Berita Terkini

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

AS-Israel Hancur, Indonesia Terkubur

Ilustrasi, bendera Republik Islam Iran. 
(Foto: Istimewa)  



Oleh: DR. Masri Sitanggang




PETA politik dan kekuatan militer global berubah. Amerika Serikat (AS) dan Israel kehilangan daya tawar, apalagi kekuatan memaksa. Dunia Islam bergeliat, tapi Pemerintah Indonesia kehilangan muka.


AS dan Israel shock berat. Dikira, dengan membunuh pemimpin tertinggi, Ali Khamenei, dan sejumlah petinggi militer melalui operasi Epic Fury  (AS) dan Lion’s Roar (Israel) yang dilancarkan –Sabtu pagi 28 Februari 2026 pukul 09.40, itu akan melumpuhkan Iran. Trump sesumbar mengatakan, dalam 4 hari Iran akan bertekuk lutut.


Ternyata salah besar. Tidak sampai 12 jam setelah operasi massif militer gabungan AS-Israel itu, Iran langsung merespon dengan gelombang serangan yang tidak terduga. Ribuan drone dan rudal diluncurkan ke Israel dan pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah. Iran memenuhi sumpahnya, yakni: akan menghancurkan semua pangkalan militer AS di Timur Tengah jika AS menyerang Iran. Iran bahkan siap untuk perang jangka panjang. Rantai kepemimpinan dan sistem komando di Iran ternyata sudah kokoh. Maka, tewasnya Ali Khamenei tidak berarti apa-apa kecuali menambah bahan bakar melawan aggressor.


Inilah pengalaman terpahit dalam Sejarah AS sebagai negara Super Power. Belasan instalasi militernya --di Kuwait, Qatar, Saudi Arabia, Oman, Uni Emirat Arab, Yordan, Iraq– yang selama ini menjadi simbol dominasi mengendalikan dunia, khususnya di Timur Tengah, hancur bersamaan dalam bilangan menit. Bersama dengan itu ada 560 tentara tewas atau terluka. Yang sangat menyakitkan, itu cuma dilakukan oleh satu negara: Iran. Negara “miskin” yang telah diembargo total selama 47 tahun. 


Iran melancarkan serangan balasan –yang disebutnya sebagai Operasi Janji Sejati 4 ( Operation True Promise 4 ), gelombang demi gelombang dengan intensitas dan kualitas yang terus meningkat. Hingga Senin 6 April 2026 (38 hari perang), sudah 98 gelombang ditunaikan. Pusat Komando dan Kendali Utama Angkatan Udara Israel di menara IAF, diratakan dengan tanah. 


Markas Besar Mossad Hancur dan menewaskan Kepala Mossad, David Barnea. Bungker-bungker, termasuk bungker terkokoh tempat persembunyian para petinggi Israel serta bungker pusat intelijen di kawasan Glilot yang selama ini sangat rahasia dan paling aman, jebol dan mengubur seribuan jasad personel intelijen di dalamnya. 


Fasilitas nuklir Dimona juga dihujani rudal dan drone menimbulkan kerusakan gedung pemerintahan dan pembangkit Listrik, fasilitas minyak dan gas hancur berantakan. Israel darurat energi. Kilang minyak di Haifa, yang menyuplai 60 persen kebutuhan energi dalam negeri, hangus terbakar. Begitu juga kilang minyak Ashdod. Di awal April ini, Iran menghancurkan pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi yang terhubung dengan kawasan industri strategis di Israel. Kota megah dan indah Tel Aviv, yang tidak pernah sepi dari berbagai aktivitas, kini menjadi belantara puing-puing gedung. 


Penghuninya sudah merasakan pedihnya penderitaan rakyat di Gaza: tidak ada rumah tempat berteduh, tidak ada air untuk cuci-mandi dan minum, tidak ada penerangan dan tidak ada makanan.  Bungker-bungker yang masih tersisa, tempat mereka bersembunyi, sudah beraroma busuk karena tumpukan limbah manusia. 


