Berita Terkini

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Menteri Agama: AI Instrumen Peradaban, Bukan Jalan Pintas Akademik

Ketua IKA PMII Cabang Ciputat H. Muhammad Jamilun bersama pengurus pada acara FSD. (Foto: Istimewa)

NET - Menteri Agama Republik Indonesia Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., dalam keynote speech-nya menegaskan masa depan pendidikan tidak cukup mengandalkan kecerdasan intelektual semata. Dunia butuh generasi yang mampu memadukan sains, teknologi, spiritualitas, dan integritas moral.

"Kepemimpinan peradaban masa depan sangat bergantung pada integrasi antara kecerdasan intelektual dan spiritual. Pemanfaatan teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan harus dibingkai etika akademik yang ketat guna memastikan setiap karya ilmiah yang dihasilkan tidak hanya berbobot secara akademis, dan berintegritas tinggi serta membawa kemaslahatan bagi masyarakat luas," tutur  Menteri Agama di Aula NICT UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pada Jumat (21/8/2026).

Menteri Agama mengingatkan peluang akademik global saat ini jauh lebih luas dibanding cuma beasiswa magister dan doktoral. Indonesia butuh lebih banyak mahasiswa dan peneliti yang berani masuk ke ruang-ruang kolaborasi internasional, pertukaran ilmiah, riset lintas negara, hingga pengembangan solusi atas berbagai persoalan dunia seperti perubahan iklim, perdamaian, teknologi, dan pembangunan berkelanjutan.

Baginya, investasi terbesar bangsa hari ini bukan hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga fondasi intelektual yang mampu melahirkan pemimpin peradaban masa depan.

Hal itu dikatakan Menteri  Agama pada acara Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Ciputat meluncurkan Future Scholars Development (FSD), Model Baru Menjawab Krisis Akses Beasiswa, Literasi AI, dan Daya Saing Akademik Nasional.

Ketua IKA PMII Cabang Ciputat, H. Muhammad Jamilun menjelaskan di tengah meningkatnya persaingan global, krisis kualitas literasi akademik, dan melebarnya kesenjangan akses terhadap pendidikan tinggi berkualitas,  kegiatan tersebut sebuah program inkubasi akademik yang dirancang melahirkan generasi intelektual Indonesia yang kompetitif, berintegritas, dan siap menembus perguruan tinggi terbaik dunia.

Selain menjadi agenda organisasi alumni, kata Jamilun, menghadirkan gagasan strategis mengenai masa depan pendidikan Indonesia: bagaimana menyiapkan generasi muda agar mampu bersaing secara global tanpa kehilangan akar nilai, etika, dan tanggung jawab sosialnya.

Jamilun mengatakan dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia menghadapi paradoks pendidikan serius. Jumlah lulusan perguruan tinggi terus meningkat, namun akses terhadap beasiswa internasional, kolaborasi riset global, publikasi bereputasi, dan mobilitas akademik masih dinikmati kelompok yang relatif terbatas. Banyak mahasiswa cerdas dan potensial gagal melangkah lebih jauh bukan karena kurang potensi, tapi karena tidak punya pendampingan, akses informasi, kemampuan bahasa asing, mentoring, maupun literasi teknologi yang memadai.

Kondisi tersebut semakin kompleks dengan hadirnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Di satu sisi AI membuka peluang akselerasi pembelajaran luar biasa, tetapi di sisi lain memunculkan tantangan etika, integritas akademik, dan risiko ketergantungan yang dapat menggerus kualitas intelektual generasi muda bila tidak tepat mengelolanya, kata Jamilun.

Direktur Future Scholars Development H. Papay Supriatna menyatakan FSD lahir dari keresahan terhadap masih banyaknya kader dan mahasiswa potensial yang gagal menembus ruang akademik global karena ketiadaan ekosistem pembinaan yang sistematis dan terukur.

Menurutnya, Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan talenta, namun yang kurang adalah upaya sistemik yang menjembatani potensi dengan kesempatan.

"FSD tidak hanya diposisikan sebagai wadah pelatihan bahasa formal, melainkan sebuah ekosistem pembinaan holistik. Generasi muda saat ini jangan hanya jadi penonton dalam dinamika perubahan global, melainkan harus mengambil peran aktif sebagai penulis utama sejarah perubahan dengan berpikir global, bergerak konsisten, serta menghadirkan dampak bagi masyarakat luas," tegas Papay Supriatna.

Papay menilai tantangan pendidikan Indonesia saat ini lebih dari soal akses masuk perguruan tinggi, melainkan bagaimana memastikan generasi muda berkemampuan dalam kompetisi pada standar global. Karena itu FSD dirancang mengintegrasikan penguatan bahasa internasional, pengembangan kapasitas riset, penyiapan dokumen akademik, dan pemanfaatan AI secara etis dalam satu ekosistem pembelajaran yang terukur.

"Selama ini banyak mahasiswa berhenti pada mimpi. Kami ingin membantu mereka sampai pada tahap persiapan untuk siap mencari beasiswa dimanapun, FSD dibangun untuk membuka akses antara cita-cita dan pencapaian," ujarnya. (*/rls/pur)


Post a Comment

0 Comments