
Ahmad Khozinudin, SH
(Foto: Ist/koleksi pribadi AK)
Oleh : Ahmad Khozinudin, S.H.
MENGUTIP pernyataan Prof Hikmahanto Juwono yang menghardik dengan ungkapan 'Bodoh', atas keputusan Indonesia yang masuk Board Of Peace pimpinan Donald Trump, saat ini penulis juga menyebut tindakan Prabowo Subianto yang mengikat Indonesia dengan dokumen Agreement of Reciprocal Trade (ART) dengan Amerika sebagai tindakan yang sangat bodoh, bahkan menyerahkan leher kedaulatan Indonesia pada Amerika.
Tindakan Prabowo Subianto ini bisa juga dikategorikan sebagai tindakan bunuh diri dalam hal kedaulatan negara, ekonomi nasional hingga keamanan dan pertahanan negara. Pasalnya, kesepakatan resiprokal perdagangan antara Indonesia dan Amerika, benar-benar merugikan Indonesia dan hanya menguntungkan Amerika.
Indonesia, hanya menyosialisasikan penurunan tarif perdagangan dari 19 persen menjadi 0 persen. Melalui kesepakatan ini, Airlangga Hartanto selaku Menko Ekonomi membuzzer prestasi dalam negosiasi.
Padahal, tarif 0 persen Indonesia - Amerika, terlalu mahal harganya karena harus dibayar dengan sejumlah komitmen yang sangat merugikan Indonesia, di antaranya:
Pertama, sebagai uang muka (porskot), Indonesia harus membayar tarif 0 persen perdagangan dengan Amerika ini melalui komitmen bergabung dengan BoP (Board Of Peace), yang substansinya mendukung penjajahan Israel atas rakyat Palestina dan mengokohkan dominasi Amerika pada kawasan Timur Tengah, bahkan harus merogoh kocek dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang berasal dari pajak rakyat sebesar US$ 1 Miliar atau setara dengan Rp 17 triliun untuk disetor kepada Donald Trump.
Belum cukup, Indonesia diminta mengirim TNI ke Gaza atas arahan dan kepentingan Amerika. Secara sadar, Indonesia telah menjadikan prajurit TNI sebagai kacung Amerika dan Israel, untuk menjaga kepentingan 2 negara agresor tersebut.
Kehadiran TNI di Gaza, bukan atas amanat dan mandat konstitusi dalam menjalankan politik bebas dan aktif untuk menciptakan perdamaian dan ketertiban dunia, melainkan menjalankan peta jalan Amerika untuk visi Israel Raya sekaligus menjadikan Indonesia taklid buta pada blok Amerika. Padahal, dalam politik luar negeri Indonesia menjalankan skema politik bebas aktif. Bukan taklid buta pada Amerika.
Belakangan, Amerika berencana membangun pangkalan militer di Gaza. Sebuah langkah nyata untuk mengokohkan dominasi dan menjaga kepentingan Amerika, dengan menjadikan TNI sebagai 'Satpam' untuk mengamankan rencana Amerika di Gaza.
Kedua, tarif 0 persen perdagangan dengan Amerika harus dibayar dengan memberikan konsesi penjajahan dan perampokan emas Indonesia di Papua oleh PT Freeport, hingga tahun 2061. Hal ini terkonfirmasi melalui Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) PT Freeport Indonesia (PTFI) yang resmi diperpanjang hingga tahun 2061.
Semestinya, Indonesia menasionalisasi tambang emas PT Freeport. Tidak perlu berdagang dengan Amerika dengan tarif 0 persen, karena mengambil alih emas Papua jauh lebih menguntungkan ketimbang berdagang dengan Amerika bertarif 0 persen.
Ketiga, kesalahan Prabowo Subianto yang paling fatal dan dapat disebut sebagai tindakan bodoh sekaligus menyerahkan kedaulatan Indonesia kepada Amerika, adalah ketika Prabowo memenuhi 217 kewajiban. Sementara Amerika hanya perlu memenuhi 6 kewajiban, benar-benar tidak fair.
Celakanya, salah satu poin krusial yang harus ditaati Indonesia adalah RI Wajib Ikut jika AS Boikot Negara Lain yang ditetapkan Amerika. Ini sama saja, Amerika membuat NATO ekonomi (Pakta Pertahanan Ekonomi), untuk kepentingan Amerika dimana Amerika selain bisa seenak udelnya memboikot atau mengembargo ekonomi suatu negara, Indonesia juga diwajibkan ikut kebijakan boikot Amerika.
Indonesia benar-benar tak memiliki kemandirian ekonomi dan politik. Mengingat, kebijakan embargo suatu negara itu harus didasarkan pada kepentingan nasional Indonesia, bukan karena taklid pada kebijakan Amerika.
Dampak politik yang paling parah dan menjadikan Indonesia kehilangan kedaulatan sebagai institusi Negara, dapat disimpulkan Prabowo Subianto telah menjadikan Indonesia sebagai negara bagian Amerika ke-51, dimana untuk urusan kebijakan luar negeri (baik ekonomi dan politik), Indonesia harus tunduk pada pemerintahan federal Amerika.
Prabowo telah menyerahkan leher Indonesia kepada Amerika. Namun, saat yang sama Prabowo justru mengajak rakyat Indonesia agar ikut taklid buta memuji Amerika. Sejatinya, Prabowo Subianto telah berkhianat pada amanat konstitusi dan para founding fathers. (***)
Penulis adalah Advokat & Aktivis



0 Comments