Berita Terkini

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Bahaya Overconfidence

Ilustrasi, proses terjadi over confidence
(Foto: Ist/koleksi pribadi TFP) 



Oleh: Taufiq F. Pasiak  


SYABILLA  Rizkia Putri Raharja baru berusia 22 tahun. Dua medali emas telah diraihnya untuk Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, dalam Porprov XVII Jawa Tengah 2026. 


Jumat, 23 Oktober, ia memenangkan nomor 100 dan 200 meter bifins putri. Dua hari kemudian, Minggu pagi, ia kembali bertanding, kali ini di perairan Awan Costa, Semarang. Sekitar pukul sembilan, seorang petugas melihatnya melambaikan tangan pada putaran kedua. Perlombaan berlanjut. Pada putaran ketiga, Syabilla terlihat tenggelam. Pertolongan kemudian datang, tetapi nyawanya tidak terselamatkan. Ia wafat di arena renang yang dikuasainya. 


Penulis membaca berita itu dengan perasaan sedih. Seorang atlet muda meninggal ketika sedang melakukan sesuatu yang sangat dikuasainya. Penulis tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam pikiran Syabilla. Polisi menyebut dugaan kelelahan. 


Belum ada dasar untuk mengatakan ia terlalu percaya diri. Namun, peristiwa ini membawa penulis pada satu persoalan dalam ilmu otak dan perilaku: mengapa manusia kadang gagal mengenali batas kemampuannya justru ketika ia merasa paling menguasai keadaan?


Dalam psikologi, kita mengenalnya sebagai overconfidence (terlalu percaya diri-red). Ini bukan sekadar soal percaya diri, melainkan keyakinan yang melampaui kemampuan atau bukti yang tersedia. Orang yang mengalaminya tidak selalu sombong. Ia bisa sangat terampil, berpengalaman, bahkan terkenal berhati-hati. 


Persoalannya muncul ketika pengalaman keberhasilan masa lalu dipakai sebagai jaminan bahwa situasi berikutnya juga dapat diatasi.


Pada Juli 1999, John F. Kennedy Jr. menerbangkan pesawat Piper Saratoga menuju Martha’s Vineyard. Ia memiliki lisensi pilot, tetapi belum memenuhi kualifikasi untuk menerbangkan pesawat hanya dengan mengandalkan instrumen dalam kondisi yang memerlukannya. 


Malam itu, di atas laut yang gelap dan berkabut, orientasi visual menjadi sulit. Pesawat jatuh dan menewaskan Kennedy bersama dua penumpangnya. Badan Keselamatan Transportasi Amerika Serikat, NTSB, menyimpulkan bahwa penyebab utamanya adalah hilangnya kendali akibat spatial disorientation. 


Keputusan Kennedy terbang sendiri dalam kondisi tersebut mengingatkan kita pada bahaya salah menilai kemampuan, meskipun penyelidikan tidak menetapkan overconfidence sebagai diagnosis psikologisnya.


Pada Mei 1996, Rob Hall, pendaki dan pemandu gunung berpengalaman asal Selandia Baru, meninggal di Everest. Ia telah berkali-kali mencapai puncak gunung tertinggi dunia. Dalam pendakian yang kemudian menjadi salah satu tragedi paling terkenal dalam sejarah Everest, Hall bertahan bersama kliennya yang mengalami kesulitan, sementara cuaca memburuk. 


Keputusannya tidak bisa begitu saja disebut kesombongan. Ada tanggung jawab terhadap klien, kondisi ekstrem, keterlambatan, dan sejumlah keputusan yang saling berkaitan. Namun, tragedi itu memperlihatkan betapa pengalaman luar biasa sekalipun tidak memberikan kekebalan terhadap risiko.


Dalam kedokteran, kisah Alexander Bogdanov lebih mengusik lagi. Dokter Rusia ini mendirikan lembaga penelitian transfusi darah pada 1926. Ia meyakini transfusi dapat memperbaiki kondisi tubuh, bahkan berpotensi memperpanjang usia. Ia menjadikan dirinya sendiri subjek percobaan. Sebelas transfusi sebelumnya tidak menimbulkan reaksi berat. Transfusi kedua belas, pada 1928, berakhir dengan reaksi fatal. Bogdanov meninggal akibat eksperimen di bidang yang justru menjadi keahliannya. 


