![]() |
| Pratikno seusai ke luar dari rumah Jokowi di Solo, Jawa Tengah. (Foto: Ist/bittvonline) |
SECARA hierarki struktural, Pratikno bukan bawahan Joko Widodo (Jokowi). Namun dalam konteks kasus ijazah palsu, Pratikno dapat dianggap 'punya peran' dalam kasus ini.
Prof. Yudhie Haryono, bahkan menyebutnya sebagai 'aktor tunggal' di balik kasus pemalsuan ijazah Jokowi. Pratikno sendiri, sebagai mantan Menteri Sekretaris Negara dan mantan Rektor UGM, membantah tuduhan tersebut dan meminta publik mempercayai keabsahan ijazah yang dikeluarkan oleh institusi pendidikan, dalam hal ini Universitas Gadjah Mada (UGM).
Jika benar pernyataan Prof Yudhie Haryono, maka mengungkap kasus ini menjadi lebih berat. Karena otoritas UGM lainnya, merasa data yang mereka rilis benar. Padahal, ada kutak-katik Pratikno di belakangnya.
Jokowi sendiri merasa keliru perhitungan politik. Karena yang dihadapi saat ini bukanlah aktor politik atau pejabat yang mudah dikendalikan, diancam kasusnya dibongkar atau diiming-imingi uang dan jabatan. Lawannya adalah Roy Suryo cs, yang diback up oleh sejumlah advokat yang berlatar aktivis.
Yang lebih berat lagi, Jokowi tidak hanya menghadapi Roy Suryo cs. Melainkan, menghadapi jutaan rakyat yang memiliki keyakinan sama dengan Roy Suryo: ijazah Jokowi palsu.
Keyakinan itu sederhana dasarnya. Mayoritas rakyat, tak percaya foto pria berkacamata dalam ijazah adalah foto Jokowi.
Mulanya, tim Roy Suryo cs masih ragu. Apakah ijazah yang beredar, seperti yang di-upload oleh Dian Sandi kader PSI (Partai Solidaritas Indonesia), atau dokumen ijazah Jokowi yang diperoleh dari Komisi Pemilihan Umum dan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPU dan KPUD), sama dengan yang dimiliki Jokowi.
Tanggal 15 Desember 2025, semua terungkap. Ternyata, ijazah Jokowi yang diperlihatkan dalam gelar perkara khusus adalah ijazah yang sama: ijazah dengan foto pria berkacamata dan berkumis tipis, foto pria lain yang mustahil itu foto Jokowi.
Roy Suryo mengomentari foto itu terlalu kontras, untuk dokumen yang berusia lebih dari 40 tahun. Sementara Rustam Efendi, langsung berkomentar: ijazah palsu itu ! Itu foto bukan foto Jokowi. Itu mata, bukan mata Jokowi. Itu bibir bukan bibir Jokowi. Itu telinga bukan telinga Jokowi. Itu ijazah palsu Pak Polisi.
Di sisi lain, Jokowi berusaha memframing seolah Roy Suryo cs mengakui bersalah dan meminta maaf. Ada 12 orang Terlapor dinyatakan diberi maaf, kecuali 3 nama.
Akan tetapi, framing dan playing victim ini gagal total. Roy Suryo dkk tak pernah meminta maaf, lalu siapa yang mau dimaafkan?
Ijazah Jokowi pasca diperlihatkan, makin jelas kepalsuannya. Harusnya, Jokowi yang meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia karena telah berbohong selama ini.
Dalam konteks itulah, sepertinya Pratikno dipanggil Jokowi kemarin (Ahad, 28/12/2025). Pertemuan itu bukan sekadar liburan akhir tahun, tapi kuat dugaan ada kaitannya untuk mengantisipasi pertarungan lanjutan kasus ijazah palsu.
Apa yang mereka bahas? Pratikno tak mengungkap, bahkan menghindari pernyataan wartawan. Sedangkan publik makin yakin, kasus ijazah palsu menjadi latar pertemuan Jokowi - Pratikno di Solo tempo hari. (***)
Penulis adalah Advokat dan Koordinator Non Litigasi Tim Advokasi Anti Kriminalisasi Akademisi & Aktivis




0 Comments