Prof. Dr. Haedar Nashir.
(Foto: Istimewa)
Siapakah dia?
Beliau adalah Prof. Dr. Haedar Nashir - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Seorang yang menakhodai organisasi dengan aset ditaksir lebih dari 450 triliun rupiah. Aset yang jika diuangkan, bisa membeli gedung pencakar langit, armada pesawat, atau pulau pribadi.
Tetapi lihat pilihannya... beliau memilih lantai. Kenapa potret ini berbicara lebih keras dari pidato?
Karena di Muhammadiyah, kekuasaan bukan panggung untuk diagungkan. Ada 3 (tiga) nafas kepemimpinan yang diwariskan sejak K.H. Ahmad Dahlan.
Tidak ada kultus individu. Di Muhammadiyah, tidak dikenal glorifikasi “orang suci”. Tidak ada foto pimpinan dipajang untuk dicium, tidak ada gelar berlebihan. Sebab yang disembah hanya Allah. Tauhid itu memerdekakan, termasuk dari mengultuskan manusia.
Hidup apa adanya, bukan ada apanya... Dari Abdur Rozaq (AR) Fakhruddin yang naik sepeda onthel ke kantor PP sampai Haedar Nashir yang duduk lesehan ini. Para pimpinan tertingginya justru dikenal karena “hanya mengambil secukupnya”. Amanah 450T itu untuk umat, bukan untuk fasilitas pribadi.
Meritokrasi, bukan monarki... Jabatan di Muhammadiyah bukan warisan darah biru. Ia berjalan lewat sistem, dipilih karena kapasitas, rekam jejak, dan keikhlasan. Setelah masa jabatan selesai, kembali jadi warga biasa. Tidak ada dinasti.
Apa yang bisa kita renungkan?
Kita sering mengukur hebatnya pemimpin dari mobilnya, jam tangannya, seberapa sulit dia ditemui. Foto ini menampar cara pikir itu.
Kebesaran sejati justru ketika seseorang memegang kuasa sangat besar, tetapi sadar bahwa di hadapan Tuhan, sajadahnya sama lebarnya dengan marbot masjid.
Kepemimpinan Muhammadiyah tidak dibangun dengan “pencitraan merakyat”. Ia memang merakyat sejak lahir. Karena yang diurus bukan harga diri, tetapi harkat umat. Yang dikejar bukan pujian, tetapi ridha Ilahi.
Jadi ketika kelak kita ditanya; “Bagaimana model pemimpin Islam berkemajuan?”
Tunjuk saja foto ini. Seorang ketua umum, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi dengan jamaahnya. Tanpa jarak. Tanpa sekat.
Karena bagi mereka, jabatan itu beban, bukan kemuliaan. Dan teladan itu tidak perlu diumumkan lewat spanduk. Cukup ditunjukkan lewat hidup yang bersahaja. (***)
(Akiomar)



0 Comments