![]() |
| Gubernur Banten Andra Soni berbincang dengan pelajar Sekolah Rakyat. (Foto: Istimewa) |
Andra Soni mengatakan pada Masa Pengenalan Lingkungan
Sekolah (MPLS) Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 33 Kota Tangerang Selatan di
Jalan Kencana I No.20, Jelupang, Serpong Utara, Kamis (14/8/2025).
SRMA 33 merupakan salah satu dari dua sekolah rakyat jenjang
SMA di Provinsi Banten, selain SRMA 34 di Kabupaten Lebak. Sekolah rakyat
merupakan gagasan dan strategi Presiden RI Prabowo Subianto untuk memutus mata
rantai kemiskinan melalui penyediaan akses pendidikan gratis dan berkualitas
bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem Program ini secara
khusus menyasar anak-anak dari keluarga tidak mampu yang tercatat dalam Data
Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) Desil satu dan dua.
“Sekolah ini hadir sebagai bentuk kepedulian pemerintah,
khususnya dari Bapak Prabowo, untuk memberikan kesempatan pendidikan layak bagi
anak-anak dari keluarga kurang mampu,” ujar Andra Soni.
Andra Soni menjelaskan fasilitas yang disiapkan untuk siswa,
mulai dari delapan stel seragam, perlengkapan pendidikan, laptop untuk setiap
anak, hingga tiga kali makan dan dua kali snack setiap hari.
“Orang tua jangan khawatir, semua kebutuhan anak di sekolah
ini ditanggung. Tugas kita memberi semangat agar mereka berani bermimpi,” tuturnya.
Peran strategis pendidikan dalam memutus rantai kemiskinan,
kata Andara. Kepada semua pihak untuk bergandengan tangan dalam menyukseskan
program Sekolah Rakyat.
“Pemerintah pusat, daerah, TNI, Polri serta masyarakat harus
bersama-sama bergandengan tangan demi kesuksesan program ini,” ungkapnya.
Andra Soni optimistis sekolah rakyat akan menjadi lumbung
lahirnya generasi unggul. “Saya ingin dari sini lahir dokter, guru, perwira,
kepala daerah, bahkan gubernur. Semua itu dimulai dari pendidikan,” katanya.
Sebagai informasi saat ini SMRA 33 menampung 150 siswa
dengan dukungan tenaga pendidik dan pengasuh asrama yang berdedikasi tinggi.
Salah satu orang tua siswa, Subhan, mengaku tak kuasa
menahan haru ketika putrinya, Dewi Asih, diterima di SRMA 33.
“Awalnya, saya pikir mustahil anak saya bisa mengejar
cita-cita jadi dokter karena keterbatasan biaya. Tapi Allah membuka jalan lewat
tim PKH yang menawarkan sekolah ini. Semua fasilitasnya lengkap, makan
terjamin, asrama aman, dan anak-anak dibimbing penuh. Saya sangat bersyukur dan
berterima kasih kepada pemerintah,” ucapnya.
Ketua Pokja Kepesertaan Direktorat Jaminan Sosial Kemensos
RI Risna Kusumaningrum menjelaskan sekolah
rakyat dirancang tidak hanya untuk mengasah kemampuan akademik, tetapi juga
membentuk karakter disiplin dan kemandirian.
“Ada wali asuh dan wali asrama yang mendampingi anak-anak
secara penuh,” ujarnya. (*/pur)




0 Comments