DR. H. Susari, M.A.
(Foto: Ist/koleksi Susari)
Oleh: DR. H. Susari, M.A.
ALI bin Abi Thalib mewarisi pemerintahan sebagai khalifah ke-4 setelah Nabi Muhammad SAW wafat dari tahun 35 - 40 H/656 - 661 M yakni umat Islam sedang dilanda krisis politik besar pasca-pembunuhan Utsman bin Affan.
Masa pemerintahannya diwarnai oleh perang saudara, yaitu perang Jamal dan perang Shiffin. Perang Jamal terjadi antara Ali bin Abi Thalib melawan pasukan yang dipimpin oleh Aisyah RA (istri Nabi), Thalhah, dan Zubair, yang menuntut qishash (hukuman mati) segera bagi para pembunuh Utsman.
Sedangkan pada perang Shiffin, Ali bin Abi Thalib melawan Muawiyah bin Abu Sufyan (gubernur Suriah dan kerabat Utsman) yang menolak membaiat Ali sebelum pembunuh Utsman dihukum. Perang ini berakhir dengan arbitrase (Tahkim) yang memicu munculnya kelompok baru, yaitu Khawarij (kelompok yang keluar dari barisan Ali). Pada akhirnya, Ali bin Abi Thalib pun wafat secara tragis pada tahun 661 M setelah ditikam oleh seorang anggota Khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam saat sedang bersiap melaksanakan salat Subuh.
Sesaat setelah Ali wafat pada tahun 661 M, umat Islam di Kufah membaiat putra sulungnya, Hasan bin Ali, sebagai khalifah. Namun, masa kepemimpinannya hanya berlangsung sekitar enam bulan. Untuk menghindari pertumpahan darah lebih lanjut di antara sesama Muslim (karena konflik dengan Muawiyah bin Abi Sufyan), Hasan bin Ali memilih untuk melakukan rekonsiliasi. Hasan bin Ali menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah bin Abi Sufyan melalui sebuah perjanjian damai yang dikenal sebagai Amul Jama'ah (Tahun Persatuan).
Inilah era dinasti yang secara resmi meneruskan kepemimpinan dunia Islam setelah berakhirnya era Khulafaur Rasyidin, yaitu Dinasti Umayyah (Bani Umayyah) yang didirikan oleh Muawiyah bin Abi Sufyan, dan pusat pemerintahan berada di Damaskus, Suriah. Muawiyah bin Abi Sufyan mengubah sistem pemilihan pemerintahan dari musyawarah menjadi sistem monarki (kerajaan) atau turun-temurun. Masa Kekuasaan berlangsung dari tahun 661 M sampai 750 M.
Meskipun secara politik kekuasaan jatuh ke tangan Bani Umayyah, pengikut setia Ali bin Abi Thalib (yang kemudian dikenal sebagai golongan Syiah) tetap meyakini bahwa kepemimpinan spiritual dan hak sejati atas umat Islam berada di tangan keturunan Ali bin Abi Thalib (para Imam dari garis keturunan Hasan dan Husain).
Kelompok Syiah meyakini bahwa Nabi Muhammad telah menunjuk Ali bin Abi Thalib (sepupu sekaligus menantunya) sebagai penerusnya secara ilahiah di peristiwa Ghadir Khum. Oleh karena itu, bagi Syiah, Ali bukan sekadar Khalifah keempat (seperti keyakinan Sunni), melainkan secara teologis adalah Imam Pertama yang maksum (terjaga dari dosa) dan pemimpin sah umat secara mutlak.
Pada periode ini nampak umat Islam mulai terpolarisasi menjadi dua kutub, yaitu sunni dan syiah. Cikal bakal Sunni saat itu adalah mayoritas sahabat dan masyarakat yang tetap setia pada legitimasi kekhalifahan Utsman bin Affan dan menolak pemberontakan. Kelompok Sunni mengakui keempat khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali) sebagai pemimpin yang sah secara berurutan. Sedangkan kelompok Syiah adalah pengikut setia Ali bin Abi Thalib sebagaimana disebut di atas.
Bilamana Ali bin Abi Thalib memiliki pengikut setia bernama Syiah, lantas bagaimana hubungannya dengan Iran? Sejarah Iran menjadi negara mayoritas Syiah adalah hasil transformasi agama paling dramatis dalam sejarah Islam. Selama hampir 900 tahun setelah penaklukan kekaisaran Persia oleh umat Islam periode Khalifah Umar bin Khattab, Iran sebenarnya adalah benteng utama dunia Sunni dimana Iran merupakan tempat lahirnya imam-imam besar seperti al-Ghazali, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Al-Tarmidzi, dan Imam al-Thabari.
Iran menjadi negara Syiah karena keputusan politik Dinasti Safawi untuk membedakan diri dari Kekaisaran Ottoman. Sejak abad ke-17, identitas Persia (Iran) dan Syiah telah menyatu begitu kuat hingga saat ini. Dinasti Safawi (1501–1736 M) adalah salah satu periode paling penting dalam sejarah Iran, karena dinasti inilah yang meletakkan dasar bagi identitas Iran modern dan menjadikan Syiah sebagai agama resmi negara.
Dinasti safawi didirikan oleh Ismail I yang berkuasa dari tahun 1501–1524 M. Ia naik tahta pada usia yang sangat muda yaitu sekitar 14 tahun, berasal dari keturunan ketujuh dari Safiuddin Ardabeli (pendiri ordo Sufi Safawiyah), dan ia juga mengklaim memiliki garis keturunan dari Imam Musa al-Kadzim (Imam ketujuh Syiah), yang berarti sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW melalui jalur Ali bin Abi Thalib. Meski, oleh sejarawan modern ini dipandang sebagai langkah politik untuk memperkuat kedudukannya.
Dengan berdirinya dinasti Safawi ini telah terjadi perubahan secara permanen yang mengubah peta kekuatan di Timur Tengah. Iran tidak lagi menjadi bagian dari arus utama dunia Islam Sunni, melainkan menjadi pusat intelektual dan politik Syiah hingga hari ini, termasuk puncaknya pada Revolusi Islam 1979 yang merupakan salah satu peristiwa politik paling berpengaruh di abad ke-20. Revolusi ini mengubah Iran dari sebuah Monarki (Kerajaan) yang pro-Barat menjadi sebuah Republik Islam yang teokratis.
Dinamika yang terjadi antara Ali bin Abi Thalib, Syiah, dan Iran menjadi sangat unik. Ketiganya memiliki benang merah sejarah, teologi, dan geopolitik yang sangat kuat. Hubungan ketiganya membentuk lanskap politik di Timur Tengah yang berbeda dengan negara-negara di kawasan.
Identitas politik Iran yang menjadikan sosok Ali bin Abi Thalib dan putranya, Hussein bin Ali (yang gugur di Karbala), sebagai simbol perlawanan terhadap penindasan dan ketidakadilan. Narasi ini sangat kental dalam kebijakan politik dalam dan luar negeri Iran, termasuk ketika melawan Amerika Serikat dan Israel. Wallahu a’lam. (***)
Penulis,
Muballigh, tinggal di Cibodasari Kota Tangerang.
Dosen LB pada Program Pascasarjana UIN SMH Banten



0 Comments