![]() |
| Yudi Latif. (Foto: Istimewa) |
SAUDARAKU Bintang Mahaputera, sejak mula, diciptakan sebagai
mahkota kenegaraan: tanda bahwa Republik tahu cara menghormati putra bangsa
terbaik. Simbol ini pernah menghiasi dada Jenderal Soedirman - Panglima Gerilya
yang dengan paru-paru yang tinggal separuh tetap memimpin perang mempertahankan
Republik. Ia pernah bersinar di dada Mohammad Natsir - Perdana Menteri yang
dengan Mosi Integral menyatukan kembali Indonesia dalam bentuk NKRI (Negara
Kesatuan Republik Indonesia). Ia juga pernah terpancang di dada Ki Hajar
Dewantara - Bapak pendidikan nasional, yang dengan Taman Siswa mencetak
generasi merdeka, juga perancang pasal-pasal pendidikan dan kebudayaan dalam
konstitusi.
Di dada mereka, bintang itu tampak wajar, seakan hanya
melanjutkan sinar pengabdian yang memang telah terpancar dari hidup mereka.
Bintang itu bukan sekadar logam, melainkan pantulan dari jasa dan pengorbanan
yang tulus bagi bangsa.
Tetapi kini, sejarah berbalik arah. Bintang Mahaputera, yang
dulu dipersembahkan untuk para pemikul beban Republik, kini kerap jatuh menjadi
sekadar bros pesta politik. Ia tidak lagi dipakai untuk menandai pengabdian
kepada negara, melainkan untuk menandai kesetiaan pada seorang. Simbol sakral
berubah menjadi souvenir, tanda terima kasih bagi para pengiring kuasa.
Ironi pun menohok: baru diangkat jadi pejabat, belum sempat
menorehkan karya berarti, sudah disematkan bintang Mahaputera. Bintang yang
dulu menyinari jalan bangsa kini dipakai untuk menyoroti panggung kekuasaan.
Bukan lagi penanda pengabdian, melainkan aksesori yang menutupi noda kompromi.
Maka lengkaplah satir sejarah ini: dari Soedirman yang
memimpin perang dalam sakit, dari Natsir yang mengorbankan diri demi persatuan,
dari Ki Hajar yang mendidik bangsa dengan jiwa—kita bergeser ke masa ketika
bintang itu diberikan sekadar karena kedekatan dan kepatuhan.
Dan rakyat pun tahu, meski tak selalu bersuara: bintang yang
dulu abadi kini hanya sekadar lampu sorot sesaat, sekadar bros yang tersemat di
dada, kehilangan kemilau aura sejatinya. (***)




0 Comments