
Teddy Indra Wijaya, Amien Rais, dan
Prabowo Subianto.
(Foto: Ist/bloomberg tehcnoz)
Penulis: @SulungNof
NAMA Teddy Indra Wijaya sempat muncul dalam linimasa bacaan saya pada Pilpres (Pemilihan Presiden) 2024 lalu. Selain slogan “Gemoy” yang disematkan kepada Prabowo Subianto, sebagian orang juga membicarakan gaya “Mayor Teddy”. Lantas terbersit dalam benak saya, “Banyak gaya!”
Hari berganti musim pun berubah. Bencana Sumatera melanda Aceh, Sumut (Sumatera Utara), dan Sumbar (Sumatera Barat). Di balik tudingan kelambanan respons Pemerintah, Teddy muncul dalam linimasa tontonan saya. Dengan amat fasih ia menjelaskan secara runut langkah yang sudah dilakukan Pemerintah.
Di situ, saya menyadari kalau Teddy cerdas. Belakangan diketahui kalau ia sedang menempuh studi di Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia (UI). Selain itu, ia juga membangun interaksi sosial bernuansa spiritual dengan Habib Jindan dan Ustadz Adi Hidayat.
Namun isu miring menerpa di media. Dimulai dari cuitan lawas spekulatif “Pacar Ganteng” hingga potongan video yang dianggap kemayu kala bertemu Maruarar Sirait. Sebagian komentar warganet pun melabelinya sebagai “Ibu Negara” dan “Buna” atau panggilan sayang untuk bunda.
Isu bergulir. Puncaknya ketika Presiden RI Prabowo memberi Teddy hadiah ulang tahun sekaligus merayakannya. Suasana makin panas saat Amien Rais menganggap relasi antara Prabowo dan Teddy tidak lazim. Tudingan ini membuat Menkomdigi (Menteri Komunikasi dan Digital) geram sehingga menghapus kontennya.
Persoalan kemayu, Ustadz Maulana mungkin juga kemayu, menurut asumsi saya. Tapi tidak lantas menganggapnya memiliki disorientasi seksual. Sebab, Islam mengatur secara ketat terkait tuduhan yang bisa menjatuhkan kehormatan seseorang. Hukumnya wajib mendatangkan empat saksi.
Perkara Teddy rutin mendampingi Prabowo berenang saat rutinitas pagi, apakah lantas boleh dianggap memiliki hubungan khusus? Apalagi dibumbui kondisi Prabowo yang tidak lagi beristri. Menurut asumsi saya, bakal lebih mencurigakan kalau yang mendampingi justru wanita.
Saya menduga, seorang intelektual seperti Amien Rais yang mengais isu lantaran kesal dengan Teddy. Diketahui, pasca Pilpres 2024 Partai Ummat menyatakan dukungannya kepada pemerintahan Presiden Prabowo meski sebelumnya mendukung Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar.
Tapi, Prabowo tidak merespons balik. Padahal relasi antara Amien dan Prabowo sudah puluhan tahun. Apalagi saat Pilpres 2014 dan 2019, kabarnya Prabowo menganggap Amien seperti “Ayatollah” versi lokal. Bukan hanya Amien yang sulit bertemu Presiden, menteri pun konon sama.
Usut punya usut, Teddy dianggap biang keladi yang mengatur siapa saja yang bisa menghadap Presiden. Mungkinkah Teddy bersikap begitu kalau tanpa restu Prabowo? Sebelum video Amien Rais mengguncang istana, tiga bulan lalu ia telah mewanti-wanti Prabowo agar mewaspadai Teddy.
Persoalan Teddy agaknya cukup kompleks. Bukan hanya rumor soal disorientasi seksual, posisinya sebagai Sekretaris Kabinet juga dikritik publik lantaran masih aktif sebagai prajurit TNI. Kenaikan pangkatnya dari Mayor menjadi Letkol pun dinilai sebagian publik menyalahi prosedur.
Ditambah lagi, Teddy dianggap titipan Jokowi (Joko Widodo) lantaran pernah menjadi ajudannya. Spekulasi bahwa pemerintahan Prabowo masih dikendalikan mantan presiden sebelumnya terus tertanam di benak sebagian masyarakat. Apalagi sejumlah nama menteri masih belum diganti juga.
Pertanyaan berikutnya, apakah Amien Rais sebenarnya kesal dengan Prabowo Subianto, sementara Teddy Indra Wijaya hanya sasaran antara? Sejauh ini sikap Amien masih lunak kepada Prabowo. Waktu yang akan mengabarkan, apakah ia akan bersikap keras seperti pada Soeharto dulu.
Jika sikap Presiden Prabowo terus mengabaikan eksistensi Amien Rais, mungkinkah Amien akan menggaungkan “Reformasi Jilid Dua”? Mengingat kurs dolar AS sudah melampaui 17 ribu rupiah, utang negara hampir menyentuh 10 ribu triliun rupiah, dan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) mengalami pelemahan signifikan.
Suara untuk memakzulkan Presiden Prabowo memang mulai beresonansi. Kondisi ini makin terbentuk dengan pengelolaan anggaran MBG (Makan Bergizi Gratis) dan KMP (Koperasi Merah Putih) yang dinilai inefisiensi. Prabowo dianggap kepala batu karena tidak mendengar aspirasi. Semoga ini semua bukan gara-gara Teddy. (***)
[Bandung, 7 Mei 2026]



0 Comments