Kendati Jelas Salah, Pemimpin Sulit Minta Maaf

Baca Juga

Ilustrasi berat meminta maaf. 
(Foto: Istimewa)  



Oleh: Nur Hidayat

 

 

BIPANG Ambawang adalah "sumber kegaduhan baru" yang dilontarkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), ketika mengajak warga masyarakat yang dilarang mudik untuk membeli secara daring makanan khas daerah. Bipang (babi panggang) Ambawang adalah kuliner khas Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar). Jelas makanan haram bagi umat Islam.

Apakah Jokowi tidak mengerti kepanjangan bipang, keseleo lidah atau ketidaksengajaan, dia jelas salah. Itu karena dia mengucapkannya dalam konteks mengajak warga masyarakat merayakan Idhul Fitri, hari raya umat Islam.

Apa Jokowi lantas minta maaf? “Pemimpin kita terlalu sulit mengakui suatu kekeliruan. Tidak ada salahnya jika meminta maaf atas kekeliruan itu,” kata politikus PDIP Kapitra Ampera. Dia juga mengkritik upaya para pembantu Presiden Jokowi yang justru mencari pembenaran atas kesalahan fatal tersebut. Ibarat anjing yang selalu membela tuannya.

Jokowi mungkin tergolong non-apologis, orang yang sulit meminta maaf. Non-apologis tidak pernah bisa mengakui kesalahannya, karena hal itu memicu ketidaknyamanan bagi mereka. Bagi beberapa bos, ketakutan terbesar mereka adalah jika mereka terlihat lemah karena mengakui kesalahan.

Oleh karena itu, mereka mencoba mempertahankan citra kesempurnaannya. Padahal, "penolakan untuk mengakui kesalahan" jelas merupakan salah satu tanda seorang pemimpin yang lemah. Itu saja banyak pemimpin yang tidak tahu. Suatu survei menunjukkan semakin tinggi suatu tingkatan manajemen, semakin sulit mereka untuk meminta maaf.

Tentu ada perkecualian. Orang-orang sedikit kaget dengan permintaan maaf yang sangat jelas dan langsung oleh kepala Volkswagen Group of America, Michael Horn. Permintaan maaf tersebut keluar sesaat setelah VW ketahuan melakukan kecurangan pada tes emisi.

"Perusahaan kami sebenarnya jujur. Tapi, kami telah benar-benar kacau. Kami berkomitmen untuk melakukan apa yang harus dilakukan dan akan mulai mengembalikan kepercayaan Anda," kata dia dan diikuti oleh mundurnya CEO VW Martin Winterkorn.

Sejumlah pemimpin dunia mengakui kelemahan dan meminta maaf atas kesalahan mereka dalam menangani pandemi Covid-19. Perdana Menteri Yoshihide Suga menyatakan permintaan maafnya atas kegagalan pemerintah Jepang memberikan layanan kesehatan dan perawatan medis yang memadai ketika Jepang dihadapkan gelombang ketiga penularan corona.

"Sebagai orang yang bertanggung jawab (atas tugas pemerintah) saya meminta maaf," kata Suga di depan anggota parlemen seperti dilansir NHK. Permintaan serupa juga disampaikan oleh Perdana Menteri Australia Scott Morrison, PM Inggris Boris Johnson, Kanselir Jerman Angela Merkel, Presiden Meksiko Andrés Manuel López Obrador, PM Swedia Stefan Lofven dan Presiden Brasil Jair Bolsonaro.

Ustadz Buya Yahya mengatakan bahwa orang yang meminta maaf terlebih dahulu derajatnya lebih tinggi dan lebih dicintai Allah SWT. “Dalam hadis disebutkan, bahwa orang yang lebih dulu meminta maaf derajatnya di hadapan Allah SWT lebih tinggi dan lebih dicintai Allah SWT dari yang dimintai maaf," tuturnya.

Meminta maaf juga tidak perlu menunggu momen khusus seperti di bulan Ramadhan atau Hari Raya Idhul Fitri. Ustadz Adi Hidayat mengatakan meminta maaf itu tidak perlu ditunda-tunda. “Meminta maaf itu bukan hanya saat Ramadhan, tapi setiap waktu,” ujarnya.

Firman Allah SWT, "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa." (QS Ali Imran: 133).

Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah telah memaafkan ummatku yang berbuat salah karena tidak sengaja, atau karena lupa, atau karena dipaksa.” (HR Ibnu Majah, Al Baihaqi, Ibnu Hazm).

"Karena masalah bipang Ambawang dan itu jelas salah, saya mohon maaf kepada umat Islam," kata seseorang. (***)

 

Penulis adalah pemerhati masalah social.

Post a Comment

0 Comments