Berita Terkini

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

H. Emil Abbas: Perantau Minang Di Kaltim Setelah 30 Tahun Kini Punya 30 Perusahaan

H. Emil Abbas, MBA, Ph.D
(Foto: Istimewa)  


ADA filosofi Minangkabau yang sudah berusia ratusan tahun: merantaulah, karena di sanalah rezekimu menunggu. Dan tidak ada yang membuktikannya lebih nyata dari seorang pria yang lahir di Nagari Kuranji, Kecamatan Guguak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, pada 16
Desember 1957.

Namanya H. Emil Abbas, M.B.A., Ph.D. Dan perjalanan hidupnya adalah buku teks tentang merantau yang sesungguhnya.

Pada 1981. Emil Abbas muda tiba di Kalimantan Timur (Kaltim). Bukan dengan modal besar, bukan dengan jaringan kuat, dan bukan dengan warisan keluarga yang sudah mapan. Ia datang dengan modal keberanian dan visi yang belum dimiliki banyak orang saat itu: melihat potensi di tempat yang belum ramai diisi orang lain.

Pilihannya jatuh pada sektor perminyakan yang sedang tumbuh di Kalimantan Timur. Ia mendirikan PT Ranji Karya Sakti, perusahaan yang bergerak di bidang Petroleum Offshore Supply Base (POSB) — fasilitas pelabuhan pendukung untuk operasi pengeboran minyak lepas pantai. Bukan bisnis yang glamor, bukan bisnis yang mudah, dan bukan bisnis yang banyak dipahami orang awam. Tapi Emil tahu persis apa yang ia kerjakan.

Hasilnya berbicara sendiri. POSB yang ia bangun berkembang menjadi pelabuhan offshore terbesar di Kalimantan Timur, dan posisi itu bertahan hingga hari ini — lebih dari empat dekade setelah pertama kali ia memancangkan bisnis di tanah Borneo.

Dari satu perusahaan pelabuhan itulah, EASCO Holding lahir. Konglomerasi yang kini membawahi 30 anak perusahaan, bergerak di sektor pertambangan minyak dan gas bumi, agroindustri, pelabuhan, kehutanan, dan keuangan. Nama EASCO sendiri diambil dari inisial sang pendiri.

Tapi Emil tidak berhenti di dunia energi dan komoditas. Pada 1993, ia mengambil langkah yang pada masanya dianggap tidak lazim oleh banyak pelaku bisnis: dengan modal Rp 2 miliar, ia mendirikan Asuransi Mubarakah dan Bank Syariah Ibadurrahman — dua lembaga keuangan berbasis syariah pada saat industri keuangan syariah Indonesia belum sekalipun masuk radar radar perhatian publik luas.

Keberaniannya itu membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk benar-benar berbuah. Asuransi Mubarakah mulai beroperasi penuh pada 31 Mei 2001. Dan pada 10 September 2008, Museum Rekor Indonesia secara resmi mencatat nama Emil Abbas sebagai pengusaha nasional pertama yang mendirikan perusahaan asuransi nasional berbasis syariah di Indonesia. Rekor MURI itu bukan sekadar sertifikat — ia adalah pengakuan bahwa satu orang dari Guguak, Lima Puluh Kota, telah lebih dulu melihat masa depan industri keuangan Indonesia sebelum orang lain menyadarinya.

Kini jaringan asuransi yang ia rintis telah memiliki 30 kantor cabang yang tersebar di 22 provinsi di seluruh Indonesia.

Di luar bisnis, Emil Abbas membangun apa yang ia percaya sebagai investasi paling abadi: pendidikan. Melalui International Islamic Education Council (IIEC), ia mendirikan dan mengelola sejumlah lembaga pendidikan Islam bertaraf internasional, termasuk International Islamic Boarding School (IIBS) di Cikarang, serta IIHS dan IISS di Jakarta. Sekolah-sekolah ini menggabungkan kurikulum internasional dengan nilai-nilai keislaman yang kuat, mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik tapi juga kuat secara spiritual.

Dan di antara semua pencapaian itu, Emil Abbas tidak lupa dari mana ia berasal.

Sebagai bentuk cinta dan kontribusi nyata kepada tanah kelahirannya, ia menghibahkan lahan pribadi seluas 300 hektare untuk rencana pembangunan bandara di Payakumbuh, Sumatera Barat. Bukan sumbangan kecil, bukan pula sekadar gaya. Ini adalah cara seorang perantau yang sudah berhasil berkata kepada kampung halamannya: aku tidak lupa, dan aku tidak pergi untuk selamanya.

Emil Abbas menikah dengan Rismaniah dan dikaruniai lima orang anak — Emilia Emil, Muhammad Candramata Emil, Muhammad Taufan Emil, Sri Indah Permata Emil, dan Muhammad Khalid Emil. Nilai-nilai yang ia bangun selama puluhan tahun merantau tercermin dalam keterlibatan keluarga besar Abbas dalam mengelola berbagai unit usaha dan sosial yang mereka dirikan bersama.

Dari Guguak ke Kalimantan Timur. Dari satu pelabuhan offshore ke 30 anak perusahaan. Dari modal Rp 2 miliar ke rekor MURI nasional. Kisah Emil Abbas bukan kisah orang beruntung. Ini kisah orang yang tahu bahwa rezeki menunggu di luar kampung halaman, tapi hati harus selalu pulang. (***)


Sumber fb: Desas Desus Cerdas


Post a Comment

0 Comments