
Kyai Hasan Abdullah Sahal
(Foto: Ist/opsi.id)
Oleh: Fairus Khan Fajar
DI PONDOK Modern Gontor Ponorogo, Jawa Timur, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto disambut dengan cara yang tidak pernah dilakukan kepada pemimpin yang benar-benar dihormati.
Ia tidak disambut dengan puja-puji, ia disambut dengan peringatan keras dari langit: lantunan Surat Al-Ahzab ayat 70-73, tentang perintah bertakwa dan berkata benar, qaulan sadida.
Ini bukan penghormatan.
Ini tamparan.
Ini teguran terbuka yang dibungkus adab pesantren.
Para kiai Gontor terlalu beretika untuk berteriak di jalan, maka mereka memilih cara yang jauh lebih mematikan: memperdengarkan firman Allah tepat di depan muka presiden.
Dan mengapa ayat itu yang dipilih?
Karena Gontor tahu persis penyakit akut penguasa hari ini.
Pertama,
Perkataannya kasar dan tidak beretika.
Seorang presiden seharusnya menjadi teladan lisan, penjaga adab, cermin kesopanan bangsa. Tapi yang kita saksikan justru sebaliknya: ucapan meledak-ledak, nada mengancam, bahasa merendahkan, memaki kritik seolah rakyat adalah jongosnya.
Di podium resmi negara, kata-kata yang ke luar bukan kesejukan, tapi emosi tentara yang belum selesai dengan masa lalunya.
Tidak ada qaulan sadida, yang ada hanya qaulan ghalidza, perkataan kasar yang melukai.
Mana sopan santun seorang pemimpin?
Mana etika seorang negarawan?
Gontor yang mengajarkan adab sebelum ilmu, jelas muak melihat pemimpin yang bicaranya seperti preman pasar, bukan seperti kepala negara.
Kedua,
Perkataannya tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.
Di istana ia bicara Indonesia baik-baik saja, ekonomi kuat, rakyat sejahtera.
Tapi di luar istana?
Harga beras naik, minyak goreng langka, PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) di mana-mana, petani menjerit, nelayan menjerit, mahasiswa menjerit.
Ia bicara tentang keadilan, tapi hukum hanya tajam ke rakyat kecil dan tumpul ke para jenderal, konglomerat, dan keluarganya sendiri. Ia bicara pemberantasan korupsi, tapi maling-maling uang negara justru dipelihara di sekelilingnya.
Inilah kebohongan yang disindir Al-Ahzab: mengaku beriman, tapi lisannya tidak jujur. Mengaku memikul amanah, tapi perilakunya zalim dan bodoh seperti yang disebut di ayat 72.
Ketiga,
Dan ini yang paling berbahaya: ia tidak mendengarkan rakyat, ia hanya mendengarkan para pembisik.
Para penjilat, para buzzer bayaran, para menteri ABS (asal bapak senang) yang bisikannya manis tapi racun.
Suara rakyat yang lapar, suara buruh yang di-PHK, suara ibu-ibu yang menangis di pasar, tidak pernah sampai ke telinganya karena sudah disumbat oleh laporan palsu para pembisik istana.
Pemimpin yang tuli terhadap kenyataan tapi buta oleh pujian, adalah pemimpin yang sedang menggali kuburnya sendiri. Gontor paham itu.
Maka dibacakanlah ayat tentang amanah: bahwa langit dan bumi saja menolak memikul amanah karena beratnya, tapi manusia yang zalim justru merebutnya dengan rakus.
Pesan Gontor sangat jelas dan sangat pedas: Pak Prabowo, berhentilah kasar.
Berhentilah berbohong.
Berhentilah hidup dalam gelembung bisikan para penjilat.
Bertakwalah dan berkata benarlah, sebelum amanah ini berubah menjadi azab.
Karena ketika sebuah pesantren sekelas Gontor sudah harus menegur presiden dengan Al-Qur'an secara terbuka, itu artinya kerusakan lisan dan moral penguasa sudah sampai pada titik yang memalukan.
Ini bukan lagi kritik politik. Ini sudah peringatan agama.
Diamnya Prabowo saat ayat itu dilantunkan adalah pengakuan paling jujur dalam karier politiknya: ia tidak bisa membantah Kalamullah. (***)
Wassalam wong ndeso..



0 Comments