Berita Terkini

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Dokter Tifa Tidak Kemana-mana

Dokter Tifauzia Tyassuma (Tifa) 
(Foto: Ist/koleksi pribadi dokter Tifa) 



TERNYATA absennya saya pada beberapa acara menimbulkan rumors dan spekulasi luar biasa dalam beberapa hari.

Yang saya perhatikan utamanya berasal  dari seorang Pengacara yang membuat postingan spekulasi bahwa ada salah satu Tersangka yang berangkat menjadi Termul. Akibat postingan yang tidak bertanggung jawab tersebut, publik gelisah dan menduga-duga.

Siapa ya  dari 5 Tersangka yang tersisa, yang otw (on the way) ke Solo, Jawa Tengah, dan log out dari Pejuang dan login jadi Pecundang?

Sepuluh hari terakhir Ramadhan, seperti rutinitas selama ini, betul-betul saya manfaatkan untuk iktikaf, sehingga bertubi-tubi undangan TV dan Media , juga beberapa. Acara, tidak saya hadiri.

Akhirnya, beredarlah spekulasi bahwa saya diam-diam ke Solo menghadap Raja Jawa untuk mengharapkan pengampunan.

Sampai-sampai pengacara Kurnia Tri Royani berkata di salah satu podcast: "dokter Tifa di manapun engkau berada... "

Saya aman sentosa di seputaran Jaksel (Jakarta Selatan), Bu.. mondar-mandir dari rumah ke kampus Salemba, Jakarta Pusat, mengurus Riset S-3. Bukan ke Balige atau Samosir, Sumatera Utara (Sumut) apalagi ke Solo.

Adapun di hari-hari akhir Ramadhan saya memilih menarik diri sejenak.

Ramadhan mengajarkan untuk menenangkan hati, menjernihkan pikiran, dan melihat persoalan dengan lebih utuh.

Namun ada hal yang tidak bisa saya abaikan.

Saya melihat bagaimana kekuasaan, bahkan setelah tidak lagi menjabat, masih digunakan untuk menekan dan menghancurkan.

Cara-cara yang digunakan tidak lagi mencerminkan etika seorang negarawan, tetapi lebih menyerupai praktik kekuasaan yang mempertahankan diri dengan mengorbankan orang lain.

Akademisi menjadi sasaran. Reputasi dihancurkan.

Padahal persoalan ini sesungguhnya sangat sederhana.

Jika memang tidak ada yang disembunyikan, cukup tunjukkan saja.

Di mana pun.

Di depan publik, di pengadilan, bahkan di ruang yang paling sederhana sekalipun.

Sederhana.

Yang terjadi justru sebaliknya.

Masalah yang sederhana dipelihara menjadi rumit, memakan energi bangsa, dan menguras perhatian publik.

Saya melihat sendiri bagaimana negeri ini mulai lelah.

Rakyat jenuh.

Energi kolektif terkuras untuk sesuatu yang seharusnya bisa diselesaikan dengan kejelasan.

Di sisi lain, aparat penegak hukum berada dalam posisi yang tidak mudah.

Ada ruang-ruang kosong yang sulit diisi, ada celah-celah yang menyulitkan pembuktian.

Namun, saya tetap menaruh harapan pada profesionalisme, terutama pada mereka yang masih bekerja dengan integritas.

Yang juga memprihatinkan adalah munculnya para Termul “pengiring kepentingan” yang menjadikan situasi ini sebagai ladang keuntungan.

Bukan mencari kebenaran, tetapi mencari peluang.

Mereka memperbesar masalah, bukan menyelesaikannya.

Ironisnya, kondisi ini justru mengganggu jalannya pemerintahan yang sedang berupaya membangun kembali negeri ini.

Saya tidak ingin terjebak dalam pusaran itu.

Dengan izin Allah, dan dengan dukungan banyak pihak yang masih percaya pada kebenaran, saya akan tetap berdiri.

Tanpa jalan pintas.

Tanpa kompromi yang merendahkan martabat.

Tanpa memilih cara-cara yang tidak terhormat.

Perjuangan ini mungkin tidak mudah.

Namun, saya percaya, kebenaran tidak membutuhkan keramaian, ia hanya membutuhkan keteguhan.

Dan saya memilih untuk tetap teguh. (***)



Salam,

Tifa


Suber fb: Tifauzia Tyassuma


Post a Comment

0 Comments