Berita Terkini

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Bamsoet: Cerutu Indonesia Masuk Ke 14 Negara, Jadi Kekuatan Baru Industri Cerutu Dunia

Bambang Soesatyo memegang cerutu bersama
 pemilik BIN Cigar Febrian Ananta Kahar dan Presiden Perikhsa Cigar Brotherhood Charles Wicaksana. (Foto: Istimewa)






NET - Keberhasilan cerutu Indonesia, khususnya dari Jember, Jawa Timur, menembus pasar internasional merupakan sinyal kuat bahwa Indonesia mulai diperhitungkan dalam persaingan industri cerutu dunia.

Hal itu dikatakan oleh Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Bambang Soesatyo (Bamsoet) saat menerima Pemilik BIN Cigar Febrian Ananta Kahar dan Presiden Perikhsa Cigar Brotherhood Charles Wicaksana di Jakarta, pada Jumat (1/5/26).

Produk BIN Cigar Jember, Jakarta Timur, seperti disaksikan Bamsoet, Cigar dan lain-lain, kini telah merambah pasar di 14 negara, mulai dari Eropa, Amerika, hingga Asia Timur dan Timur Tengah menunjukkan bahwa Indonesia tidak lagi sekadar penyuplai bahan mentah, melainkan telah mampu menjadi produsen cerutu bercita rasa tinggi.

Menurut Bamsoet, tembakau Besuki Na-Oogst dari Jember telah lama dikenal sebagai salah satu bahan baku cerutu terbaik dunia karena karakter aroma dan rasanya yang khas. Bahkan, ekspor tembakau Jember pada 2023 mencapai lebih dari 3 juta kilogram dengan nilai devisa sekitar 31,9 juta dolar AS.

“Keunggulan kita ada pada bahan baku dan keterampilan perajin dan petani tembakau Indonesia. Kombinasi ini menghasilkan cerutu dengan karakter unik yang sulit ditiru negara lain. Ini modal besar untuk bersaing dengan cerutu Kuba maupun Dominika,” ujar Bamsoet.

Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini menjelaskan cerutu Indonesia mampu menunjukkan diferensiasi yang kuat. Keunggulan terletak pada kualitas bahan baku, proses produksi manual, dan konsistensi rasa. Dampak ekonomi dari industri cerutu juga signifikan.

Cerutu, imbuh Bamsoet, merupakan industri padat karya yang melibatkan banyak tenaga kerja, dari petani tembakau hingga pengrajin linting. Selain itu, kebijakan pemerintah yang menjaga stabilitas industri tembakau, termasuk tidak menaikkan cukai pada 2026 demi menjaga lapangan kerja, turut memberikan ruang bagi industri ini untuk berkembang.

“Industri cerutu ini menyerap tenaga kerja besar dan memberi nilai tambah tinggi. Ini harus dilihat sebagai bagian dari strategi hilirisasi nasional, bukan sekadar industri tembakau biasa," tutur Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini juga menekankan pentingnya strategi jangka panjang agar Indonesia mampu menjadi salah pemain dunia di industri cerutu. Penguatan branding, standarisasi kualitas, serta ekspansi pasar harus berjalan simultan agar cerutu Indonesia mampu benar-benar berpengaruh di pasar cerutu dunia.

“Kalau konsistensi kualitas dijaga dan strategi branding diperkuat, saya yakin dalam beberapa tahun ke depan dunia tidak lagi hanya mengenal Havana atau Dominika, tetapi juga Jember sebagai pusat cerutu premium dunia,” pungkas Bamsoet. (*/pur)


 


Post a Comment

0 Comments