![]() |
| Dr. H. Susari, M.A. (Foto: dokumen/TangerangNet.Com) |
Oleh: Dr. H. Susari, M.A.
DUNIA kini sedang menghadapi tantangan yang sangat berarti dalam berbagai aspeknya. Tantangan ini apabila tidak diantisipasi akan mengikis tatanan kehidupan manusia. Tantangan tersebut muncul setidaknya dipengaruhi dua hal yaitu oleh globalisasi dan modernisasi.
Globalisasi membawa arus budaya asing yang sering kali memicu budaya konsumerisme dan hedonisme. Hal ini menyebabkan terjadinya pergeseran identitas dan nilai, serta dan menipisnya kesadaran akan nilai-nilai luhur bangsa, seperti munculnya fenomena egoisme (selshness) dan hilangnya orientasi atau tujuan hidup (purposelessness).
Disisi lain, perkembangan teknologi digital menghadirkan tantangan baru berupa rendahnya etika komunikasi, maraknya penyebaran hoaks, disinformasi, serta ujaran kebencian yang dapat merusak kerukunan antarumat manusia yang dapat merusak tatanan kehidupan sosial dan stabilitas nasional. Agama sebagai sumber nilai absolut hadir memberikan arah dan standar baik-buruk yang kokoh dalam melakukan rekonstruksi sesuai dengan ajaran agama. Rekonstruksi diperlukan untuk mengintegrasikan kembali nilai-nilai spiritual dalam kehidupan
masyarakat.
Momentum Ramadhan menjadi penting untuk kebutuhan itu. Puasa pada bulan Ramadhan memberikan pelajaran yang mendalam guna melakukan perbaikan tatanan kehidupan sosial dan mengintegrasikan nilai-nilai agama dalam kehidupan, sebagai upaya untuk melakukan
rekonstruksi sosial.
Ibnu Abbas RA berkata: Rasulullah SAW adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi saat bulan Ramadhan. Dalam sebuah hadits lain juga disebutkan bahwa Nabi menganjurkan umatnya untuk memberi hidangan berbuka (takjil) bagi orang yang berpuasa, karena pahalanya sama dengan orang yang berpuasa tersebut tanpa
mengurangi pahala mereka sedikit pun.
Kedua keterangan di atas menunjukan bahwa puasa di bulan Ramadhan ini sangat erat dengan upaya memperkuat solidaritas dan kepekaan sosial pada era modern. Kepekaan sosial pada era modern merupakan kemampuan strategis untuk memahami dan merespons isyarat sosial serta kebutuhan orang lain dalam lingkungan yang semakin digitalis dan individualis. Kepekaan sosial juga membantu menghargai perbedaan dan memperkuat solidaritas di tengah gaya hidup yang komperatif, sehingga menciptakan lingkungan yang lebih damai.
Dalam ajaran Islam, puasa artinya al-Imsak, yang berarti menahan. Secara esensial, puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus secara fisik, melainkan sebuah latihan spritual yang mendalam untuk mengendalikan nafsu, emosi, dan ego guna mencapai derajat ketakwaan. Dalam haditsnya Nabi Muhammad SAW bersabda: Puasa adalah perisai. Maka janganlah berkata kotor dan janganlah berbuat jahil (melakukan tindakan bodoh). Jika ada orang yang memeranginya atau mencacinya, hendaknya berkata: “Sesungguhnya aku sedang berpuasa”.
Puasa mengajarkan kepada umat Islam untuk menahan diri dari keinginan yang dapat merusak keimanan. Ajaran ini sangat relevan di tengah arus modernitas yang cenderung mengutamakan efisiensi dan hasil material di atas nilai-nilai kemanusiaan. Modernitas juga melahirkan objektifikasi terhadap alam yang memisahkan manusia dengan alam dan memperlakukan alam sebagai objek eksploitasi, yang berujung pada krisis skologi yang melahirkan bencana alam seperti yang kita saksikan beberapa hari terakhir.
Kepekaan sosial dan kemampuan manusia mengendalikan diri yang merupakan esensial ibadah puasa pada bulan Ramadhan sangat penting dan sangat kontekstual untuk kebutuhan melakukan rekonstruksi sosial. Nabi Muhammad SAW menekankan pentingnya mentransformasikan ibadah puasa menjadi bukan sekadar ibadah ritual menahan lapar dan haus, namun menjadi instrumen transformasi pembentukan karakter dan solidaritas komunal dan kepekaan sosial untuk menyempurnakan akhlak.
Dengan kata lain, transformasi ibadah puasa dapat digambarkan sebagai berikut.
Puasa membangun empati, kepekaan dan kesetaraan sosial.
Hal tersebut terwujud dimana pada saat berpuasa, kaya maupun miskin berada dalam kondisi lapar yang sama, sehingga menumbuhkan kesadaran kolektif untuk membangun empati, kepekaan dan kesetaraan sosial.
2. Memperkuat kohesi dan persaudaraan (Ukhuwah)
Ibadah puasa digunakan sebagai momentum untuk mempererat ikatan antarindividu, bahwa siapa pun yang memberi makan orang berbuka akan mendapat pahala yang sama, yang mendorong terciptanya budaya berbagi makanan (iftar) secara massal. Demikian halnya aktivitas shalat tarawih berjamaah di masjid menjadi sarana interaksi sosial yang memperkuat persatuan umat ditengah masyarakat yang heterogen.
3. Pengendalian diri sebagai pilar tatanan kehidupan sosial
Puasa melatih kesabaran dan pengendalian diri, manusia berpuasa harus menundukkan hawa nafsu akan kehidupan duniawi sehingga orientasi hidupnya hanya kembali pada ketaatan kepada Tuhan dan nilai kemanusiaan. Pengendalian diri (self-control) merupakan pilar penting dalam kehidupan sosial karena menjadi fondasi bagi terciptanya keharmonisan, kerja sama, dan ketertiban dalam masyarakat. Tanpa kemampuan mengelola impuls pribadi, interaksi antarindividu cenderung rentan terhadap kon4ik dan perilaku yang merugikan orang lain, lingkungan, dan alam sekitar.
Dengan penguatan dimensi sosial ibadah puasa ini umat Islam diharapkan menjadi pionir dalam melakukan rekonstruksi sosial untuk mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin, dan menjalan misi Nabi Muhammad Saw untuk menyempurnakan akhlak manusia. (***)
Penulis, Muballigh, tinggal di Cibodasari, Kota Tangerang.
Dosen Pascasarjana UIN SMH Banten




0 Comments