
Pengupas bawang Susana.
(Foto: Istimewa)
Oleh: Ahmad Khozinudin
SIAPA kira, pekerjaan pengupas bawang yang berderai air mata kini menjadi primadona. Betapa tidak, upah mengupas bawang saat ini 700 ribu rupiah per kilogram. Setidaknya, itulah versi Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.
Dalam acara resmi di gedung DPR RI, Presiden bahkan menghadirkan Ibu Susana selaku pengupas bawang, untuk diperkenalkan ke seluruh khalayak rakyat Indonesia. Susana, yang biasa dikenal dalam film horor, dari Sundel Bolong sampai Ratu Buaya Putih, kali ini acting sebagai pengupas bawang.
Namun, meski bukan bintang film profesi Susana saat ini diburu banyak orang di manapun. Bayangkan, 700 ribu per kilogram, jika sehari bisa mengupas 10 kilo, berarti sehari Susana bergaji 7 juta rupiah. Satu bulan, Susana bisa kantongi Gaji 210 juta rupiah.
Kalau setahun Susana tidak ikut sholat Idul Fitri dan Idul Adha dan fokus mengupas bawang, maka total penghasilannya setahun bisa di atas 2,4 miliar rupiah. Luar biasa!
Karena profesi kupas bawang Susana ini, diberbagai platform sosial media saat ini rame menanyakan info loker pengupas bawang. Bahkan, ada video editan AI yang menggambarkan audisi menjadi pengupas bawang.
Disisi lain?
Kita sebagai rakyat kecil prihatin. Prihatin dengan pemimpin tertinggi di Republik ini, kapasitas pengetahuannya sangat minim. Setelah ramai karena sebut penggilingan berpenghasilan 2 triliun rupiah per bulan, kini ramai lagi karena kupas bawang 700 ribu per kilogram.
Pemimpin yang tidak lahir dari rahim rakyat, tak tahu apa kehidupan rakyat. Tanpa berfikir, semua orang yang hidup bersama rakyat tahu, kupas bawang 700 ribu rupiah per kilo itu hoax.
Namun, bagi seorang anak priyayi, anak orang kaya, anak dari Sumitro Hadijoyokusumo, tak akan pernah tahu kehidupan rakyat. Sejak kecil Prabowo hidup enak, menjadi tentara pun dari jalur yang nyaman.
Prabowo tak pernah tahu, rasanya lapar. Rasanya 'nempur beras' atau hutang sembako ke warung. Prabowo tak pernah merasakan, membakar ikan asin di tungku masak, karena tak ada minyak. Prabowo, tak akan tahu rasa nasi aking, atau rasa nasi tiwul yang dikonsumsi untuk menyambung hidup.
Prabowo tak pernah risau dengan biaya anak sekolah. Tak pernah hutang untuk membayar token listrik. Tak pernah merasakan, berpuasa menahan lapar karena tak ada makanan.
Maka wajar,
Prabowo tak tahu kehidupan rakyatnya yang mayoritas miskin. Maka, maklumi saja, Prabowo tak tahu harga upah mengupas bawang, sehingga sebut 700 ribu rupiah per kilogram.
Tapi yang membuat kita khawatir, apakah semua laporan menteri dan bawahan Prabowo juga hanya dengan konsep asal Prabowo senang? Asal bapak senang? Kalau begitu, wajar jika MBG (Makan Bergizi Gratis) tetap dipertahankan mati -matian, meski fakta di lapangan banyak masalah yang kesimpulannya harusnya dihentikan. (***)
Penulis adalah Sastrawan Politik



0 Comments