Berita Terkini

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Kenapa Budiman Sudjatmiko?

                                        Budiman Sudjatmiko pada forum diskusi

“Pancasila Pemersatu Bangsa” di Gelanggang

Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Yogyakarta.

(Foto: Istimewa)




 Oleh: Erik Erfinanto 




KALAU itu menimpa Sudaryono saja, mungkin maklum. Dia lulusan Tarnus, orang Gerindra, pastinya dekat sekali dengan Prabowo Subianto sang Presiden RI. Tapi ini Budiman Sudjatmiko (Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan-BP Taskin), aktivist ‘98 itu, juga jadi sasaran ratusan mahasiswa UGM (Universitas Gadjah Mada) malam itu, Senin (15/6/2026).


Tiga pejabat teras Istana datang ke UGM, Yogyakarta: Budiman, Nusron Wahid (Menteri Agraria dan Tata Ruang), dan Sudaryono (Wakil Menteri Pertanian). Ceritanya mau kopdar (kopi darat) dengan mahasiswa, tapi malah digeruduk, merangsek ke panggung. Suasana jadi ricuh.


Terjadi kejar-kejaran. Tiga orang itu dievakuasi. Dilarikan masuk ke mobil. Tapi dihadang mahasiswa. Dipaksa ke luar. Adegan ini seperti film tahun ‘90an.


"Selama kami dibungkam, kami tidak akan diam," kata perwakilan mahasiswa UGM.


Apa yang terlihat di layar ini tidak lagi biasa. Ada kemarahan mahasiswa, mungkin sudah berada di puncak. Dan pemerintah, masih biasa saja menghadapinya. Menganggap ini masih bisa dikendalikan.


Kita bisa menebak, mengapa tiga orang itu diutus ke jantung pertahanan utama "musuh pemerintah". Penulis pakai kata ini, karena banyak aktivis UGM yang sangat vokal mengkritik pemerintah belakangan ini.


Ini pasti restu Istana. Mungkin juga perintah. Yang diperintah, adalah dua mantan aktivis yang sangat terkenal, banyak penggemarnya, tetapi belakangan juga banyak musuhnya: Budiman dan Nusron.


Tugas Sudaryono, yang tidak terdeteksi sebagai mantan aktivis ini, tapi yang paling dekat secara ideologis dengan 08, mungkin perintahnya adalah: awasi dua orang itu.


Budiman lulusan UGM, Nusron dari UI. Dua kampus ini memang pabriknya aktivis dari masa ke masa. Menghadirkan dua orang ini, kita bisa tebak niatnya: untuk meredam gejolak.


Hasilnya malah semakin bergejolak. Upaya itu gagal total. Cerita perlawanan Budiman pada masa lalu seperti hilang tadi malam di kampusnya sendiri, tempat di mana dia mengenal kata "perlawanan".


Harga dirinya mungkin tinggal sedikit lagi habis, seperti tangki bensin motormu yang sudah seminggu tidak diisi Pertamax.


Tapi di mata Prabowo, Budiman mungkin dapat pengakuan lebih dari sebelumnya. Dalam hatinya mungkin berkata "sudah saya upayakan, Pak".


Dalam hatiku, "oke Mas Bud. Lanjutkeun! Tetap semangat mengentaskan kemiskinan sesuai amanat Undang-Undang." (***)



 

Jakarta, 16 Juni 2026



Post a Comment

0 Comments