Bambang Soesatyo
(Foto: Istimewa)
Di tengah realitas tersebut, kata Bamsoet, Idul Fitri hadir sebagai ruang sosial yang mampu merajut kembali hubungan kebangsaan yang sempat terfragmentasi serta membangun kembali optimisme nasional.
“Idul Fitri harus kita maknai sebagai momentum rekonsiliasi nasional. Tradisi saling memaafkan menjadi kekuatan sosial yang mampu meredakan polarisasi dan mempererat kembali hubungan antar elemen bangsa,” ujar Bamsoet di Jakarta, pada Sabtu (21/3/2026).
Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini mengapresiasi dan mendukung pertemuan antara Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri jelang Idul Fitri. Pertemuan tersebut merupakan sinyal positif bagi rekonsiliasi nasional sekaligus konsolidasi pemerintahan saat ini. Di tengah isu konflik di Timur Tengah serta tekanan ekonomi dan geopolitik global, komunikasi antar tokoh bangsa dinilai sangat penting untuk menjaga stabilitas nasional.
"Pertemuan Presiden Prabowo dan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menjadi pesan kuat bahwa persatuan adalah kunci utama pembangunan. Ini sekaligus mempertegas bahwa stabilitas pemerintahan Prabowo-Gibran semakin solid di tengah isu konflik Timur Tengah serta tekanan ekonomi dan geopolitik dunia,” ucap Bamsoet.
Wakil Ketua KADIN Indonesia dan Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menilai pertemuan kedua tokoh bangsa tersebut turut memperkuat stabilitas pemerintahan Prabowo-Gibran di tengah berbagai tantangan global yang tidak ringan. Stabilitas politik menjadi pondasi penting dalam menjaga kepercayaan publik dan dunia usaha, sekaligus memastikan agenda pembangunan nasional dapat berjalan konsisten dan berkelanjutan.
“Pertemuan Presiden Prabowo dengan Ibu Megawati menunjukkan bahwa kepentingan bangsa berada di atas segala perbedaan. Ini menjadi pesan kuat bahwa hanya dengan persatuan, pembangunan nasional dapat berjalan optimal,” tutur Bamsoet.
Dosen Pascasarjana Universitas Borobudur, Universitas Pertahanan dan Universitas Jayabaya ini memaparkan Idul Fitri juga memiliki dimensi strategis dalam membangun optimisme nasional. Setelah melalui bulan Ramadhan yang penuh refleksi, masyarakat memasuki fase baru dengan semangat kebersamaan dan harapan. Ini menjadi modal sosial yang sangat penting dalam menjaga stabilitas dan arah pembangunan bangsa.
“Optimisme bersama yang lahir dari Idul Fitri harus dijaga dan diarahkan. Ini adalah energi sosial yang jika dikelola dengan baik dapat memperkuat persatuan dan mendorong percepatan pembangunan nasional,” jelas Bamsoet.
Ketua Dewan Pembina Perkumpulan Alumni Doktor Ilmu Hukum Universitas Padjajaran ini mengatakan optimisme tersebut perlu diimbangi dengan kebijakan yang responsif dan berpihak pada masyarakat. Tantangan seperti kesenjangan ekonomi, potensi polarisasi politik, serta disrupsi digital masih memerlukan perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan.
“Momentum Idul Fitri harus menjadi titik awal untuk memperkuat persatuan bangsa secara nyata. Pemerintah, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen bangsa perlu menjaga semangat kebersamaan ini agar menjadi kekuatan nyata dalam menghadapi berbagai tantangan bangsa ke depan,” pungkas Bamsoet. (*/pur)



0 Comments