Berita Terkini

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Konvoi Mabes Polri-KPK: Tuntut Tragedi Km 50, Ijazah Palsu Hingga Usut Korupsi Dinasti Jokowi!

Peserta aksi konvoi kendaraan dari Mabes 
Polri hingga Gedung Merah Putih KPK. Sesi 
terakhir peserta aksi konvoi foto bersama. 
(Foto: Istimewa)  



Oleh: Ahmad Khozinudin, S.H.

 



ALHAMDULILLAH, pada Senin (10/8/2026), dalam rangkaian memperingati hari purnawirawan, penulis dapat membersamai aksi konvoi kendaraan dari Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, menuju gedung KPK, Jalan Kuningan Persada Kavling 4, Kecamatan Setiabudi. Acara ini diinisiasi oleh Gerakan Mengembalikan Kedaulatan Rakyat (GMKR), yakni bertindak selaku Korlap (Koodinator Lapangan) Bu Menuk Wulandari dari ARM (Aliansi Rakyat Menggugat).


Konvoi dimulai sekitar pukul 13.30 WIB dari Taman Mataram, menuju Mabes Polri. Saat tiba di Mabes Polri, sejumlah tokoh seperti Ustadz Eka Jaya (Ormas Pejabat), Mayjen TNI Purn Soenarko, dan tokoh lainnya standby di mobil komando, menyampaikan pandangan dalam bentuk orasi.


Sejumlah elemen turut hadir dalam aksi. Selain GMKR dan ARM, juga hadir dari Forum Aksi. Penulis setidaknya melihat Pak Catur dan Bu Nuning membersamai aksi. Hadir Bu Dhio Suharmunastrie (Gladiator), adapula dari Forum Purnawirawan Prajurit (FPP) TNI yang dipimpin oleh Kolonel TNI Purn Sugeng Waras. Beliau didampingi sang istri ikut hadir.


Sejumlah tim advokat dari TA-AKAA (Tim Advokasi Anti Kriminalisasi Akademisi dan Aktivis) juga hadir. Ada Bang Meidy Juniarto, Bang Baharu Zaman, dan saat di Gedung KPK juga hadir Bu Susiasih dan Bu Virca Dewi.


Dari UI WATCH juga hadir, ada Bang Buyung dan tim UI WATCH. Sejumlah Jawara Ormas Pejabat terlihat kompak membersamai. Ada juga, Bang Jali Pitung yang dulu menyampaikan novum tragedi KM 50 di Mabes Polri.


Dan masih banyak lagi elemen lainnya yang turut hadir dalam aksi konvoi.


Orasi berlangsung di depan Mabes Polri. Sementara penulis bersama Brigjen TNI Purn Purnomo, Dr Marwan Batubara, Rizal Fadilah SH, Menuk Wulandari, dengan sejumlah tokoh dan perwakilan media, dipimpin Laksma TNI Purn Moeryono Aladin, masuk ke gedung Mabes Polri sebagai perwakilan delegasi.


Kami dipandu oleh Kombes Pol Dwi selaku Kasat Intel Polres Jakarta Pusat, masuk gedung Mabes dan menyusuri jalan lorong panjang. Saat menyusuri jalan, penulis berseloroh sambil mendendangkan penggalan bait lagu "sepanjang....lorong yang gelap".


Kombes Dwi menjelaskan jalur lorong ditempuh untuk menghindari jalan utama yang tertutup akibat adanya pembangunan sejumlah sarana gedung. 


Akhirnya, kami sampai di kantor pelayanan masyarakat (Yanma) Mabes Polri. Kami disambut oleh Kombes Pol Dwi S., yang menjadi pihak penerima kunjungan delegasi.


Dalam audiensi, Pak Moer mengantarkan maksud dan kedatangan, hingga menyerahkan dan membacakan pernyataan sikap GMKR. Disusul Dr Marwan Batubara, Rizal Fadilah, Brigjen TNI Purn Purnomo, perwakilan GMKR Bandung, dan sejumlah perwakilan FPP TNI.


Penulis juga menyampaikan aspirasi dalam audiensi. Ringkasan aspirasi penulis dan sejumlah tokoh adalah tuntutan reformasi Polri hingga pencopotan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Pengusutan ulang kasus KM-50, hingga proses hukum Kasus Ijazah Palsu Jokowi.