Singkatnya, tidak ada lagi tempat yang aman di Israel. Rakyat berbondong-bondong mengungsi ke perbukitan, bukan lagi ke bungker. Banyak pula yang lari ke Cyprus dan negara lain dengan kapal laut. Bukan dengan pesawat, karena bandara-bandara di Israel juga kopak-kapik dibuat Iran. Bandara terbesar Israel, Ben Gurion, misalnya, hancur dihantam rudal Khaibar Shekan, menewaskan 4 ribu pasukan. Sebahagian besarnya adalah pasukan AS yang baru mendarat untuk penempatan membantu Israel. 


Instalasi-instalasi canggih militer AS di Israel berubah jadi barang rongsokan. Beberapa kantor kedutaannya di Timur Tengah luluh lantak. Pasukan yang masih hidup terpaksa diungsikan ke Jerman. Radar-radar canggih yang menjadikan AS selama ini penguasa di udara hancur tak berguna. 


Di antaranya:  Radar AN/TPY-2 –radar yang khusus dirancang untuk mendeteksi, melacak, dan mengklasifikasi rudal balistik musuh dengan tingkat akurasi sangat tinggi, berbiaya lebih $300 juta– di Yordania hancur; radar Early-Warning AN/FPS-132 –merupakan tulang punggung pertahanan rudal global AS Serikat senilai $1 miliar,  di Pangkalan Al-Udeid, Qatar, kopak-kapik.  


Kapal-kapal perangnya pun, termasuk Kapal Induk Abraham Lincoln –yang jadi simbol kejayaan AS di laut, USS Gerald Ford –kapal induk nuklir terbesar di dunia berharga triliunan dolar AS, terpaksa melarikan diri karena terbakar dihantam rudal dan Drone Kamikaze. Terbaru, Kapal Induk USS Tripoli dirudal Iran pada gelombang ke-98. Lain dari itu, Setidaknya tiga kapal tanker rusak/tenggelam dan beberapa kapal kargo dan kontainer lainnya terbakar di beberapa lokasi.


Di Udara, sedikitnya 20 unit pesawat AS dari berbagai jenis, ditembak jatuh atau hancur. Ini merupakan penyumbang kerugian terbesar bagi pasukan koalisi AS-Israel. Yang hampir tidak bisa dipercaya, Iran mampu merudal jet tempur F-35 –pesawat siluman andalan AS yang belum ada tandingannya di dunia.  Ini betul-betul pukulan besar. Belum pernah ada negara yang melakukan hal semacam ini terhadap AS kecuali Iran. Dikabarkan pula, sedikitnya sudah 173 tentaranya yang menginfiltrasi untuk serangan darat, ditawan pasukan penjaga perbatasan Iran. 


Kesombongan AS dan Israel memang sudah berada di luar akal sehat. Mereka meremehkan semua negara di dunia kecuali, mungkin, China dan Rusia. Sejak AS menjatuhkan bom Atom di Hiroshima-Nagasaki, tahun 1945, dan Israel berdiri tahun 1948, “koalisi” dua negara ini bebas melakukan apa saja terhadap negara lain : menginvasi dan menguasai, mengganti pemimpin dan merampok kekayaan alamnya. Tidak kurang dari 15 negara yang sudah mereka perlakukan seperti itu, termasuk  di dalamnya Iraq, Libya dan terakhir –dengan mengerahkan Delta Force, menculik Presiden Venezuela Nicolás Maduro, dengan tuduhan terlibat narkoterorisme international. Tak ada kekuatan yang menghalangi. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun tak berdaya sementara negara di Eropa ada dibawah pengaruhnya. 


Iran yang telah diisolir selama 47 tahun dan nilai tukar mata uangnya (dibanding dolar AS) terendah di dunia, tentulah sepele di mata AS dan Israel. Karenanya Trump percaya, dalam empat hari serangan massif, Iran akan bertekuk lutut. Sistem pertahanan rudal mereka –Patriot, Arrow, Iron Dome dan system radar canggih— diyakini akan mudah menangkal rudal Iran. Tapi salah besar. Iran sudah memproduksi rudal super canggih yang kemampuannya jauh melampaui sistem pertahanan rudal andalan AS-Israel itu.


AS-Israel tercengang-cengang menyaksikan rudal-rudal Iran bekerja menghancurkan sasarannya. Fattah I dan 2, Khorramshahr yang dijuluki “Khaibar”, Emad, rudal Sijjil dan rudal-rudal balistik presisi tinggi Iran lainya melesat dengan kecepatan sekitar 13 hingga 15 kali kecepatan suara. Hebatnya lagi, rudal-rudal ini mampu meliuk-liuk mengubah lintasannya di atmosfer, menghindari tumbukan dengan rudal pencegat, tapi tetap fokus sasaran. 


