Gubernur Banten Andra Soni didampingi
Walikota Serang Budi Rustandi menerima
tokoh dan seniman MInahasa.
(Foto: Istimewa)
Gubernur Andra menerima Golok Banten sebagai simbol penghormatan dan persaudaraan masyarakat Kawanua dengan masyarakat Banten. Golok diserahkan Kerukunan Kawanua Banten kepada Ketua FKUB Kota Serang Matin Sarkowi, kemudian diteruskan kepada Andra Soni. Gubernur juga menerima piagam penghargaan lintas agama.
Anggota Kerukunan Kawanua Banten Bili Lomboan mengatakan tarian tradisional tersebut merupakan penghormatan kepada Andra Soni sekaligus ungkapan terima kasih masyarakat Kawanua yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Banten.
“Kami persembahkan Golok Banten dan Tarian Kabasaran sebagai pengantar dari Minahasa. Kami yang berdomisili di Banten tentu menghargai tanah Banten,” ucap Bili.
Bili menjelaskan Tarian Kabasaran merupakan tarian perang tradisional masyarakat Minahasa yang dahulu digunakan dalam tradisi peperangan. Kini, tarian tersebut telah berkembang menjadi tarian penyambutan bagi tokoh yang dihormati.
Bili mengatakan masyarakat Kawanua telah cukup lama menetap di Banten. Sebagian di antaranya bahkan telah tinggal di Banten selama 10 hingga 30 tahun.
Sementara itu, Harmony Speech Festival diikuti 158 peserta lintas agama. Para peserta berkompetisi dalam lomba pidato dengan tema, Penguatan Sikap Nasionalisme dan Patriotisme dalam Mewujudkan Generasi Indonesia Emas 2045.
Andra Soni mengapresiasi FKUB Kota Serang yang menggagas kegiatan tersebut sebagai ruang pendidikan, dialog, dan interaksi lintas agama.
Menurutnya, nilai-nilai universal dalam kitab suci setiap agama dapat menjadi fondasi bersama untuk memperkuat toleransi, persaudaraan dan kemanusiaan. Karena itu, pendidikan multikultural perlu terus ditanamkan kepada generasi muda, baik di keluarga, sekolah, madrasah, pesantren, perguruan tinggi maupun lingkungan masyarakat.
"Keberagaman merupakan kekuatan sosial dan modal penting dalam membangun Indonesia Emas 2045,” tutur Andra Soni.
Gubernur mengingatkan generasi muda agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang memecah belah dan menggunakan media sosial untuk menyebarkan kebaikan, perdamaian serta persaudaraan.
“Jadikan setiap kata sebagai jembatan persaudaraan, setiap nilai agama sebagai energi kemanusiaan, dan setiap perbedaan sebagai kekuatan untuk membangun Banten dan Indonesia,” ujarnya. (*/yos/pur)



0 Comments