Kombes Pol Dwi S dari Yanma, berjanji akan meneruskan aspirasi ke pimpinan. Yakni ke Kapolri dan Wakapolri. Namun, Pak Dwi tak berani mengomentari tuntutan audiensi, terutama dari perwakilan GMKR Bandung, yang menuntut memecat Kapolri.


Terang saja, bagaimana mungkin polisi yang berpangkat Kombes, mana berani menyampaikan aspirasi memecat Kapolri yang berpangkat Jenderal? Hehe.


Setelah dirasa cukup, kami pamit dan melanjutkan konvoi.


Konvoi dilanjutkan mengambil rute jalan utama Sudirman Thamrin, memutar di Bundaran HI, hingga menuju gedung KPK RI di Kuningan, Jakarta Selatan.


Kembali, penulis bersama bersama Laksma TNI Purn Moeryono Aladin, Brigjen TNI Purn Purnomo, Dr Marwan Batubara, Rizal Fadilah SH, dan kali ini juga bersama Mayjen TNI Purn Soenarko, dengan sejumlah tokoh dan perwakilan media, diterima oleh Juru Bicara KPK Budi Prasetyo.


Di Depan Gedung KPK, orasi para tokoh terus berkumandang. Di antaranya, orasi yang disampaikan oleh Ketua Bidang Riset & Advokasi LBH AP PP Muhammadiyah Gufroni, S.H., M.H.


Hadir pula, Nelayan Pontang dan sejumlah aktivis Banten, Kang Kholid Miqdar, dkk. Hanya saja, penulis tidak tahu apakah Kang Kholid orasi di depan Gedung KPK atau di depan Mabes Polri.


Dalam audiensi, kembali  Pak Moer mengantarkan maksud dan kedatangan, hingga menyerahkan dan membacakan pernyataan sikap GMKR. Disusul Dr Marwan Batubara, Rizal Fadilah, Mayjen TNI Purn Soenarko, Brigjen TNI Purn Purnomo, perwakilan GMKR Bandung, Wartawan Senior Edy Mulyadi.


Sempat terjadi insiden kecil, karena petugas KPK melarang kami membawa tim media masuk dalam rombongan audiensi. Bang Rizal Fadilah langsung memprotes, dan mengancam ke luar dari ruangan KPK jika media dilarang meliput.


Penulis sendiri tegaskan, keberadaan media adalah wujud dari  transparansi KPK dan agar tidak ada dusta antara rakyat dengan KPK. Kami juga berkepentingan agar materi audiensi bisa disimak rakyat, agar tidak ada tuduhan kami sedang melobi kasus di KPK.


Akhirnya, tim media diperkenankan meliputi dan merekam audiensi.


Dalam audiensi, sejumlah kasus dugaan korupsi keluarga Joko Widodo (Jokowi) disorot. Dari kasus Blok Medan yang menyeret menantu dan anak Jokowi (Boby Nasution dan Kahiyang Ayu), kasus kebakaran hutan yang menyeret nama Gibran dan Kaesang, hingga sejumlah koruptor (para menteri) yang menyebut nama Jokowi dalam fakta persidangan.


Tuntutan agar korupsi Jokowi diusut, untuk menghilangkan aib bangsa, karena Jokowi masuk sebagai tokoh dunia terkorup versi OCCRP (Organized Crime and Corruption Reporting Project). Belum lagi, sejumlah kejahatan terstruktur dan masif, memanfaatkan sarana kekuasaan dan alat negara, terjadi pada era Jokowi.


Juru Bicara KPK menanggapi sejumlah kasus yang dikeluhkan, terutama soal kereta cepat. Menurut Budi Prasetyo (Jubir KPK), kasus kereta cepat telah masuk proses penyelidikan. Hanya saja, KPK belum bisa mengungkap ke publik detailnya, menunggu tahapannya sampai ke proses penyidikan.


Jubir KPK juga berterima kasih, atas kunjungan dan masukan  pada KPK. Seluruh kritik dan masukan, akan dijadikan jamu, agar KPK lebih sehat dan maksimal melaksanakan tugas pemberantasan, pencegahan, dan pendidikan Anti korupsi.


Setelah selesai, acara ditutup oleh Pak Moeryono Aladin, dengan menjelaskan hasil audiensi kepada peserta konvoi. Ucapan terima kasih, disampaikan kepada seluruh aktivis dan tokoh yang berkenan membersamai aksi, dan sekitar pukul 17.00 WIB, peserta aksi bubar dan pulang ke kediaman masing-masing. (***)





Penulis adalah Advokat 


Post a Comment

0 Comments