Isra’ Mi’raj: Ujian Keimanan Dan Pentingnya Shalat 5 Waktu

Baca Juga

Ilustrasi, seseorang melaksanakan shalat.  
(Foto: Istimewa/ji)  



Oleh: Nur Hidayat

 

KALAU mengandalkan akal yang amat terbatas kemampuannya itu, orang tidak akan mempercayai Isra' Mir'aj: Perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Masjidil Aqsa, di Yerusalem, lalu ke Sidratul Muntaha di langit ke tujuh. Pulang balik bersama malaikat Jibril dan menaiki buraq hanya dalam waktu sebagian malam, 27 Rajab.

Dalam perjalanan yang sangat singkat itu, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Adam, Yahya, Isa, Idris, Harun, Musa, dan Ibrahim. Di masjidil Aqsa Nabi Muhammad SAW shalat bersama dengan seluruh nabi dan rasul yang pernah diutus ke muka bumi. "Di sana Rasul memimpin shalat dari 125 ribu nabi dan rasul Allah," ujar ulama asal Palestina, Syekh Emad Yousef.

Di Sidratul Muntaha itu Rasulullah SAW menerima perintah shalat, langsung dari Allah SWT. Inilah satu-satunya ibadah yang perintahnya langsung dari Allah SWT, tidak melewati perantara malaikat Jibril atau lewat mimpi. Itu menunjukkan betapa peting shalat bagi setiap orang mukmin dan muslim.

Dan saat berada di langit ketujuh, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Ibrahim yang perawakannya sangat mirip dengannya. Dari perjalanan inilah beliau mendapatkan banyak sekali pesan dari para nabi lain untuk penyebaran Islam kepada umat muslim.

Shalat ibadah pertama yang akan dihisab, dihitung. Karena semua itu, jangan sampai kita sengaja meninggalkan shalat. Jika kita tidak bisa shalat dengan berdiri, bisa duduk. Tidak mampu duduk, dengan berbaring dan kerdipan mata. Shalat adalah "tiang agama", sehingga orang yang tidak shalat berarti merobohkan tiang itu.

Shalat itu juga membedakan orang mukmin dan orang kafir, Islam KTP (Kartu Tanda Penduduk) dan munafik. Rasulullah SAW bersabda, "(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR Muslim). Umar bin Khattab juga menegaskan, “Tidak disebut muslim bagi orang yang meninggalkan shalat."

Ketika pagi hari tiba, Nabi Muhammad SAW yang sudah tiba di rumah Ummu Hani mengisahkan dua peristiwa luar biasa tersebut kepada sang sepupu. Mendengar cerita itu, Ummu Hani membujuk Rasulullah SAW untuk tidak menyebarkannya kepada orang-orang. Di tengah kebencian kaum kafir Quraisy, kisah tadi akan mudah jadi bahan olok-olok untuk menyerang Islam.

Namun, Nabi Muhammad SAW berkeras untuk menyampaikan peristiwa yang dialami beliau semalam. Peristiwa itu sampai pula di telinga Abu Bakar. Awalnya, ia mengira ini hanyalah dusta yang dikarang oleh para musuh Rasulullah SAW. Namun, ketika diberitahu, Nabi sendiri yang bercerita, Abu Bakar langsung yakin, peristiwa itu benar adanya.

Isra' Mi'raj adalah ujian keimanan. Hanya orang beriman sajalah yang mempercayai kejadian yang di luar nalar itu. Mereka yang kafir menafikan fakta bahwa Allah Maha Kuasa. Tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Dia pula yang menurunkan Nabi Adam dan Siti Hawa dari surga ke bumi. Dia pencipta alam semesta dengan milyaran bintang gemintang.

Kamis ini, 11 Maret 2021, kita peringati Isra' Mi'raj. Kesempatan untuk merenungkan kejadian yang amat sangat luar biasa itu. Mencari makna dan hikmahnya. Sekaligus mawas diri, seberapa baik dan khusyu' shalat kita. Seberapa tebal dan kokoh keimanan kita. Seberapa patuh kita menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Allah Ta'ala berfirman, "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Rabb-nya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS al Baqarah: 45-46).

Shalat menjadi pintu gerbang yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya. Shalat adalah Miraj bagi seorang muslim. Artinya, dengan menjalankan shalat yang baik, seorang hamba sedang melakukan perjalanan ruhiyah ke haribaan Ilahi, Allah SWT. (***)

 

Penulis adalah pemerhati Islam.

 

Post a Comment

0 Comments