Pengacara WH: Gubernur Berkomitmen Kuat Berantas Korupsi Di Banten

Baca Juga

Agus Setiawan, Pengacara Gubernur Banten. 
(Foto: Istimewa) 




NET – Penasihat hukum Gubernur Banten H. Wahidin Halim, Agus Setiawan mengatakan Gubernur Banten sangat mencintai kyai. Agus Setiawan mengatakan Gubernur Banten tidak mungkin korupsi,
bahkan Gubernur ikut melaporkan dugaan pemotongan dana pondok pesantren (Ponpes) oleh oknum.

"Gubernur sangat mencintai kyai, tidak mungkin Gubernur mengorupsi dana pesantren. Justru Gubernur yang melaporkan atas dugaan pemotongan dana pesantren oleh oknum," ujar Agus Setiawan pada dikusi publik di House Of Salbai, Kota Serang, Rabu (26/5/2021).

Agus mengatakan ketika pegiat Anti Korupsi Uday Suhada menggaungkan semangat anti korupsi di Banten, Gubernur memerintahkan kepadanya selaku pengacara Gubernur.

"Dan begitu Uday Suhada meminta tegakkan hukum setegak-tegaknya. Itu yang diperintahkan kepada saya, penuhi segala kebutuhan yang diperlukan oleh kejaksaan dalam penyelidikan terutama terkait dokumentasi pemberkasan dan lain sebagainya,"tutur Agus.

Agus Setiawan mengatakan program hibah pondok pesantren merupakan penjabaran visi dan misi yang dituangkan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah dan Panjang Daerah (RPJMD) Provinsi Banten tahun 2017-2022.

"Hibah diprogramkan bukan hanya karena kecintaan terhadap kyai, tetapi ada amanat RPJMD, sesuatu niat baik tidak mungkin untuk disengajakan menimbulkan kesalahan yang disadari," ucap Agus.

Agus menjelaskan tentang  tugas dan fungsi Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dalam pengelolaan dana hibah khsususnya mengenai Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD) serta hal yang dilakukan oleh Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD).

"Bahwa NPHD itu adalah dinas atau OPD bukan Sekda, bahwa ketua TAPD itu Sekda, dari rekomendasi dibuat oleh Kepala Biro dan perangkat OPD kemudian disajikan kepada forum TAPD yang kemudian sebagai alat pertimbangan gubernur," ujar Agus.

"Jadi sampai rekomendasi itu mutlak urusan yang harus dilaksanakan oleh Biro Kesra. Setelah itu Biro Kesra membuat laporan untuk dijadikan alat rapat di TAPD. Lalu TAPD kemudian menyampaikan kepada Gubernur, di situlah baru Gubernur menilai apakah sudah lengkap semuanya," tuturnya.

Agus menjelaskan letak benturan persoalan pada kasus hibah ponpes di Pemprov Banten.

"Bahwa ayo kita lihat dulu prosesnya dan jangan halu, karena Gubernur perintahnya jelas. Sebetulnya gampang saja itu OPD, peraturan Gubernur kemudian diambil peraturan teknisnya dan OPD bersifat wajib membetuk tim evaluasi dan monitoring, maka selamat itu ASN dari pelanggaran penyelenggaraan," ujarnya.

"Saya ingin menyampaikan para kyai dan khalayak bahwa komitmen pemberantasan korupsi seorang Gubernur Banten Wahidin Halim itu sangat luar biasa kuat. Dia ingin menciptakan suatu pemerintahan yang bersih, hubungan beliau dengan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi-red) juga sangat luar biasa banyak bantuan-bantuan teknis yang dimintakan khusus oleh Gubernur," ucapnya. (*/pur)

Post a Comment

0 Comments