| Dr. H. Susari, MA (Foto: Ist/koleksi pribadi Ssr) |
Oleh: Dr. H. Susari, M.A.
DALAM wacana modern, bencana alam kerap dipahami sebatas fenomena geofisika—pergeseran lempeng tektonik, anomali iklim, atau akumulasi material vulkanik. Namun, ketika sains modern membedah mekanisme fisik di balik bencana, perspektif tasawuf, menembus lapisan lahiriah tersebut untuk membaca makna hakiki di baliknya.
Tasawuf tidak menafikan hukum alam (sunnatullah), melainkan memandangnya sebagai manifestasi kehendak dan keagungan Tuhan. Alam semesta bukanlah benda mati yang netral, melainkan entitas yang bernapas, bertasbih, dan bertautan erat dengan kualitas rohani manusia.
A. Bencana Alam dalam Al-Qur'an dan Keterlibatan Perbuatan Manusia
Al-Qur'an menggunakan beberapa idiom untuk menggambarkan bencana dan musibah, seperti azab (siksaan), fitnah (ujian yang menyaring), bala' (cobaan), dan musibah (sesuatu yang menimpa). Secara teologis, Al-Qur'an menegaskan bahwa dinamika alam memiliki hubungan kausalitas langsung dengan perilaku moral dan spiritual manusia.
Salah satu landasan utama dalam memahami kerusakan lingkungan adalah firman Allah SWT:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum [30]: 41)
Ayat ini menegaskan dua hal krusial:
1. Prinsip Kausalitas Moral-Ekologis: Kerusakan fisik alam merupakan cerminan dari kerusakan moral dan spiritual jiwa manusia.
2. Tujuan Pedagogis (Liyudziqohum): Bencana bukanlah bentuk dendam Tuhan, melainkan feedback loop (umpan balik) yang dirancang agar manusia sadar (la'allahum yarji'un) dan menghentikan kezalimannya.
Pesan serupa ditegaskan dalam QS. Ash-Syura [42]: 30, bahwa musibah apa pun yang menimpa manusia merupakan hasil dari rekam jejak perbuatannya sendiri. Dalam kacamata ekologis Al-Qur'an, ketika manusia melakukan ekspansi kesombongan, eksploitasi tanpa batas, dan perusakan ekosistem, alam kehilangan keseimbangannya (mizan) dan merespons dalam bentuk bencana.
B. Ekoteologi: Harmoni Hubungan Manusia, Alam, dan Tuhan
Dalam kerangka berpikir ekoteologi Islam, hubungan manusia dengan alam (hablum minal 'alam) tidak dapat dipisahkan dari hubungan manusia dengan Tuhan (hablum minallah). Struktur hubungan ini bersifat triadik yang saling mengait.
Alam semesta adalah makrokosmos (al-kawn al-kabir), sedangkan manusia adalah mikrokosmos (al-kawn ash-shaghir). Keduanya ditulis oleh Pena yang sama. Oleh karena itu, cara manusia memperlakukan alam sejatinya mencerminkan bagaimana ia menghormati Tuhan sebagai Sang Pencipta.
Ekoteologi berbasis iman menempatkan alam sebagai bagian dari entitas spiritual:
• Alam sebagai Ayat Kauniyah: Setiap jejak di alam adalah tanda-tanda keberadaan dan keagungan Allah, setara dengan ayat-ayat dalam Al-Qur'an (ayat qawliyah).
• Alam yang Bertasbih: Seluruh makhluk: pohon, sungai, gunung, dan hewan, bertasbih memuji Tuhan dengan bahasa mereka sendiri (QS. Al-Isra' [17]: 44).
• Manusia sebagai Khalifah dan Amanah: Manusia diserahi mandat sebagai pemelihara (imaratul ardh), bukan penguasa despotik. Merusak alam berarti mengkhianati akad kepemimpinan (khilafah) di hadapan Tuhan.
Menjaga lingkungan hidup, dalam konteks ini, bukanlah sekadar etika sekuler atau tuntutan kewarganegaraan, melainkan manifestasi riil dari kualitas iman seseorang.
C. Bencana Alam dan Ekosufisme dalam Pandangan Para Ulama Tasawuf
Para Sufi memandang alam dengan kacamata kesucian (sacred environment). Ketika kesucian ini dirusak oleh keserakahan manusia, alam berguncang. Pandangan ulama tasawuf mengenai hal ini terurai secara mendalam dalam karya-karya tajdid spiritual mereka.
Imam al-Ghazali (w. 505 H / 1111 M)
Imam al-Ghazali menekankan bahwa alam semesta diciptakan dalam tatanan yang sangat presisi (al-hikmah fi makhlukat Allah). Dalam mahakaryanya, Ihya' 'Ulum ad-Din, al-Ghazali menjelaskan bahwa bencana yang menimpa manusia berakar dari penyakit hati, terutama hubbud dunya (cinta dunia berlebihan) dan keserakahan yang memicu kezaliman. Ketika manusia kehilangan kendali atas hawa nafsunya, ia tidak hanya merusak jiwanya sendiri, tetapi juga merusak keteraturan alam. Bencana merupakan bentuk peringatan (tadzkiroh) dan penghapusan dosa (kaffarah) agar jiwa terhentak dari kelalaian.
Ibn 'Arabi (w. 638 H / 1240 M)
Melalui konsep Wahdat al-Wujud (kesatuan wujud) dan pemikiran ekosofinya, Ibn 'Arabi memandang alam sebagai cermin (mir'at) tempat Tuhan menampakkan Asma' wa Sifat-Nya. Bumi adalah wujud yang hidup dan memiliki hak spiritual. Bagi Ibn 'Arabi, menzalimi alam berarti merusak tempat tajalli (penampakan) sifat-sifat Tuhan. Bencana alam adalah manifestasi dari sifat Jalal (Keagungan dan Keadilan Tuhan) yang muncul ketika sifat Jamal (Keindahan dan Kasih Sayang) diabaikan melalui keserakahan manusia.
