Berita Terkini

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Trump, Jokowi, Perang Iran Dan Kasus Ijazah Palsu: Semangat Memulai, Bingung Mengakhiri

Ahmad Khozinudin. 
(Foto: Dokumen TangerangNet.Com)  


 Oleh: Ahmad Khozinudin, S.H.

 



BISA dikatakan, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memiliki nasib yang sama dengan Joko Widodo (Jokowi), Presiden Republik Indonesia kletujuh. Sama-sama kebingungan untuk mengakhiri, walaupun awalnya begitu bersemangat untuk memulai. 


Keduanya, hanya berbeda dalam objek kebingungan. Trump kebingungan mengakhiri perang dengan Iran, sedangkan Jokowi kebingungan mengakhiri polemik ijazah palsu yang dilaporkan ke polisi tanggal 30 April 2025, tahun lalu.


Hari ini, Trump tidak mampu mencapai satu pun target perang. Bahkan, menambah masalah baru.


Trump tak mampu memaksa Iran menghentikan kegiatan pengayaan uranium yang diklaim untuk pengembangan senjata nuklir. Sekarang, Trump menambah masalah dengan blokade selat Hormuz, yang sebelum perang terbuka bagi seluruh negara termasuk Amerika.


Trump, terlalu underestimate terhadap Iran. Trump, menganggap Iran sama dengan Venezuela. 


Saat ini, Trump kebingungan mengakhiri perang. Predikat Amerika Serikat (AS) sebagai 'Super Power' kini menjadi 'Super Looser'. Negara yang sebelumnya disebut 'adidaya' kini menjadi negara 'tak berdaya'.


Bukan hanya tak mampu membuka selat Hormuz apalagi menghentikan program nuklir Iran. Trump, bahkan tak mampu mengajak sekutunya, baik di NATO atau sejumlah negara satelit Amerika, untuk bergabung dengan Amerika. Trump, menjadikan Amerika negara lumpuh, sehingga harus merengek negara di dunia, untuk membantu Amerika membuka blokade selat Hormuz.


Karena putus asa tak bisa membuka blokade, Trump akhirnya menutup selat Hormuz. Kalau kapal Amerika tidak bisa lewat, kapal negara lain pun tak boleh lewat. Tiji tibeh, mati siji mati Kabeh (mati satu, mati semua).


Faktanya, blokade Amerika terhadap selat Hormuz sangat ringkih. Kapal China bisa melenggang bebas melintasi selat Hormuz.


Trump kebingungan. Melanjutkan perang, itu sama saja mengantarkan mayat tentara Amerika ke Iran, sekaligus menambah jatuh reputasi Amerika di dunia internasional. 


Menghentikan perang, sama saja harus siap pasang muka badak, menanggung aib untuk seluruh rakyat Amerika. Negara adidaya, telah berubah menjadi negara tak berdaya.


Satu-satunya jalan keluar bagi Amerika, adalah memakzulkan Trump, menarik mundur pasukan dan menghentikan perang Iran. Untuk obat malu, klaim saja kebijakan perang adalah keputusan Trump. Bukan keputusan rakyat Amerika.


Soal reputasi? Ya tak bisa diselamatkan. Tapi, setidaknya tidak terlalu buruk ketimbang melanjutkan perang Amerika bersama Trump.


Adapun kebingungan Jokowi, dia mengalami dilema. Mencabut laporan, malu karena dianggap pecundang dan kalah. Melanjutkan ke proses sidang, khawatir ketahuan ijazahnya palsu di pengadilan.


Tanpa ditunjukan saja, keyakinan publik sudah meluas menyebut ijazahnya palsu. Apalagi, diteruskan via persidangan. Selain akan makin meyakinkan ijazah palsu, juga akan memakan banyak korban, khususnya UGM (Universitas Gadjah Mada). Kampus ini, akan dikuliti habis di persidangan soal proses masuk hingga keluarnya 'ijazah' yang diklaim asli.


Mau menyelesaikan damai dengan Roy Suryo CS, yang bisa ditekan dan dirayu hanya ES, DHL dan RHS. Tidak melegitimasi penghentian perkara karena perdamaian.


Paling, harapan terakhir minta tolong kekuasaan. Baik melalui Deponering atau Abolisi Presiden.


Jokowi salah perhitungan. Underestimate. Dikira, Roy CS seperti Bambang Tri yang mudah dikandangkan.


Jokowi terjepit. Maju kena, mundur kena, diam pun juga kena. Bahkan, kematian pun tak mampu menyelamatkan dirinya dari kasus ijazah palsu. Sebab, di pengadilan akhirat kelak, telah menunggu banyak tuntutan rakyat yang akan mengadili dirinya, yang telah berbuat zalim selama dua periode menjadi Presiden R.I. (***)



Penulis adalah Advokat dan Koordinator Non Litigasi Tim Advokasi Anti Kriminalisasi Akademisi & Aktivis.



Post a Comment

0 Comments