![]() |
| Ali Khamenei pemimpin Iran yang dicintai dan dihormati rakyat Iran. (Foto: Istimewa) |
MENTERI Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent dan Presiden AS Donald Trump mengatakan dengan jelas, AS sekarang menerapkan kebijakan baru, perang ekonomi, yang mereka sebut akan menjadi perang ekonomi paling brutal terhadap sebuah negara, yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya kepada negara manapun.
Menerapkan kebijakan perang ekonomi baru terhadap Iran saat ini adalah bagian dari pengakuan AS secara tidak langsung, bahwa perang secara militer besar besaran terhadap Iran selama 6 bulan terakhir ini berakhir gagal.
Pendekatan perang ekonomi baru ini sebenarnya bukan hanya menargetkan Iran, tapi semua negara yang berbisnis dengan Iran. Terutama China yang merupakan konsumen utama minyak Iran.
Trump menyadari bahwa perang militer terhadap Iran gagal dan meninggalkan kerugian besar bagi AS, perang secara militer kemarin hanya meningkatkan daya tahan Iran dan soliditas internal Iran secara domestik.
Data terbaru misalnya menyebut, lebih dari 770 tentara AS tewas dan luka luka selama perang dengan Iran. Ini baru korban jiwa. Belum termasuk kehabisan amunisi, dana yang terkuras yang mencapai lebih 100 miliar dolar, dan juga pangkalan pangkalan militer AS yang hancur lebur lebih dari 16 pangkalan di seluruh Timur Tengah.
Mengumumkan perang ekonomi baru terhadap Iran adalah langkah yang frustasi, mengingat Iran sudah terbiasa dengan perang ekonomi dengan AS bahkan sejak Republik Islam Iran itu berdiri.
Menargetkan Iran secara ekonomi itu sama dengan menargetkan China juga. Yang di mana saat ini mengambil peran penting di belakang layar atas survivenya Iran dalam perang melawan AS dan Israel hampir setengah tahun kemarin.
China memahami eskalasi geopolitik ini dengan baik, bahkan sejak awal perang AS terhadap Iran mulai Februari lalu. China pada awal perang telah menghubungi lebih 30 negara di dunia, agar mereka tidak ikutan mengikuti langkah AS berperang melawan Iran.
Langkah China ini efektif, terbukti dengan tidak adanya negara di dunia yang mau ikut bujukan AS dan Israel untuk berperang melawan Iran. Bahkan sampai saat ini, sekutu AS sendiri tidak mau ikut ikutan Trump menyerang Iran.
Perang Iran ini juga tidak bisa dipisahkan dengan perang lain yang melibatkan AS dan sekutunya di tempat lain melawan Rusia: di tanah Ukraina. Bahkan banyak pakar GeoPolitik menyebut bahwa AS gagal memisahkan tema perang Iran dengan perang Ukraina. Ini lebih karena aliansi anti AS seperti China dan Rusia, kemudian Iran dan Korut melihat perang Iran adalah pola yang sama dengan pola di Ukraina.
Aliansi anti AS merapatkan barisan melawan hegemoni AS baik di Asia Barat maupun di Eropa Barat dan Eropa Timur. Aliansi ini memahami cara Trump bekerja dan mentalitas AS yang belum banyak berubah di era GeoPolitik Multipolar saat ini.
Korut misalnya terus membantu Rusia di Ukraina, baik senjata maupun mendeploy puluhan ribu tentara ke Ukraina untuk membantu Rusia. Begitu juga China yang diam diam terus manasik Rusia dengan berbagai alutsista.
Rusia butuh drone, dikirim oleh Iran, Rusia butuh teknologi dan chip, dikirim oleh China, Rusia butuh senjata dan tentara, dikirim oleh Korea Utara.
Aliansi GeoPolitik Anti AS ini sadar betul, bahwa kekalahan Rusia di Eropa Barat dan Timur dan kekalahan Iran di Asia Barat adalah ancaman eksistensi bagi Blok ini. Oleh sebab itu, di titik ini, mereka akan mati matian mempertahankan survival Rusia dan Iran sekaligus.
Rusia dan Iran bukan negara biasa, posisi mereka tidak sama dengan negara Arab lain atau partner lain China, Rusia dan Iran terutama saat ini yang sedang berperang, adalah Aliansi strategis yang akan berdampak buruk bagi China jika mereka tumbang di tangan AS dan Israel atau AS dan NATO.
Perang dengan Iran secara GeoPolitik adalah perang lama yang terulang, blok Barat dan blok Timur. Bedanya, dulu AS tidak memiliki musuh yang sekuat China sekarang. Musuh AS dalam perang dingin misalnya hanya Uni Soviet yang lemah, Uni Soviet yang sudah pincang Karena residu perang dunia II.
Tapi era Multipolar saat ini, masalahnya akan lebih kompleks, China dan Rusia saat ini adalah kekuatan ril yang kuat. China kuat di sisi ekonomi dan Rusia kuat secara militer. Kondisinya jauh berbeda dengan kondisi perang dingin.
China saat ini memimpin Aliansi ini dengan determinasi yang kuat untuk menang, meskipun mereka memilih jalan harmoni bukan jalan hegemoni, tapi China punya peta jalan yang jauh kedepan bagaimana cara mengalahkan AS jangka panjang.
Perang yang dilakukan AS terhadap Iran saat ini selain salah kalkulasi, juga merupakan perang yang ceroboh yang dilakukan tanpa perhitungan yang matang.
Perang terhadap Iran, baik ekonomi maupun militer, tidak akan mampu mengubah kondisi posisi GeoPolitik AS secara regional di asia Barat maupun secara global. Perang ini akan mengirim AS mundur ke belakang baik secara regional maupun secara global. Diatas tahun 2030 nanti sinyal decline ini akan semakin jelas kita lihat.
Perang terhadap Iran saat ini tidak sesimpel, ini adalah salah satu perang paling ceroboh dalam sejarah AS yang akan meminta konsekuensi serius jangka panjang bagi posisi AS secara geopolitik di masa masa mendatang.
Iran dalam konteks ini pun tidak bisa lagi dilihat hanya sebagai sebuah negara Islam, tapi Iran saat ini menjadi negara kuat yang punya posisi tawar GeoPolitik yang kuat di depan negara adidaya lainnya, baik di depan kawan maupun di depan lawan.
Perang Iran murni perang GeoPolitik, yang di mana kebanyakan negara Islam lainnya saat ini mayoritas tidak punya daya tawar dan tidak paham cara bermanuver di era GeoPolitik Multipolar saat ini. Dan akibat perang Iran ini, Iran jadi negara kuat baru yang akan jadi mitra strategis jangka panjang bagi aliansi kekuatan anti AS.
Di titik inilah, AS dan sekutunya akan menghadapi perang panjang dan akan dengan pincang meladeni perang ini, perang yang akan sangat sulit mereka menangkan. (***)
Penulis adalah Analis GeoPolitik.




0 Comments