Berita Terkini

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Bawang, Beras, Dan Seni Mengalihkan Perhatian

Sudarsono Soedomo.
(Foto: Istimewa)  




Oleh: Sudarsono Soedomo




MINGGU lalu, jagat maya kita dihebohkan oleh sebuah angka yang begitu fantastis hingga membuat para ekonom, petani, hingga ibu-ibu yang biasa mengupas bawang di dapur saling melongo. Dalam pidato kenegaraan yang sakral, presiden dengan lantang mengumumkan bahwa upah mengupas bawang adalah Rp 700.000 per kilogram. 


Seketika, "indeks geger" nasional melonjak tajam. Para ibu rumah tangga mendadak merasa selama ini mereka telah bekerja secara filantropis—mengupas bawang bukan untuk dapur, melainkan untuk amal. Para petani bawang langsung merencanakan pensiun dini. Sementara itu, para ekonom sibuk menghitung ulang apakah kita sudah memasuki era pasca-kelangkaan di mana bawang lebih berharga daripada emas.


Belakangan, Istana mengklarifikasi bahwa itu hanyalah slip of the tongue—salah ucap. Oke, kita terima. Lidah memang kadang lebih cepat daripada otak, apalagi jika sedang berpidato berjam-jam tanpa henti. Tapi mari, kita berhenti sejenak dan bertanya dengan sopan: apa istimewa dan inspiratifnya mengangkat upah mengupas bawang dalam pidato kenegaraan yang begitu penting? 


Apakah presiden benar-benar berniat menjadikan mengupas bawang sebagai profesi masa depan yang menjanjikan? Atau jangan-jangan, ini bukan sekadar slip of the tongue, melainkan slip of the thought—ketidaksengajaan yang membocorkan isi kepala? Mungkin di alam pikiran yang mulia, mengupas bawang memang setara dengan kerja profesional bergaji tinggi, dan kita semua yang selama ini menganggapnya pekerjaan receh hanyalah orang-orang yang kurang menghargai seni kuliner.


Namun, di balik kehebohan bawang ini, ada satu hal yang jauh lebih menarik untuk diperhatikan. Saking ramainya orang membahas upah mengupas bawang, satu isu yang awalnya diharapkan akan meledak viral mendadak tenggelam tanpa bekas: ekspor beras ke Malaysia. 


Bayangkan skenarionya. Tim komunikasi pasti sudah menyiapkan confetti (kertas warna-warni perayaan), spanduk, dan rilis pers panjang lebar tentang "prestasi gemilang" ini. Mereka membayangkan ini akan menjadi berita utama, menjadi bahan obrolan dari Sabang sampai Merauke. Tapi apa daya, bawang lebih kuat daripada beras. Salah ucap tentang bawang ternyata lebih menarik perhatian publik daripada prestasi ekspor yang, mari kita jujur, agak lucu untuk dibanggakan di saat yang kurang tepat. Tim komunikasi pun gigit jari; confetti yang sudah disiapkan akhirnya dipakai untuk merayakan ulang tahun kucing peliharaan.


Padahal, jika mereka mau menengok ke bawah sedikit, realitas di lapangan jauh lebih kering—secara harfiah. Demi mengejar target produksi padi, seorang menteri pertanian (sebut saja 'Bapak Menteri' agar kita tetap santun) tetap memaksakan tanam padi meski musim kemarau sudah menggigit, diperparah oleh fenomena El Niño yang sedang tidak ramah. Solusi yang digembar-gemborkan? Pompanisasi! Terdengar canggih, modern, dan solutif di atas kertas.


Namun, ada satu detail kecil yang terlupa dalam narasi kepahlawanan ini. Masalahnya bukan pada pompa yang mogok atau rusak. Pompanya bekerja dengan sangat baik, berderu dengan penuh semangat menyedot. Masalahnya adalah: air yang hendak dipompa itu tidak ada. Ibarat menyedot kopi dari cangkir yang sudah kering kerontang, yang terhisap hanyalah udara dan harapan kosong. Memaksakan tanam dengan pompa di lahan yang tidak punya air bukan lagi strategi pertanian, melainkan seni pertunjukan optimisme yang melampaui batas akal sehat.


Jadi, ketika ada pihak yang ingin memviralkan "prestasi" ekspor beras di tengah realitas pompanisasi yang kehausan, publik hanya bisa geleng-geleng kepala.


Pelajaran dari minggu ini sangat sederhana: informasi adalah senjata, dan senjata harus selaras dengan realitas. Ketika pejabat negara berbicara atau mempromosikan kebijakan, setiap kata bukan sekadar angin lalu. Ia bisa menggerakkan pasar, atau setidaknya membuat rakyat biasa merasa dibodohi oleh narasi yang tidak menyentuh tanah.


Bagi para pejabat yang gemar berpidato dan memviralkan prestasi: berbicaralah dengan hati-hati, dan pastikan kaki Anda masih menapak di bumi. Karena pada era digital ini, satu salah ucap tentang bawang, atau satu pompa yang berderu tanpa air, bisa meruntuhkan seribu narasi prestasi yang dibangun di atas ilusi. (***)


(mBogor, 21082026)


Penulis adalah pemerhati ekonomi pertanian.


Post a Comment

0 Comments