Berita Terkini

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Madura Dan Batak

Salah satu Warung Madura yang 
beroperasi di lingkungan padat penduduk. 
(Foto: Istimewa/jurnal tinta)  



PERSAINGAN ekonomi rakyat Indonesia berubah drastis. Warung kecil tak lagi takut minimarket besar, melainkan sesama pedagang kecil yang lebih cepat, lebih disiplin, buka 24 jam dan lebih agresif merebut pelanggan.

Tahun 1963, antropolog Amerika Clifford Geertz menulis sebuah kisah menarik tentang kehidupan ekonomi di Mojokuto, sebuah kota kecil di Jawa Timur yang menjadi lokasi penelitiannya.

Dalam bukunya Peddlers and Princes, Geertz menggambarkan bagaimana dinamika perdagangan di kota itu ternyata tidak pernah benar-benar tenang. Di balik ramainya pasar tradisional, tersimpan persaingan tajam, kecemburuan ekonomi, dan kebanggaan regional yang membentuk wajah perdagangan rakyat Indonesia sejak puluhan tahun lalu.

Pada masa kejayaan ekonomi Mojokuto era 1920-an, ketika industri gula berkembang pesat dan uang beredar deras di Jawa Timur, para pedagang paling dominan justru datang dari wilayah pesisir Utara Jawa. 

Mereka bukan sekadar berdagang, tetapi membangun jaringan ekonomi berbasis asal daerah. Pedagang dari satu kota menguasai perdagangan tekstil grosir. Kelompok lain memonopoli pakaian jadi dan rokok.

Ada pula yang khusus menjual ikan asin, rempah-rempah, hingga perangkat keras skala kecil. Mereka tidak bercampur bebas dalam satu komunitas bisnis, melainkan membentuk semacam “klan ekonomi” berdasarkan identitas daerah asal.

Di dalam kelompoknya sendiri, solidaritas mereka sangat kuat. Mereka berbagi modal, membagi rute perdagangan, membantu penagihan utang, hingga saling melindungi dari risiko kerugian. Dalam ekonomi pasar tradisional yang belum memiliki perlindungan hukum modern, rasa percaya hanya diberikan kepada orang-orang yang berasal dari kampung dan jaringan yang sama.

Namun di balik solidaritas internal itu, tersimpan persaingan keras terhadap kelompok lain. Antar pedagang dari daerah berbeda muncul kecemburuan komersial, saling sindir, bahkan perebutan wilayah dagang secara agresif. Kebanggaan regional menjadi alat untuk mempertahankan pasar dan menjaga aliran keuntungan tetap berada dalam kelompok mereka.

Menariknya, meski saling bersaing, mereka tetap memiliki identitas kolektif yang menyatukan. Para pedagang itu dikenal sebagai kelompok Muslim reformis dengan etos kerja perdagangan yang sangat kuat. Mereka bersama-sama membangun masjid, mendukung Sarekat Islam, hingga membiayai sekolah-sekolah.

Persaingan ekonomi tidak menghancurkan solidaritas sosial mereka. Justru dari rivalitas itulah lahir jaringan distribusi perdagangan regional yang sangat kuat pada zamannya.

Apa yang ditulis Clifford Geertz lebih dari enam puluh tahun lalu ternyata masih hidup hingga hari ini, hanya bentuknya yang berubah.

Dulu, persaingan usaha kecil di Indonesia terlihat sederhana. Warung tradisional merasa ancaman terbesar datang dari minimarket modern seperti Indomaret dan Alfamart. Lampu yang terang, rak yang rapi, pendingin ruangan, dan sistem manajemen modern membuat banyak orang percaya warung kecil perlahan akan hilang.

Saat itu, musuh utama pedagang tradisional tampak jelas: perusahaan ritel besar dengan modal kuat.

Namun sekarang, peta persaingan berubah total.

Hari ini, ancaman terbesar warung tradisional justru datang dari sesama pelaku usaha kecil. Persaingan menjadi lebih dekat, lebih intens, dan lebih personal. Jika dulu warung tradisional melawan korporasi besar, sekarang mereka bersaing dengan orang-orang yang sama-sama datang dari ekonomi rakyat kecil. Bedanya hanya pada strategi bertahan hidup.

Fenomena warung Madura menjadi contoh paling nyata. Dalam beberapa tahun terakhir, warung Madura tumbuh pesat di berbagai kota hingga gang-gang permukiman kecil. Mereka buka hampir 24 jam, menjual kebutuhan harian lengkap, dan mampu menjangkau area yang tidak disentuh minimarket besar.

Keunggulan mereka bukan hanya harga, tetapi daya tahan kerja dan solidaritas keluarga. Banyak warung dijaga bergantian oleh anggota keluarga sehingga biaya operasional menjadi rendah. Ketika warung lain tutup pukul sembilan atau sepuluh malam, warung Madura masih melayani pembeli hingga dini hari.

Akibatnya, pola belanja masyarakat berubah. Konsumen kini lebih memilih tempat yang selalu tersedia kapan saja mereka membutuhkan barang. Persaingan tidak lagi soal siapa yang paling besar, tetapi siapa yang paling siap hadir setiap saat.

Seorang teman pengelola warung di kompleks, mengeluh soal perasingan dengan warung Madura. “Repot menyaingi mereka. Mereka buka 24 jam, kami tak sanggup.”

Hal serupa terjadi pada pedagang sayur keliling. Dulu, tukang sayur keliling menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Indonesia. Suara teriakan mereka di pagi hari menjadi penanda aktivitas kampung dimulai. Mereka memiliki pelanggan tetap karena datang langsung ke depan rumah warga.

Namun kini, tukang sayur keliling mulai menghadapi pesaing baru: warung sayur permanen milik pedagang Batak yang buka sejak subuh. Warung-warung ini menawarkan pilihan sayur lebih lengkap, harga yang sering lebih murah, dan stok yang lebih stabil. Mereka kini ada di hampir setiap jala. Coba sekali-kali Anda lewat Jalan  Mawar di Rempoa. Setiap 50 meter ada warung sayur.

Pembeli tidak perlu menunggu tukang sayur lewat karena mereka bisa datang kapan saja. Bahkan sebagian sudah menerima pesanan lewat WhatsApp dan menyediakan layanan antar sederhana menggunakan sepeda motor.

Jika diperhatikan lebih dalam, dinamika ini sebenarnya sangat mirip dengan yang ditulis Clifford Geertz tentang Mojokuto. Persaingan ekonomi rakyat tetap bertumpu pada jaringan sosial, solidaritas kelompok, etos kerja, dan kemampuan mempertahankan wilayah pasar.

Bedanya, jika dulu persaingan dibangun berdasarkan asal kota pesisir Utara Jawa, sekarang persaingan muncul melalui identitas jaringan migran, solidaritas keluarga, dan ketahanan kerja komunitas tertentu.

Pada akhirnya, kisah ini menunjukkan bahwa ekonomi rakyat Indonesia tidak pernah benar-benar diam. Persaingan selalu berubah bentuk mengikuti zaman. Dulu pedagang tradisional melawan perusahaan modern. Sekarang mereka justru saling bersaing satu sama lain dalam ruang yang semakin sempit.

Namun seperti yang terlihat sejak era Mojokuto hingga hari ini, yang mampu bertahan bukan selalu yang paling besar modalnya, melainkan mereka yang paling adaptif membaca perubahan sosial dan kebutuhan pasar. (***) 

Ditulis oleh: Edhy Aruman


RUJUKAN

Geertz, C. (1963). Peddlers and princes: Social development and economic change in two Indonesian towns. The University of Chicago Press.



Post a Comment

0 Comments