Berita Terkini

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Bincang Ramadhan Pokja WHTR, Ketua DPRD Kota Tangerang Soroti Tantangan PAD Di Kota Kian Ketat

Ketua DPRD Kota Tangerang Rusdi Alam 
(baju kotak-kotak) saat Bingang Ramadhan 
di antara pengurus dan anggota Pokja WHTR. 
(Foto: Istimewa) 


 

NET  – Suasana hangat penuh keakraban terasa di kantor Sekretariat Kelompok Kerja Wartawan Harian Tangerang Raya (Pokja WHTR), Jalan Perintis Kemerdekaan No.38A, Babakan, Kota Tangerang, pada Selasa (3/3/2026). Pada kegiatan Bincang Ramadhan, para jurnalis dan narasumber duduk melingkar, berbagi gagasan sembari menanti waktu berbuka puasa.

Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua DPRD Kota Tangerang Rusdi Alam, didampingi Anggota DPRD Kota Tangerang Mustofa Kamaludin. Acara dipandu dalam suasana santai namun berbobot, dengan Ketua Panitia Pelaksana Hendra Wibisana membuka forum diskusi.

Dalam pemaparannya, Rusdi Alam mengawali dengan sebuah prinsip reflektif.

“Ada bahasa Arab, al-yaumu khairun min amsi fahuwa rabi’. Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dia orang yang beruntung. Ini harus jadi prinsip kita,” ujarnya.

Menurut Rusdi, Kota Tangerang memang kerap dibanjiri penghargaan setiap peringatan hari jadi. Namun dibalik deretan apresiasi itu, terdapat tantangan nyata yang harus dihadapi, terutama dari sisi pendapatan daerah.

“Hari ini, kita berhadapan dengan kondisi kota yang hampir seluruh wilayahnya sudah terbangun. Dari sisi pendapatan, kita ini bisa dibilang sudah sampai di titik jenuh,” ungkapnya.

PAD Perkotaan: Diuntungkan, Namun Terbatas Lahan

Rusdi menjelaskan berdasarkan Undang-Undang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (HKPD), daerah perkotaan seperti Kota Tangerang sebenarnya diuntungkan dari sisi potensi pajak daerah.

Beberapa sumber utama Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang menjadi andalan antara lain Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), serta pajak hotel dan restoran.

“Kita ini wilayah penyangga ibu kota. Nilai tanah tinggi, transaksi banyak, investasi cukup pesat. Itu membuat BPHTB dan PBB kita lumayan,” jelasnya.

Rusid menjelaskan kondisi Kota Tangerang berbeda dengan daerah yang masih memiliki lahan pengembangan luas. Hal ini bila dibandingkan capaian PAD Kota Tangerang dengan wilayah lain.

“Di Kabupaten Tangerang, PBB bisa 600 miliar rupiah, BPHTB sampai 1,9 triliun rupiah. Di Kota Tangerang PBB sekitar 570 miliar rupiah, BPHTB 600-an miliar rupiah. Gambaran ini menunjukkan, kita sudah tidak punya banyak ruang investasi baru karena lahannya memang sudah habis,” ungkaprnya.

Rusid bahkan menyinggung capaian retribusi Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) atau yang dahulu dikenal sebagai IMB.

“Dulu pada era Pak WH (Wahidin Halim jadi walikota-red), retribusi IMB bisa tembus 167 miliar rupiah. Hari ini target 30 miliar rupiah saja sudah terasa berat. Bukan karena tidak serius, tapi memang lahannya sudah terbatas,” katanya disambut respons peserta diskusi.

Tantangan Genjot PAD di Tengah Kebutuhan Pembangunan

Dalam forum yang sesekali diselingi tawa ringan menjelang waktu berbuka, Rusdi menegaskan persoalan utama pembangunan selalu bermuara pada pembiayaan.

“Sehebat apa pun perencanaan kita, kalau tidak ada anggaran untuk merealisasikan, akan sulit berjalan maksimal. Pada akhirnya, pembangunan itu butuh duit,” ujarnya lugas.

Rusdi mengakui DPRD bersama eksekutif terus berupaya mencari formulasi terbaik agar PAD tetap optimal tanpa membebani masyarakat. Hearing dan pembahasan RPJMD maupun APBD disebutnya menjadi ruang strategis untuk mengurai persoalan tersebut.

Menurut Rusdi, kondisi Kota Tangerang saat ini bisa disebut sebagai wilayah yang sudah “given”. Artinya, pertumbuhan ruang fisik sudah sangat terbatas sehingga strategi peningkatan PAD harus lebih kreatif, inovatif, dan berbasis optimalisasi aset yang ada.

Diskusi Terbuka dan Reflektif

Kegiatan Bincang Ramadhan yang digelar Pokja WHTR ini menjadi ruang dialog terbuka antara legislatif dan insan pers. Diskusi berlangsung dinamis, mencerminkan semangat keterbukaan dalam membahas isu-isu strategis daerah.

Ketua Panitia Hendra Wibisana menyampaikan forum ini diharapkan menjadi tradisi tahunan sebagai sarana tukar pikiran antara pemangku kebijakan dan jurnalis.

Di penghujung acara, suasana kembali mencair ketika kehadiran Mustofa Kamaludin disambut tepuk tangan peserta. Diskusi pun ditutup dengan harapan bersama agar Kota Tangerang terus bergerak menjadi lebih baik dari hari ke hari.

Sebab bagi Rusdi Alam, prinsipnya sederhana namun dalam: hari ini harus lebih baik dari kemarin. Dan untuk mencapainya, dibutuhkan keberanian membaca tantangan sekaligus kebersamaan mencari solusi. (*/pur)


Post a Comment

0 Comments