Abu al-Qusyairi (w. 465 H / 1072 M)
Dalam Ar-Risalah al-Qusyairiyyah, Syekh Abu al-Qusyairi menguraikan konsep ibtila' (ujian). Menurutnya, bencana adalah mekanisme penyucian spiritual. Bencana alam datang untuk meruntuhkan klaim-klaim kesombongan manusia atas daya dan upayanya sendiri, memaksa manusia kembali pada titik iftiqar (kerendahan hati dan kepasrahan mutlak di hadapan Allah).
D. Makna Bencana Alam dalam Pandangan Sufi
Dalam tradisi tasawuf, bencana alam memiliki multidimensi makna yang tidak bersinggungan dengan keputusasaan:
1. Tadzkiroh dan Tanbih (Teguran dan Peringatan): Bencana adalah alarm spiritual untuk membangunkan manusia dari ketidaksadaran (ghaflah). Ia menghentak kesadaran bahwa kehidupan dunia bersifat sementara dan rapuh.
2. Kaffarah (Pembersihan Dosa): Bagi kaum beriman, penderitaan akibat bencana berfungsi sebagai pelebur dosa-dosa kecil dan pembersih karat-karat jiwa yang mengendap akibat perbuatan maksiat dan perusakan bumi.
3. Ibtila' (Ujian Kenaikan Derajat): Bencana menguji kadar keikhlasan dan keteguhan jiwa. Mereka yang lulus dari ujian ini dengan kesabaran dan prasangka baik kepada Tuhan akan ditingkatkan kedudukan spiritualnya (maqam).
4. Tajalli Jalaliyah (Penyingkapan Keagungan Tuhan): Bencana melepaskan tabir (hijab) ilusif bahwa manusia adalah penguasa alam. Di hadapan gempa, tsunami, atau letusan gunung berapi, manusia menyaksikan betapa mutlaknya kekuasaan Tuhan dan betapa lemahnya makhluk.
E. Sikap Orang Beriman dalam Menghadapi Bencana Perspektif Tasawuf
Menghadapi bencana, seorang salik (penempuh jalan spiritual dalam tradisi tasawuf) atau orang beriman yang terbimbing oleh tasawuf tidak akan bersikap fatalis pasif, melainkan mengintegrasikan etika bathiniah dan lahiriah secara seimbang, melalui langkah nyata antara lain:
1. Respons Bathiniah (Inward Dimension)
a. Muhasabah (Introspeksi Diri): Refleksi pertama ketika bencana terjadi bukan menyalahkan takdir atau menyalahkan pihak lain, melainkan bertanya pada diri sendiri: "Dosa ekologis dan moral apa yang telah aku dan masyarakatku perbuat?"
b. Taubat Nasuha (Penyesalan Sungguh-Sungguh): Menghentikan segala bentuk maksiat, baik maksiat spiritual (kesombongan, ketakberdayaan iman) maupun maksiat ekologis (pencemaran, penebangan liar, pemborosan sumber daya).
c. Sabar dan Ridha: Menerima takdir pahit dengan ketenangan jiwa (thuma'ninah), meyakini bahwa di balik setiap ketetapan Tuhan terdapat hikmah yang tersembunyi (al-hikmah al-khafiyyah).
2. Respons Lahiriah (Outward Dimension)
a. Ikhtiar Kemanusiaan dan Pemulihan: Kesabaran Sufistik bukanlah berdiam diri. Ia mewujud dalam tindakan nyata membantu korban (takaful ijtima'i), menyalurkan bantuan, serta memulihkan infrastruktur kehidupan.
b. Restorasi Ekologis: Menghentikan eksploitasi alam dan melakukan tindakan perbaikan (reboisasi, konservasi air, pengurangan jejak karbon) sebagai bentuk taubat ekologis yang riil.
Kesimpulan
Bencana alam adalah jeritan alam semesta yang terluka akibat kerakusan jemari manusia. Ia adalah cermin raksasa yang dipasang Tuhan sebagai Sang Maha Pencipta di hadapan wajah kita, memantulkan betapa kotornya jiwa yang telah tertutup oleh kesombongan dan materialisme.
Ketika bumi bergetar, gunung meletus, dan lautan meluap, itu bukanlah sekadar anomali fisika, melainkan teguran penuh kasih dari langit. Tuhan sedang memanggil kita untuk pulang, bukan sekedar pulang kepada sajadah-sajadah di dalam masjid, tetapi juga pulang kepada etika memelihara bumi yang telah diamanatkan Tuhan.
Sungguh tragis jika bencana demi bencana berlalu, namun hati manusia tetap membatu; air mata duka mengalir, namun perilaku eksploitatif tak kunjung berakhir. Sudah saatnya kita membasuh jiwa dengan taubat ekologis. Menjaga sebiji pohon, membersihkan sempadan sungai, dan menghentikan keserakahan bukan lagi sekadar pilihan gaya hidup, melainkan panggilan iman yang paling nyata. Sebelum bumi melipat dirinya dalam kehancuran yang lebih dahsyat, marilah kita melembutkan hati, menyelaraskan langkah dengan nafas alam, dan kembali menjadi hamba yang mengasihi seluruh marcapada. (***)
Penulis adalah Dosen Filsafat pada Program Pascasarjana UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Praktisi
Pendidikan dan aktif sebagai mubaligh.
Tinggal di Perumnas Tangerang.



0 Comments