ICMI Kota Tangerang Bedah Buku ‘Islam Membaca Realitas’ Dan ‘Sastra Betawi’

Baca Juga

Buku "Membaca Realitas Islam" diperlihatkan 
penulisnya Dodi Riyadi (kedua dari kiri). 
(Foto: Istimewa) 



NET – Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Daerah (Orda) Kota Tangerang melaksanakan rapat harian sekaligus membedah buku di Resto Jaga Rawa, Cipondoh, Sabtu (20/3/2021).

Ketua Umum ICMI Orda Kota Tangerang Ahmad Jazuli Abdillah menyebutkan dalam kondisi pandemic Covid-19, organisasi tetap berjalan. “Hari ini, kita rapat membahas tentang rencana kerja dan sekaligus membedah buku. Sebagai cendikiawan kita terus membaca dan bahkan di antara kita mampu menulis buku,” ucap Jazuli saat membuka acara.

Jazuli yang juga anggota DPRD Banten itu menyebutkan hebatnya anggota ICMI dalam kesibukan masing-masing tapi mampu menulis buku. Pertama buku ditulis oleh Dodi Riyadi dengan judul “Islam Membaca Realitas” dan Dayat Ilyas menulis buku tentang “Sastra Betawi” yang mengupas tentang musik Gambang Kromong.

 Kedua buku tersebut dikumpas tuntas dengan moderator Baehaqi yang juga dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT). Dr Mahfud Fauzi yang mengupas buku “Islam Membaca Realitas” menaruh apresiasi.

“Buku ini kumpulan tentang tulisan sekitar sepuluh tahun lalu tapi masih relevan dengan kondisi sekarang. Misalnya, penulis menggugat tentang ujian nasional dan sekarang sudah terjawab oleh Mas Menteri Nadiem Makarim (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan-red),” tutur Dr Mahfud.

Begitu juga menggugat tentang perguruan tinggi, kata Mahfud. Sekarang ini dosen sudah seperti buruh. Misalnya, tentang kegiatan suatu penelitian yang dilakuukan seorang dosen yang dipersoalkan bukan hasil penelitiannya tapi justru yang dikejar itu adalah penggunaan dana.

“Hasil penelitian menjadi tidak penting namun yang penting adalah laporan keuangannya,” ucap Mahfud sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sedangkan buku Sastra Betawi yang ditulis Dayat Ilyas menyebutkan untuk menulis tentang sastra bukan perkara mudah karena literature sangat sedikit dan pelaku sastra pun sulit dicari. “Kita tidak tau kalau di Kota Tangerang yakni di Neglasari ada penyanyi Gambang Kromong mendapat pengakuan dan penghargaan internasional. Setelah diberitakan di Koran nasional baru kita tau ada penyanyi hebat di Negalsari,” ucap Dayat yang dikenal sebagai budayawan itu.

Mendengar kupasan dari Dayat mendapat tanggapan dari Irma Nugraha yang sehari-harinya adalah guru SMA. “Sebagai guru SMA, saya merasakan perlu tentang diperkaya dengan buku sastra. Begitu  juga dengan kegaitan budaya,” ucap Irma.

Irma menyebutkan budaya Palang Pintu bukan hanya ada di Betawi di Sumatera Barat (Minangkabau) pun ada. “Hanya dalam penggunaan bahasa yang di Minangkabau lebih halus pantun yang disampaikan. Sedangkan Palang Pintu Betawi blang belontong,” ujar Irma serius.

Rapat pengurus harian ICMI Orda Kota Tangerang dengan pembawa acara Garry dihadiri Sekretaris ICMI Hilman dan hadir pula Dewan Pakar Dr. Susari. (ril)    

Post a Comment

0 Comments