Daya hancur rudal-rudal ini sangat dahsyat. Kecepatan hypersonic -nya, menghasilkan energi kinetik yang luar biasa, setara dengan gempa bumi berkekuatan 7 magnitudo. Mampu menghancurkan struktur beton bertulang 10 lantai di bawah tanah dalam hitungan detik. Sistem pertahanan rudal AS-Israel yang selama ini dibanggakan, tiba-tiba jadi out of date, ketinggalan zaman. Sistem pertahanan AS-Israel itu tak mampu mencegat rudal-rudal Iran karena kalah cepat dan radar tidak dapat memerediksi lintasannya. 


Hebatnya lagi, untuk mengacaukan pembacaan sistem radar AS-Israel, Iran menyertakan ribuan drone pembom Kamikaze Shahed dalam setiap gelombang serangannya. Drone berbiaya sangat murah, cuma 20 sampai 30 ribu US dolar per unit dan dapat diproduksi dengan cepat. Tapi untuk mencegat satu drone ini, diperlukan satu rudal Iron Dome yang harganya jutaan dolar US dan memakan waktu lama untuk memproduksinya. Bagaimana AS dan Israel tidak frustasi? Dicegat, berarti menguras logistik. Begitu pun, tak mungkin ribuan drone itu tercegat semua. Dipastikan lebih separuhnya akan mendarat pada sasarannya. Tetapi bila tidak dicegat, berarti membiarkan maut menjemput lebih banyak korban.


Perang ternyata tidak sekadar penguasaan teknologi persenjataan –seperti yang dibanggakan Israel selama ini, dan melimpahnya logistik –seperti yang disombongkan AS. Perang ternyata juga adalah soal kecerdasan, strategi menguras logistik lawan. Itulah yang ditunjukkan Iran. 


Sementara itu, gelombang protes di AS kian menghebat.  Sepuluhan juta massa penuhi jalan-jalan di seluruh kota di AS, menuntut  perang dihentikan, stop bela Israel dan lengserkan Trump.  “No war for Israel”, “No King” begitu bunyi poster-posternya. “Tidak ada perang demi Israel”, “Tidak Ada Raja” atau Trump bukan raja. 


Direktur Pusat Kontra Terorisme AS, Joe Kent, protes dengan cara mengundurkan diri pertengahan Maret 2026, mendesak Trump menghentikan agresi dan menyebut perang dengan Iran sebagai jebakan lobi Israel. Sementara itu, 9 pejabat tinggi AS dipecat –termasuk Jendral Randy George (Kastaf Angkatan Darat AS), Pam Bondi (Jaksa Agung, Kristi Noem (Menteri Keamanan Dalam Negeri) karena tidak sejalan dengan visi Trump. 


Sejumlah anggota Kongres mengecam keras Trump. Dewan Perwakilan Rakyat telah menyetujui melengserkan Trump. Nasib Trump tinggal menunggu persetujuan Kongres. Di saat yang sama, ramai-ramai tentera AS menolak ditugaskan berperang melawan Iran. Massa demonstran justeru mengibarkan bendera Iran dan menyerukan agar Trump ditangkap.  Pentagon, Markas Pertahanan AS –setelah menilai hari-hari awal serangan Iran, sebenarnya telah mengingatkan bahwa AS hanya mampu bertahan 10 hari saja. AS akan kehabisan logistik. 


Ekonomi AS menukik tajam. Menurut Senate Armed Service Committe AS, biaya operasional AS sebesar $ 1 milyar perhari atau sekitar Rp 17 Triliun. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menambah parah keadaan. Harga bensin sebelum perang cuma 2 dollar, sekarang sudah mencapai lebih 8 dolar per liter. Rakyat merasa semakin tercekik.


