Berita Terkini

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Dokter Tifa: Ramadhan Fokus Pada Ibadah, Sholat, Dan Tadarus

Dokter Tifauzia Tiyassuma (Tifa)
(Foto: Ist/koleksi dokter Tifa)



Pernyataan dokter Tifa


Bismillahirrahmanirrahim.

Beberapa hari ini, saya memilih menarik diri sejenak dari berbagai urusan. Memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, saya ingin memusatkan diri pada ibadah: sholat, tadarus, membaca kitab-kitab hikmah, dan lebih banyak berdiam di rumah.

Dalam keheningan itu, saya tetap mengikuti perkembangan yang terjadi di luar. Termasuk kabar tentang Rismon Hasiholan Sianipar  yang mengajukan Restorative Justice kepada Joko Widodo (Jokowi) di Solo, Jawa Tengah. Saya mencermatinya sesekali, dari jarak yang tenang.

Terus terang, saya menyesalkan langkah tersebut. Saya tidak berada pada posisi yang sama dengannya. Dan Insya Allah, atas izin Allah serta dukungan yang terus mengalir dari banyak pihak, saya tidak akan pernah memilih jalan rendah seperti yang dipilih Rismon.

Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Tetapi hidup sering menempatkan manusia pada tekanan yang tidak terlihat oleh orang lain. Tekanan itu bisa berupa ancaman yang kasar, tetapi seringkali justru lebih kuat dalam bentuk yang jauh lebih halus: bujukan, iming-iming, kompromi, yang menimbulkan  ketakutan yang perlahan menggerogoti keberanian dan akal sehat.

Berbagai isu yang beredar tentang dirinya, mulai dari soal ijazah S-2 dan S-3 dari Jepang hingga kabar mengenai surat keterangan kematian yang konon dibuat oleh istrinya, tentu bukan perkara ringan bagi siapa pun.

Saya memahami bahwa tidak semua orang mampu memikul beban semacam itu sendirian.

Karena, saya sendiri sedang menghadapi persoalan dengan orang yang sama, mantan Presiden Jokowi, saya cukup mengenal karakter Rismon. Selama ini, saya mengenalnya sebagai sosok yang berani, blak-blakan, dan  bernyali, serta cermat dalam analisis.

Dalam banyak kesempatan, saya melihat ia memang memiliki kepakaran yang nyata di bidangnya. Soal tidak punya  ijazah itu perkara lain. Karena kepakaran seseorang tidak melulu diukur dari ijazah. (Di sini sebagai mantan kawan saya berbisik: "Why, Mon, kenapa kau musti palsukan ijazah, sih?")

Langkah yang Rismon ambil saat ini, setidaknya dalam penilaian saya, terasa asing. Tidak mencerminkan kemandirian sikap yang biasanya kita tunjukkan.

Saking liar dan mandirinya, kadang saya dan mas Roy suka kewalahan dan geleng-geleng kepala melihat segala manuvernya  sambil berkata: " Piye to adikmu kuwi?*

"Lha embuh!* Jawab saya.

Setahun ini, kami bertiga memang sudah seperti saudara dekat. Seia sekata dan senasib sepenanggungan.

Hanya, kami sedih karena kepada kami pun dia tidak terbuka. Padahal dalam ilmu yang dia tekuni, dia betul-betul hebat.

Namun kekecewaan terbesar, saya justru bukan kepada Rismon. Kekecewaan terbesar, saya tertuju kepada mantan Presiden Jokowi dan lingkar kekuasaannya.

Demi menepis tuduhan tentang   ijazah yang dipersoalkan publik, cara-cara yang digunakan sungguh kejam, keji, dan  sangat menyakitkan: menghancurkan reputasi orang, menekan hingga kehilangan ruang bernapas.

Hal yang sama pernah menimpa  Bambang Tri. Juga Gus Nur.

Dan kini sejarah itu seperti berulang.

Pada Rismon, dibuat hancur harga diri melata begitu rendah tak berdaya.

Kekuasaan seharusnya melindungi rakyat. Bukan alat untuk membungkam mereka yang bersuara.

Tetapi sejarah selalu mengajarkan satu hal: kekuasaan yang digunakan untuk membungkam kebenaran pada akhirnya justru memperbesar gema kebenaran itu sendiri.

Namun, saya tidak ingin larut dalam kemarahan.

Ramadhan mengajarkan kita untuk menahan diri, menjaga hati tetap jernih, dan menyerahkan segala sesuatu kepada Yang Maha Mengetahui.

Saya memilih jalan yang berbeda.

Dengan dukungan banyak orang, dan dengan sepenuhnya berserah kepada Allah, saya akan tetap melanjutkan perjuangan ini.

Perjuangan untuk kebenaran memang sering kali sunyi.

Kadang juga menyakitkan.

Tetapi kebenaran memiliki sifat yang tidak dimiliki oleh kekuasaan:

ia tidak pernah benar-benar bisa dimatikan.

Selama masih ada satu orang saja yang berani berdiri, kebenaran akan tetap hidup.

Dan, saya memilih untuk tetap berdiri.

Salam,

Tifa



Sumber: fb DT: Dokter Tifa

Post a Comment

0 Comments