Ahmad Khozinudin, SH
(Foto: Dokumen TangerangNet.Com)
[Catatan Diskusi Interupsi, Inews TV, 14/5/2026]
Oleh: Ahmad Khozinudin, S.H.
TULISAN ini, sebenarnya ingin penulis paparkan secara sistematis dalam diskusi Interupsi, Inews TV, semalam (14/5/2026). Namun, karena keterbatasan ruang diskusi, Apalagi ada Die Hard Zionis Israel yang membabi buta membela bangsa pembantai Palestina, penulis tak dapat menuntaskan pandangan dan analisa.
Melalui tulisan ini, semoga dapat melengkapi paparan dalam diskusi semalam.
Suatu negara tidak ada yang akan mampu memenangkan sejumlah peperangan sekaligus, apalagi dalam beberapa Matra pertempuran (ekonomi dan militer), melawan sejumlah Negara. Perlu konsentrasi pada satu perang untuk dimenangkan, baru melanjutkan pada perang lainnya.
Amerika Serikat (AS), telah memasuki era paling sombong karena menganggap dirinya adidaya, sehingga mengibarkan perang ke sejumlah negara dalam waktu bersamaan dan lintas Matra.
Pertama, Amerika Serikat berperang secara militer melawan Rusia di Ukraina. Ukraina, diprovokasi Amerika agar masuk NATO (Organisasi Pertahanan Atlantik Utara), meninggalkan Kremlin dan menjadi satu blok dengan Amerika.
Kedua, Amerika berperang secara ekonomi melawan China. Perang dagang Amerika - China, telah menguras energi dan melemahkan ekonomi Amerika.
Ketiga, Amerika menculik Presiden Venezuela dan menggulingkannya dari kekuasaan, lalu menempatkan boneka pro Amerika dan merampas minyak Venezuela.
Keempat, Amerika bersama Zionis Israel berperang melawan Iran. Namun, dalam perang militer melawan Iran ini Amerika berhasil dipecundangi. Amerika, terkubur secara militer dan tercekik secara ekonomi lewat pemblokiran selat Hormouz.
Keadaan ini, tak menguntungkan bagi Amerika jika melanjutkan 'perang dagang' dengan China. Amerika paham, situasi ini akan dimanfaatkan oleh Inggris, Perancis, dan Jerman untuk mengambil alih lanskap dagang dunia, dan mencuri keuntungan bisnis dari perang dagang yang dilakukan Amerika terhadap China.
| Ahmad Khozinudin dan ilustrasi. (Foto: Istimewa/koleksi AK) |
Amerika, juga butuh bantuan China agar bisa keluar dari Iran tanpa menanggung malu. Saat ini, Amerika bisa saja menghentikan perang dengan mudah, menarik pasukan dan pulang. Tapi Amerika, akan tambah kehilangan muka, tak menyisakan wibawa setelah status adidaya Amerika telah ditelanjangi Iran dalam perang ini.
Kunjungan Donald Trump ke China dengan sejumlah pengusaha Amerika, bisa dipahami sebagai strategi politik untuk meredakan ketegangan perang dagang antara AS dan China. Akan ada sejumlah relaksasi dan kesepakatan ulang yang dituliskan, dalam pertemuan ini.
Xi Jin Ping, tentu akan memanfaatkan posisi Amerika yang terjepit, yang terpaksa mendatangi China untuk melakukan negoisasi ulang tentang hubungan ekonomi dengan China dan sejumlah isu strategis lainnya, di antaranya :
Pertama, dalam hubungan dagang, China akan memaksa Amerika untuk melakukan penyesuaian ulang atas sejumlah pemboikotan produk China melalui kebijakan tarif Trump yang tidak masuk akal. China, akan kembali menargetkan Amerika sebagai market dari industri China baik dibidang manufactur, industri pangan, produk garmen, dan sebagainya. China, akan kembali mentarget pasar Amerika untuk menyerap produk industri China.
Kedua, China akan menekan Trump untuk melakukan upaya menarik diri dari isu Taiwan baik secara militer maupun diplomasi politik. Selama ini, Amerika selalu ngompori Taiwan untuk berkonfrontasi dengan China, melalui dukungan persenjataan militer dan menjual isu demokrasi kepada Taiwan.
Ketiga, China akan memainkan posisi Amerika untuk menangguk keuntungan lebih atas situasi perang Amerika dan China. China sempat diuntungkan Iran, karena seluruh transaksi minyak yang melintasi selat Hormouz harus dilakukan dengan Yuan reminbi China, bukan dengan dolar Amerika.
Sementara Amerika, mengambil kebijakan peredaan ketegangan perang dagang dengan China, agar Amerika tak makin terjepit ekonominya, terutama setelan dicekik oleh Iran pasca blokade selat Hormouz yang tak mampu dibuka oleh kekuatan militer Amerika.
Pada situasi ini, Donald Trump mengadopsi manuver Richard Nixon (Presiden Amerika) yang pada akhirnya mengadakan perjanjian dengan Uni Soviet untuk meredakan ketegangan perang dingin antara Blok Barat (Amerika) dan Blok Timur (Uni Soviet) pada medio tahun 1960 sampai 1970.
Saat itu, Amerika dan Soviet kehabisan banyak energi akibat saling berseteru dalam perang dingin. Situasi itu, dimanfaatkan oleh Inggris untuk mencoba mengambil alih kendali dunia khususnya di wilayah eks jajahan Inggris, dari pengaruh Amerika.
Sadar berkonflik dengan Soviet tak menguntungkan bagi Amerika, akhirnya Nixon mengambil kebijakan 'detente', untuk meredakan ketegangan antara Amerika dan Soviet dan membagi dunia menjadi dua bagian: satu bagian untuk Soviet, satu bagian menjadi jarahan Amerika.
Nampaknya, Trump akan mengadopsi strategi Nixon terhadap China untuk melakukan peredaan ketegangan (relaksasi) atas hubungan dagang Amerika dengan China. Untuk berdamai secara ekonomi dengan China, memanfaatkan posisi China agar Amerika keluar dari Iran tanpa malu, dengan tujuan utama untuk memperbaiki ekonomi Amerika yang babak belur akibat perang dagang dengan China ditambah manuver cekikan ekonomi oleh Iran melalui selat hormuz.
Alhasil, Amerika terpaksa melakukan itu semua hanya karena satu alasan: Amerika saat ini sudah lemah, bukan lagi adidaya yang mampu menekan dan memaksa dunia menjalankan kemauan Amerika. (***)
Penulis adalah Advokat, Aktivis Islam



0 Comments