Donald Trump mencoba menggunakan isu penutupan Selat Hormuz untuk memengaruhi Fakta Pertahanan Atlantik Utara, NATO, dan sekutunya di Asia agar bersedia membantu melawan Iran. Sialnya, tak satu pun yang bersedia.  Bahkan sekutu terdekatnya seperti Inggris, Prancis, Italia, Spanyol dan Jerman pun menolak dengan kata-kata yang menyakitkan. Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, dengan tegas mengatakan : "Ini bukan perang kami. Kami tidak memulainya." Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, bahkan tegas mengatakan: “Perang ini bukan milik Eropa.” Kanselir Jerman, Friedrich Merz menegaskan lagi : “NATO adalah aliansi pertahanan wilayah, bukan aliansi untuk intervensi militer di luar wilayah anggotanya.”


Sebaliknya, Iran. Rakyatnya memberikan dukungan penuh pada pemerintah untuk menghabisi setan kecil Israel dan si setan besar AS. Keteguhan membela perjuangan Palestina selama ini dan keberaniannya melawan agresi Israel dan AS, melahirkan simpati para pecinta perdamaian dan kemanusiaan seluruh dunia. Juga tak kalah pentingnya adalah, membangunkan kesadaran ummat Islam.


Banyak ulama dan pemimpin Islam kemudian menyerukan persatuan ummat tanpa melihat Sunni dan Syiah. Disadari bahwa konflik Sunni-Syiah selama ini adalah upaya pihak pembenci Islam, termasuk Israel dan pemimpin Barat seperti Trump, untuk memecah belah, melemahkan dan menguasai negara-negara Islam. Seruan ini jelas merupakan dukungan terhadap Iran. Beberapa negara muslim sudah menyatakan akan bergabung dengan Iran jika perang darat dimulai. Presiden Chechnya, Ramzan Kadyrov, dikabarkan sudah mempersiapkan pasukan ke Iran.


Di sisi lain, perang ini menyadarkan negara-negara Arab bahwa AS ternyata tidak sehebat yang dipropagandakan selama ini. Bahkan melindungi fasilitas militernya sendiri pun tidak mampu, konon pula ingin melindungi negara-negara Arab. Karena itu, keberadaannnya di negara Arab dinilai tidak penting. Itulah sebabnya, rakyat Yordania, Kuwait, Iraq dan Bahrein berduyun-duyun unjuk rasa menuntut pemerintahnya mengusir tentara AS dari negeri mereka.


Untuk menyelamatkan muka, Trump membujuk negara-negara Eropa untuk bersedia mendesak Iran agar mau gencatan senjata. Menurut pejabat tinggi Iran, setidaknya sudah tiga kali Iran mendapat tawaran semacam itu. Entahlah, apakah Presiden RI Prabowo Subianto ikut juga menawarkan. Tapi yang pasti, Iran menolak. Kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi: “Kami tidak memulai perang, kami diserang, maka biarkanlah kami yang menentukan kapan akan berakhir.” 


Pejabat tinggi militer Iran menambahkan: “Perang ini belum mencapai tujuannya.” Lalu beredar syarat yang diajukan Iran jika perang harus berakhir. Semua syarat itu harus disetujui AS sebagai negara kalah perang.  Trump tampak semakin panik. Tanpa rasa malu, seperti juga Benyamin Netanyahu, ia menuntut tanggung jawab PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) untuk menjalankan missi perdamain, menghentikan perang yang ia ciptakan sendiri. 


Peta kekuatan politik dan militer global, khususnya di Timur Tengah, telah berubah. Iran muncul sebagai kekuatan baru yang menentukan. Israel dan AS –yang selama ini berbuat sekehendaknya, kehilangan daya tawar, apalagi kekuatan memaksa.  Ini memberi angin segar buat perdamain Timur Tengah. Palestina dipastikan segera merdeka, tanpa peran apa pun dari pemerintah Indonesia. 

Sebab, pemerintah Indonesia sudah terkubur bersama Board Of Peace buatan Trump dan Netanyahu yang hancur. Presiden Prabowo sepertinya tidak sadar bahwa sesungguhnya ia sedang menumpangi Kapal besar yang bocor. Pemerintah Indonesia –yang mengagumi AS dan mengutamakan keamanan Israel, sudah kehilangan muka di Dunia Islam, khususnya bicara soal Palestina merdeka. (***)




Wallahu a’lam bishawab. 

Medan, 6 April 2026


(Dalam bentuk narasi, artikel ini dihapus oleh Youtube)


Post a Comment

0 Comments