Cermin Masa Lalu Untuk Kisah Simbolik Perseteruan Masa Kini

Baca Juga

Irwan Jamal 
(Foto: Istimewa/koleksi pribadi)



Oleh: Irwan Jamal

(Pengantar bagi pementasan Lakon Edan).

LAKON Edan diciptakan tahun 1967, tahun pascaketegangan dan kegentingan 1965 dalam sejarah Republik ini. Tahun selepas peralihan kekuasaan dan pergantian Orde. Dalam lakon Edan, tampak jelas tersirat pengaruh dari suasana situasi-kondisi masa tersebut yang hadir dan menjelma dalam peristiwa drama Edan. Perang saudara, perang pemahaman sebagai latar belakang kisah ini, menghadirkan manusia-manusia yang menjelma menjadi 'srigala' bagi manusia lain. 

Kelompok Aktor Piktorial Bandung memilih lakon Edan yang berasal dari masa lalu dan berupaya untuk menghadirkannya sebagai gambaran dari situasi masa kini. Lakon Edan berkisah tentang perang saudara yang menghancurkan persaudaraan. Homo homini lupus, kata Thomas Hobes, “manusia adalah serigala bagi sesamanya”, istilah ini saya baca tampil tersirat dalam bentuk lakon Edan. 

Lakon Edan, bagi saya, seperti cermin dari masa lalu yang menampilkan kisah simbolik tentang hasrat kekuasaan dan keserakahan manusia yang akhirnya justru melahirkan perang. Dan perang adalah sumber kejahatan. Dalam perang itu lahir kelaparan, kebodohan dan permusuhan. 

Dikisahkan dalam lakon Edan, dalam penantian dan persiapan perang saudara yang akan berlangsung, manusia-manusia mulai kehilangan akal sehatnya. Pada titik puncak kejenuhan, rasa lelah dan lapar sebagai dampak dari penantian yang panjang untuk perang yang akan berlangsung mereka menjelma menjadi ‘manusia-manusia edan’.

Pada mulanya di awal kisah ada sekelompok orang yang makan daging temannya sendiri, disatroni oleh kelompok lain yang hendak menghakimi mereka. Kelompok yang akan menghakimi ini menuduh, mengumpat, mengatakan mereka yang makan daging temannya sendiri adalah binatang, manusia bejat dan biadab. Pada akhir kisah, kelompok yang akan menghakimi ini justru kemudian ikut memakan daging temannya sendiri. Mereka menjadikan kawannya sendiri sebagai santapan. 

Saya melihat, lakon Edan sebagai kisah simbolik dari masa lalu yang menemukan lagi celah kisah dalam situasi dan kondisi sekarang. Menjelang Pemilu Presiden 2019, saya menonton berita di teve, membaca informasi dari surat kabar, meninjau status, pesan dan komentar di media sosial, di sana orang-orang seperti ingin saling menghancurkan, membuka benih front pertempuran dengan sesama saudaranya sebangsa setanah air. Sebagian dari saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air kini berada dalam kondisi ‘perang dingin’. Dua golongan besar terbentuk. Dan terbayang dalam mata saya, lakon Edan yang menjelma. 

Saya ingin menyerap kondisi carut marut menjelang Pemilu ini dan melesakkan segala yang saya serap itu untuk bersekutu dengan lakon Edan. Pencapaian yang ingin saya dapat dari garapan ini adalah, lakon Edan sebagai kisah simbolik dari masa lalu bersenyawa dengan situasi masa kini dan hadir menjelma dalam realitas panggung. Dalam penyajian alur kisahnya, saya memperlakukan dan menggarap lakon Edan sebagai anekdot. Sedangkan bentuk lakonnya saya jelmakan sebagai komedi, lebih tepat jika saya katakan – meminjam istilah dari Andre Breton- sebagai komedi hitam. 

Istilah komedi hitam bisa lebih menggambarkan lakon Edan, karena lakon ini mengandung makna mengerikan dan kejam dibalik leluconnya. 

Lakon Edan tampak terpengaruh oleh paham eksistensialis dan kecenderungan bentuk lakon absurd. Dalam lakon Edan, tokoh-tokohnya tidak beridentitas. Seperti kecenderungan di beberapa naskah-naskah Putu Wijaya, para tokoh dalam lakon Edan tidak memiliki nama. Kalau dibaca sekilas, naskah ini akan sulit dipahami, namun menariknya, naskah ini berhasil memenangkan hadiah pertama sayembara penulisan naskah lakon yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1976.

Seperti gagasan-gagasan Putu Wijaya yang dalam naskah-naskahnya menampilkan hal-hal yang lucu, remeh, aneh, kadang kala tak masuk akal, maka saya bersama kawan-kawan di Piktorial juga melakukan pendekatan teknik penciptaan lakon Edan ini dengan mencari hal-hal yang naïf, sederhana, lugu, terang-terangan, penuh humor dalam penggalian expresi untuk bentuk pemanggungan kami.

Bandung, November 2018.

Penulis adalah:
Teaterawan dan Sutradara Teater Pictorial.

Post a Comment

0 Comments