| Ilustrasi, integritas. (Foto: Istimewa/gramedia) |
ADA pepatah yang menyatakan "Kejujuran adalah mata uang yang berlaku di manapun". Ungkapan ini mengkonfirmasi, setiap umat dan bangsa menerima dan membutuhkan kejujuran, sekaligus memberikan 'harga' atas kejujuran yang diberikan, dari siapapun.
Bahkan, seorang pengkhianat pun butuh mitra yang jujur. Sebab, meski dia sadar dirinya berkhianat, tapi dia tak mau dikhianati.
Kejujuran itu ibarat cermin, dimana setiap orang bisa menilai dirinya di depan cermin. Orang yang jujur, akan menjadi cermin yang baik bagi mitranya, entah mitra itu pasangan hidup (suami-istri), atau mitra kerja (partners, kongsi bisnis, mitra usaha, dll).
Siapapun, tak ingin bercermin dan memandang wajah orang lain di dalam cermin. Cermin yang jujur akan memantulkan wajah asli sehingga dari situlah, orang akan menilai diri, memperbaiki diri, hingga membuat refleksi atas diri terhadap orang lain.
Dalam dunia profesi, kejujuran menjadi bagian penting dari sebuah integritas. Seorang yang berintegritas, akan selalu jujur dalam setiap karya dan usahanya, tidak memanipulasi kinerja tidak pula mengklaim apalagi merebut kerja orang lain.
Dalam dunia profesi advokat, salah satu aib (cela) yang merupakan pelanggaran kode etik advokat adalah merebut klien advokat lainnya. Makna merebut, adalah mengambil klien Advokat lainnya tanpa persetujuan dari advokat lainnya, terlepas klien itu menyetujui.
Seorang klien yang jujur dan berintegritas, juga tak akan berpaling atau setidaknya menyerahkan kuasa pada advokat lainnya, tanpa meminta izin atau setidaknya memberitahu advokat yang mengurusi urusannya. Dalam dunia advokat, seorang advokat maupun klien bisa berlaku curang, tidak jujur bahkan berkhianat.
Dalam dunia aktivis dan perjuangan, aib dari integritas dapat terkonfirmasi dari pengkhianatan. Motif pengkhianatan biasanya karena ingin cari selamat sendiri hingga mencari keuntungan dari pengkhianatan, baik berupa materi (baca: uang) maupun jabatan.
Nilai integritas itu lebih tinggi ketimbang kepintaran. Orang yang bodoh bisa diajari dan menjadi pintar atas suatu masalah. Namun, orang yang tidak berintegritas, bermental pembohong dan pengkhianat, tidak mungkin diajari integritas untuk menunjukan profesionalitas.
Integritas itu adalah bagian dari habit, suatu karakter yang telah diuji oleh waktu dan pengalaman. Cara menilai integritas adalah dari Track Record, bukan dari omongan.
Jika nilai integritas, yang menjadi basis value sebuah ikatan itu hilang, atau baru diketahui sudah tak lagi menjadi prioritas hubungan, maka bagi pihak yang berintegritas tidak mengapa untuk memutus hubungan. Karena interaksi yang berbasis integritas, tak mungkin dipertahankan saat integritas itu kehilangan basis pijakan.
Akan tetapi, jika dalam perjalanan interaksi integritas itu diuji, goyah namun bisa kembali berkomitmen, maka tak mengapa sebuah hubungan dipertahankan karena adanya ujian kehidupan. Sebab, tak ada pribadi yang sempurna dalam hidup ini (No Body Is Perfect).
Berbeda dengan interaksi berbasis integritas. Interaksi berbasis uang, biasanya tak peduli atas kejujuran. Yang penting bayar, siapapun akan merasa ada alasan untuk bertahan, karena telah dibayar untuk bertahan dalam situasi itu.
Meskipun, pilihan yang terakhir ini bukan karakter Penulis. Karena bagi penulis, tak ada nilai uang yang dibangun diatas pijakan ketidakjujuran.
Jadi, bagi siapapun yang memiliki mitra yang berintegritas, pertahankan. Karena sulit sekali mencari mitra yang berintegritas, di tengah kehidupan sekuler yang serba pragmatis.
Sebaliknya, tak usah menghambur-hamburkan energi dan perasaan, untuk mempertahankan hubungan yang telah dikhianati. Mencari mitra baru yang berintegritas, lebih baik dan memberikan manfaat ketimbang bertahan dengan interaksi tanpa integritas. Itu artinya, anda telah membayar harga yang mahal untuk sebuah misi yang sia-sia, bahkan merusak masa depan anda sendiri. (***)
Penulis adalah Advokat & Aktivis



0 Comments