Riwayat institusi yang pernah dipimpinnya mencatat kejadian tersebut.


Ada yang menarik di sini: apakah keberhasilan sebelas kali dapat membuat seseorang menganggap percobaan kedua belas juga aman? 


Kita tidak mengetahui seluruh pertimbangan Bogdanov, tetapi pertanyaan itu penting, termasuk bagi dokter yang setiap hari mengambil keputusan berisiko.


Dalam buku penulis, The 7 Laws of the Brain (2026), penulis mengulas bagaimana otak bekerja melalui kecenderungan-kecenderungan yang dahulu membantu manusia bertahan hidup. Salah satunya The Threat-Biased Brain, kecenderungan memberi perhatian besar pada potensi ancaman. Namun, sistem kewaspadaan tidak selalu bekerja dengan ketepatan yang sama. 


Bahaya yang telah berkali-kali kita hadapi tanpa akibat buruk dapat terasa semakin biasa.

Dari perspektif neurosains, penilaian risiko (mitigasi resiko) melibatkan kerja bersama korteks prefrontal, insula, anterior cingulate cortex, serta jaringan yang memproses emosi, pengalaman dan penghargaan. 


Otak menggunakan keberhasilan terdahulu untuk memperkirakan kemungkinan keberhasilan berikutnya. Mekanisme ini berguna. 


Tanpanya, manusia sulit belajar dan membangun keahlian, tetapi ketika prediksi terlalu dipengaruhi pengalaman sukses, seseorang dapat meremehkan (“pandang enteng” dalam bahasa Manado) perubahan keadaan, kelelahan, atau tanda bahaya yang baru muncul.


Ketika ini terjadi, metakognisi menjadi penting: kemampuan memeriksa ketepatan penilaian kita sendiri. 


Seorang ahli bukan hanya perlu mengetahui apa yang sanggup ia kerjakan. Ia juga perlu mengenali kapan penilaiannya mulai tidak dapat dipercaya. 


Kelelahan, tekanan kompetisi, tuntutan profesional, dan keinginan menyelesaikan pekerjaan dapat mengganggu kemampuan tersebut.


Kondisi ini kerap menjadi perhatian penulis sebagai dokter dan dosen kedokteran. 


Dokter yang telah melakukan ratusan prosedur dengan berhasil tetap membutuhkan daftar periksa, protokol, kolega yang berani mengingatkan, dan keberanian untuk menghentikan tindakan. 


Semua itu bukan penghinaan terhadap kompetensi. Justru karena manusia dapat keliru, termasuk manusia yang sangat kompeten.


Meski begitu, kita juga harus berhati-hati agar konsep overconfidence tidak berubah menjadi tuduhan yang mudah dilemparkan kepada orang yang mengalami kecelakaan. 


Syabilla belum tentu terlalu percaya diri. Kennedy mengalami disorientasi spasial. Hall menghadapi keadaan ekstrem dan tanggung jawab terhadap kliennya. Bogdanov melakukan eksperimen dengan risiko yang belum sepenuhnya dipahami. 


Keempat kisah ini nyata, tetapi tidak semuanya membuktikan penyebab psikologis yang sama.

Yang dapat kita pelajari adalah persoalan lebih mendasar bahwa keahlian tidak menghapus keterbatasan biologis manusia.


Barangkali bahaya terbesar bukan ketika seseorang tidak mengetahui kemampuannya, melainkan ketika ia begitu mengenal keberhasilannya sehingga mulai kurang memperhatikan batas-batasnya.

Penulis membayangkan betapa sulitnya seorang atlet menghentikan perlombaan, seorang pilot membatalkan penerbangan, seorang pendaki berbalik sebelum puncak, atau seorang dokter mengakui bahwa tindakan yang telah biasa dilakukannya kini terlalu berisiko.


Padahal, pada keadaan tertentu, keputusan paling cerdas justru bukan meneruskan.

Melainkan berhenti.


Dan mungkin salah satu tanda kematangan seorang ahli adalah kemampuannya mengucapkan kalimat yang sangat sederhana, tanpa merasa kehilangan harga diri:


“Saya mampu melakukan ini. Tetapi belum tentu saya harus melakukannya.” (***)


Penulis adalah Ilmuwan Otak dan Perilaku



_Ngupi pagi usai Subuh., Kramat 2 Pangkalan Jati, 04.30, 261026.



 




Post a Comment

0 Comments