Berita Terkini

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Memburu Lailatul Qadar Pada Injury Time Ramadhan

Dr. H. Susari, M. A.
(Foto: Istimewa)



Oleh: Dr. H. Susari, M.A. 



INJURY time Ramadhan adalah istilah kiasan untuk malam ke-29 Ramadhan. Ini adalah kesempatan terakhir dalam deretan malam ganjil sebelum bulan suci Ramadhan berakhir. Jika di malam-malam sebelumnya (seperti malam 21, 23, 25, atau 27)  dirasa kurang maksimal, maka malam ke-29 adalah waktu penebusan. Ibnu Abbas pernah mengungkap bahwa Nabi Muhammad SAW mengajak umat Islam untuk memburu lailatul qadar di sepuluh malam terakhir, termasuk saat tersisa satu malam saja, yaitu di malam ke-29. 


Dalam realitas sosial, umat Islam dalam memasuki malam ke-29, biasanya terjadi penurunan grafik ibadah karena beberapa hal antara lain fokus pada persiapan Idul Fitri, dan menyangka lailatul qadar sudah lewat pada malam ke-27, sehingga mereka mengendurkan ikat pinggang. Dengan demikian injury time hadir sebagai pengingat agar umat Islam tidak merugi di detik-detik terakhir.

 

Konsep injury time menjadi sangat penting menghadapi detik terakhir Ramadhan yaitu malam ke-29. Konsep ini memiliki dua pilar psikologi ibadah yang penting bagi umat Islam, yaitu:

 

1. Mentalitas finish strong

Mentalitas ini dapat dianalogi dari filosofi atlet lari maraton. Saat mendekati garis finish, seorang pelari tidak melambat karena lelah, justru ia melakukan akselerasi (sprint). Kesadaran bahwa perjuangan sebulan penuh akan sia-sia jika menyerah atau bersantai di detik-detik terakhir. Maka, fokus pada target ibadah untuk menyelesaikan ramadhan dengan energi penuh akselerasi.

 

2. Memperkuat mindset: the power of husnul khatimah

Mindset ini berlandaskan pada hadits Nabi Muhammad SAW: Innamal a'malu bi khawatimiha. 


Artinya, sesungguhnya setiap amal itu bergantung pada akhirnya. Keyakinan bahwa Allah Maha Pengampun dan bisa menghapus kekurangan umat manusia di awal ramadhan jika menunjukkan kesungguhan yang luar biasa di penutupnya. Maka, malam ke-29 sebagai kesempatan menghapus rapor merah di hari-hari sebelumnya. Malam ke-29 bukan sebagai waktu untuk bersantai menyambut lebaran, melainkan sebagai babak final yang menentukan. Mereka meyakini bahwa Allah seringkali memberikan anugerah terbesar justru di saat-saat terakhir bagi hamba yang tetap istiqomah. 


Konsep injury time dengan dua pilar di atas jika dipadukan akan menjadikan umat Islam  memiliki daya tahan spiritual yang tinggi. Saat orang lain sibuk menghadapi persiapan lebaran, ia tetap di atas sajadah karena yakin bahwa hadiah terbesar (lailatul qadar) bisa jadi disimpan Allah justru di garis finish untuk menguji siapa yang benar-benar setia hingga akhir.


Lantas, apa yang perlu dilakukan oleh umat Islam pada injury time Ramadhan di malam ke-29 itu? Merujuk pada amalan para sahabat Nabi SAW pada malam ke-29, dapat dijabarkan untuk menjadi pedoman umat Islam, yaitu: 


1. Mengakselerasi Ibadah

Para sahabat meneladani Nabi Muhammad SAW yang justru meningkatkan intensitas ibadah di penghujung ramadhan. Mereka tidak ingin layu sebelum garis finish, tetap menjaga i'tikaf di masjid, dan tidak terburu-buru pulang untuk urusan rumah tangga hingga bulan benar-benar berganti syawal.


2. Memperbanyak Doa

Berdasarkan wasiat Nabi SAW kepada Aisyah RA, amalan utama mereka adalah melantunkan doa: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni. Maknanya, mereka memohon agar Allah menghapus bersih (bukan sekadar menutupi) dosa-dosa mereka, sehingga mereka keluar dari ramadhan dalam keadaan suci.


3. Membayar zakat fitrah sebagai penambal

Para sahabat sangat teliti dalam menunaikan zakat al-fitr pada malam-malam terakhir ini. Mereka meyakini zakat ini berfungsi sebagai thaharah (pembersih) bagi puasa mereka yang mungkin ternoda oleh perkataan sia-sia atau candaan yang berlebihan selama sebulan.


4. Husnuzan dan rasa takut (khauf wa raja)

Sahabat seperti Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Mas'ud memiliki kebiasaan merenung di malam terakhir. Mereka merasa cemas apakah amalan mereka diterima (khauf) namun tetap berharap besar pada rahmat Allah (raja). Mereka sering berdoa: "Wahai Rabb, andai aku tahu siapa yang diterima amalannya agar aku bisa memberi selamat, dan siapa yang tertolak agar aku bisa menghibur hatinya."


5. Menjaga shalat isya dan subuh berjamaah

Ini adalah strategi minimum yang dijaga ketat. Ada kaul yang menyatakan bahwa siapa yang menjaga kedua shalat ini berjamaah, maka ia telah mendapatkan bagian dari malam lailatul qadar tersebut.


6. Mandi dan berhias (menyambut malaikat)

Beberapa sahabat dan tabi'in memiliki kebiasaan mandi, memakai pakaian terbaik, dan wewangian khusus di setiap malam ganjil, termasuk malam ke-29. Hal ini dilakukan untuk memuliakan malam yang mungkin dihadiri oleh para malaikat dan Jibril AS.


Dalam konsep injury time di malam ke-29 Ramadhan, umat Islam harus meyakini bahwa malam ke-29 bukan sekadar sisa waktu, melainkan kesempatan strategis yang disediakan Allah untuk menyempurnakan perjalanan spiritual. Allah menempatkan potensi lailatul qadar pada malam ke-29. 


Umat Islam yang mengisi malam ke-29 Ramadhan dalam keadaan bersujud dan beristighfar jauh lebih baik daripada menutupnya dengan kesibukan duniawi. Berdasarkan Riwayat Imam al-Baihaqi, pada malam terakhir Ramadhan, Allah membebaskan hamba-Nya dari api neraka sebanyak jumlah orang yang telah dibebaskan dari awal hingga akhir bulan.


Dengan tetap fokus di injury time, umat Islam dapat belajar untuk tidak menyia-nyiakan waktu dan tetap menghormati tamu agung Ramadhan hingga ia benar-benar melangkah pergi. Wallahu a’lam. (***)



Penulis, 

Muballigh, tinggal di Cibodasari Kota Tangerang. 

Dosen LB pada Program Pascasarjana UIN SMH Banten


Post a Comment

0 Comments