SMAK Demo KPK Minta Agar Tuntaskan Dugaan Korupsi Di PLN

Baca Juga


Para pengunjuk rasa dengan menggunakan topeng Dirut PLN Sofyan Basir   
membentangkan spanduk di depan kantor KPK, Jakarta Selatan. 
(Foto: Dade fachri/TangerangNet.Com)   
NET - Mahasiswa Jakarta tergabung dalam Solidaritas Mahasiswa Anti Korupsi (SMAK), melakukan aksi massa di depan gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jalan Kuningan Persada Kav-4, Jakarta Selatan, Jumat (10/8/2018).

Mereka memakai topeng kartun dengan gambar Sofyan Bashir, Direktur Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan meneriakan yel-yel dan membawa spanduk yang bertuliskan ‘Tangkap dan penjarakan Sofyan Bashir’.

"KPK jangan takut, kami mahasiswa dan rakyat Indonesia di belakangmu. Novel Bawesan datang Sofyan Bashir pasti tersangka,” ujar Koordinator Aksi Solidaritas Mahasiswa Anti Korupsi (SMAK) Landun Bachtiar.

Pengunjuk rasa, kemudian melakukan aksi-aksi teatrikal dengan menginjak poster-poster Sofyan Bashir dan kemudian membakarnya.

Landun mengatakan Solidaritas Mahasiswa Anti Korupsi (SMAK) selama ini, ikut mencermati dan memantau perkembangan pembangunan Program Presiden Jokowi pengadaan listrik 35.000 MW di PLN yang nilainya ratusan triliun rupiah. Dan mengaku merasa miris dengan prilaku koruptor dari para pejabat yang terlibat.

“Dari hasil tangkap tangan KPK pada pembangunan pembangkit PLTU mulut tambang Riau 1 2×300 MW dari pangkuan yang disidik KPK, ada fee yang dibagi-bagi sejumlah 2,5 persen nilai proyek yang besarnya dikisaran bernilai 300 miliar rupiah yang dibagi ke Komisi VII, partai politik dan petinggi PLN,” ujarnya.

SMAK menuntut agar Sofyan Bashir yang statusnya sekarang sedang terperiksa agar segera ditetapkan sebagai tersangka dan segera dipenjarakan.

“Karena menurut logika saja, tidak akan mungkin pihak Black Gold Natural Resorces memberikan uang kepada pihak Wakil Ketua Komisi VII Eni M. Saragih, jika tidak ada perintah dari pihak PLN yang menunjuk BGNR sebagai pelaksana proyek,” ujarnya.

Pengunjuk rasa percaya akan profesionalitas KPK dan menurut berita dari media, bukti-bukti dan saksi sudah cukup untuk mentersangkakan SB. Namun SMAK merasa perlu untuk memberikan dukungan dan juga tekanan. Jika perlu apabila pihak KPK mendapat tekanan pula dari pihak-pihak yang tidak suka koruptor kelas kakap diproses hukum.

Landun mengatakan kasus tangkap tangan proyek pembangkit PLTU mulut tambang Riau I oleh KPK adalah merupakan puncak gunung es di lautan yang kelihatan ujungnya sedikit.

Namun, lanjutnya, yang belum terlihat adalah gunung raksasa di bawah laut dari mega korupsi pembangunan pembangkit 35.000 MW yang bernilai triliunan rupiah.

“Jika KPK mampu untuk menuntaskan kasus Riau I ini, maka SMAK percaya KPK akan mampu untuk membedah mega korupsi yang bernilain seratus kali lebih besar dari kasus Riau I, semua itu terjadi setelah PLN di bawah kepemimpinan Sofyan Bashir,” ungkap Landun.

Sementara itu, SMAK sangat mengharapkan komisi anti-rasuah yang sangat dibanggakan oleh masyarakat itu mampu untuk membongkar habis kasus korupsi Pembangkit 35.000 MW ini.

Karena, kata dia, pasti akan berdampak kepada keselamatan uang Negara bernilai triliun rupiah dan akan menghemat biaya produksi listrik nasional yang selanjutnya berdampak mengurangi beban rakyat.

“Setiap korupsi yang dilakukan PLN yang selama ini, pada ujungnya yang harus membayar mahal tagihan listrik PLN adalah rakyat Indonesia sebagai konsumen,” ucap Landun. (dade)

Post a Comment

0 Comments