu Arabi dalam mukadimah الفتوحات الإلهية
menyebutkan jumlah huruf Alquran ada 1.027.000.
Secara rinci dihitungnya huruf ا (ALIF) 48.740, huruf ل (LAM) 33.922, huruf م (MIM) 29.922,
dan seterusnya sehingga berjumlah 1.027.000 huruf.
Bila dibaca dengan dikalikan 10, maka pahala kebaikannya 10.270.000.
Subhanallah, fantastis. Pada bulan Ramadhan, setiap amalan
digandakan lagi 70 x kebaikan. Maka total pahalanya 10.270.000 x 70 =
718.900.000. سبحان الله .
Ada juga surat-surat
tertentu dengan imbalan pahala tertentu, seperti membaca Al-Fatihah = membaca ⅔
Alquran, bacaan Al-Baqarah & Ali Imran akan jadi 2 awan penaung.
Pembaca Al-Baqarah akan dipakaikan mahkota surga.
Membaca akhir Ali Imran di malam hari dicatat = ibadah
semalam.
Bacaan Al-Kahfi akan jadi penghalang qarinya dari api
neraka.
Adapun yang membaca Yasin saban malam akan diampuni dosanya,
bila dibaca siang segala hajatnya akan terpenuhi. Surat Al-Waqiah adalah surat
kekayaan.
Membaca Qulhuw 3 x malam hari = tamat Alquran. Membaca
Qulhuw 11 balik akan diganti sebuah rumah di surga.
Ayat Kursi adalah pengusir setan. Membaca Ad-Dukhon malam hari, akan diampuni
dosanya yang lalu.
Bacaan Al-Mulk akan jadi tameng dari siksa kubur, dan lain
lain.
Itu belum termasuk bila bacaan tersebut dilagukan, baik
dengan langgam murattal maupun mujawwad karena berefek pada nikmatnya di
pendengaran yang "menggembirakan sesama saudara muslim".
Rasulullah menganjurkan:
"Hiasilah Alquran dengan suaramu (yang merdu)."
Pahala kebaikan akan terus bertambah bila kegiatan membaca
berada dalam "proses belajar-mengajar",
Menuntut Ilmu atau
belajar dan mengamalkan ilmu yang terlibat di dalamnya bergelar "fi
sabilillah" dengan imbalan pahala terbaik
surga.
Dalam Hadis riwayat Usman dinyatakan:
"Sebaik-baik kamu adalah yang belajar Alquran dan
mengajarkannya."
Hasil dari aktivitas membaca Alquran, baik yang menjadi
mahir maupun yang masih terbata-bata karena kesulitan, kedua-duanya mendapat
tempat yang indah seperti yang dijanjikan Rasulullah:
"Orang yang pandai membaca Alquran, akan memperoleh
tempat di surga bersama-sama para Rasul yang mulia lagi baik-baik. Dan orang yang membaca Alquran kurang pandai,
membacanya tersentak-sentak dan tampak agak berat lidahnya, ia akan memperoleh
dua pahala," yaitu pahala membaca
dan pahala sulitnya belajar.
Subhanallah, Allah Maha Pemurah.
Begitulah WA Didin Sirojuddin A.R., dosen dan pendidik yang
memiliki pesantren dengan kekhususan kaligrafi di Sukabumi, Jawa Barat.
Terhadap matematik kwantitatif pahala ini, ada dua
penafsiran. Pertama, yang berkeyakinan jumlah pahala tersebut leterlek persis
sama dengan angka-angka yang disebut di angka-angka itu. Dalam artian,
angka-angka itu merujuk pada arti kongkrit jumlah angka itu.
Jika disebut 10 kali, ya harus dihitung 10 kali yang
sebenarnya.
Tafsir kedua berpendapat, penyebutan kwantitatif melalui
angka-angka tersebut sesungguhnya merupakan simbol atawa metafor dari
tingkatan-tingkatan pahala. Jadi semacam ukuran superlatif. Jadi bukan dalam
artian 10 ya harus dihitung 10, tetapi kadarnya 10 kali lipat dan sebagainya.
Misal kalau disebut jumlahnya “selangit,” tetapi berarti
selangit penuh, tapi satu simbol betapa banyaknya. Begitu juga jika disebut
seribu bulan, misalnya, bukan berarti tepat seribu bulan, tetapi sesuatu yang
jumlahnya dahsyat.
Biarlah para ahli di bidangnya yang menafsirkan. Bagi hamba
pendapat kedua-duanya kemungkinan benar karena keduanya saling melengkapi. Satu
dalam paparan angka kwantitatif matematik, yang kongkret, satu lagi
menarasikannya.
T a b i k.*
Bersambung..
Penulis adalah wartawan dan advokat senior serta Dewan Pakar
Pengurus Pusat Muhammadiyah. Tulisan ini merupakan repotase/opini pribadi.
0 Comments