 |
Terdakwa Liow Chow Lik dan penerjemah Lilik: bahasa Mandarin.
(Foto: Syafril Elain, TangerangNET.Com) |
NET – Terdakwa Liow
Chow Lik, 23, Warga Negara (WN) Malaysia tergiur mendapat upah 10.000 Ringgit Malaysia
(RM) atau sekitar Rp 32 juta nekat menyelundupkan narkotika jenis sabu ke
Indonesia. Akibat perbuatannya, terdakwa Liow Chow Lik oleh jaksa dijerat
dengan hukuman mati di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang, Rabu (6/1/2016).
Pada sidang yang
majelis hakim diketuai oleh Rehmalem Perangin Angin, SH bersama hakim anggota Sun Basana Hutagalung,
SH dan Abner Situmorang, SH serta panitera pengganti Mardi Tambunan, SH dengan agenda pembacaan dakwaan. Terdakwa Liow Chow
Lik dalam persidangan ini didampingi oleh penasihat hukum Zevrijn Boy Kanu, SH.
Jaksa Penuntut Umum
(JPU) Faiq Nurfiqri Sofa, SH menyebutkan terdakwa Liow Chow Lik bermula di
Kualu Lumpur, Malaysia berkenalan dengan Aboy, yang mengaku sebagai seorang
pengusaha. Dalam pekerkenalan tersebut, terjadi kesepakatan antara Aboy dan
terdakwa Liow Chow Lik.
Terdakwa Liow Chow
Lik, kata Jaksa Faiq, bersedia membawa barang ke Indonesia dengan mendapat upah
sebesar 10.000 RM. Pada 9 Agustus 2015, Aboy memberikan uang kepada tedakwa
Liow Chow Lik 2.000 RM untuk membeli tiket dan operasional ke Jakarta.
Pada 10 Agustus 2015
sekitar pukul 20:30 WIB, imbuh Jaksa Faiq, terdakwa Liow Chow Lik tiba di
Bandara Soekarno Hatta dan ke luar dari Terminal D-2 Kedatangan. Saat terdakwa
Liow Chow Lik melewati pemeriksaan X-ray, petugas Bea Cukai melihat sesuatu
benda yang mencurigai pada tas bawaannya.
Terdakwa Liow Chow Lik
yang akan menginap di Hotel Ibis tersebut, kata Jaksa Faiq, digiring ke ruang
pemeriksaan. Hasil, dalam tas tersebut terdapat bungkusan plastic yang berisi
benda berbentuk kristal bening putih. Setelah dilakukan pemeriksaan, benda
bening tersebut mengandung methampetamina adalah narkotika jenis sabu.
Menurut Jaksa Faiq,
sabu yang dibungkus dalam 24 plastik tersebut
setelah ditimbang beratnya mencapai 1.278 gram atau 1,3 kilogram. “Pemeriksaan
secara seksama melalui laboratorium forensic pada 9 Oktober 2015, hasilnya
positif mengandung methampetamina,” ucap Faiq.
Atas perbuatannya
tersebut, Jaksa Faiq menjerat terdakwa
Liow Chow Lik dengan pasal berlapis yakni pasal 114 ayat (2), pasal 113 ayat
(2), dan pasal 112 ayat (2) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun
2009 tentang Narkotika. Ancaman terberat dalam pasal tersebut adalah hukuman
mati.
Setelah dakwaan
dibacakan, Hakim Rehmalem memberikan kesempatan kepada Boy Kanu sebagai
penasihat hukum untuk menyusun eksepsi. Boy Kanu lalu minta waktu seminggu dan
sidang pun ditunda selama sepekan. (ril)
0 Comments