Berita Terkini

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Mengapa Negara-Negara Arab “Menyembah” Amerika?

Ilustrasi, lembaran dolar AS.
(Foto: Ist/kumparan.com)  
















Oleh: Sultan M. Nashier


JIKA Anda ingin mencium aroma asli dari kekuatan ekonomi Amerika, Anda harus berhenti menghirup aroma kertas baru di bank dan mulai membiasakan hidung Anda dengan bau amis darah yang bercampur dengan minyak mentah di padang pasir Timur Tengah.

Sejak tahun 1971, dolar sebenarnya hanyalah mayat yang menolak dikubur. Amerika telah melakukan pengkhianatan paling besar dengan mencabut jaminan emas dari mata uangnya, menjadikannya selembar janji kosong. Namun, mereka tidak membiarkan mayat itu membusuk; mereka menyuntikkan "darah" baru ke dalam nadinya melalui kesepakatan gelap yang paling amis dalam sejarah manusia: sistem Petrodollar.

Ini adalah titik di mana dolar berhenti menjadi alat tukar dan lalu berubah menjadi instrumen penjajahan energi yang mengharuskan dunia bertaruh nyawa demi setiap barelnya.

Mekanisme ini bekerja melalui sebuah kontrak perlindungan yang lebih mirip dengan perjanjian dengan iblis daripada diplomasi. Pada pertengahan 1970-an, Amerika mendatangi para penguasa di Timur Tengah,  khususnya keluarga Saud dengan sebuah bisikan yang mematikan:

"Kami tahu takhta kalian berdiri di atas bara api rakyat kalian sendiri. Kami tahu kepala kalian bisa jatuh kapan saja jika revolusi meletus. Maka, mari kita buat kesepakatan. Kami akan mengirimkan mesin pembunuh paling canggih, jet tempur yang bisa meratakan kota, dan intelijen yang bisa melacak setiap nafas musuh kalian. Kami akan pastikan takhta kalian abadi, bahkan jika rakyat kalian membenci kalian. Syaratnya cuma satu: kalian dilarang menjual minyak kecuali dengan potongan kertas hijau kami."

Dengan satu tanda tangan itu, Timur Tengah secara resmi menjadi "asuransi nyawa" bagi dolar Amerika, dan dolar menjadi satu-satunya napas bagi ekonomi dunia. Maka jangan heran jika Arab Saudi menjadi penyembah Amerika....

​Hubungan ini menciptakan sebuah siklus predator yang sangat amis. Dunia dipaksa bekerja bagaikan budak untuk menghasilkan barang fisik pakaian, makanan, teknologi lalu menjualnya demi mendapatkan dolar. Kenapa mereka butuh dolar? Karena tanpa dolar, mereka tidak bisa membeli minyak. Dan tanpa minyak, peradaban mereka akan mati suri dalam kegelapan. Dolar-dolar hasil keringat dunia ini kemudian mengalir deras ke kantong para diktator di Timur Tengah.

Namun, di sinilah letak trik paling menjijikkan: uang itu dilarang tinggal di sana. Melalui skema yang disebut Petrodollar Recycling, para penguasa ini dipaksa memutar balik uang tersebut ke Amerika. Mereka membelinya dalam bentuk surat utang untuk mendanai gaya hidup mewah warga Amerika dan, yang paling ironis, mereka menghabiskan miliaran dolar untuk membeli senjata dari pabrik-pabrik Amerika.

Jadi, Amerika mencetak uang dari ketiadaan, menukarnya dengan minyak, lalu uang itu kembali lagi ke mereka sebagai biaya perlindungan dan modal perang. Ini bukan ekonomi; ini adalah pemerasan berskala global.

​Dalam ekosistem ini, perdamaian di Timur Tengah adalah musuh bagi dolar. Mengapa? Karena hanya dalam kondisi ketakutan dan ketidakpastian para raja minyak itu akan terus merasa butuh perlindungan militer Amerika. Setiap konflik, setiap perang saudara, dan setiap ketegangan di Teluk adalah "iklan" terbaik bagi senjata Amerika dan jaminan bahwa ketergantungan pada dolar tidak akan goyah.

Timur Tengah sengaja dipelihara sebagai laboratorium perang abadi. Setiap kali sebuah peluru meledak di sana, nilai dolar di bursa saham New York justru tetap kokoh. Dolar tidak lagi memiliki aroma bunga; ia memiliki aroma bubuk mesiu dan asap dari sumur minyak yang terbakar.

​Hukuman bagi mereka yang mencoba "murtad" dari sistem ini sangatlah brutal dan seketika. Sejarah modern adalah galeri foto para pemimpin yang dieksekusi bukan karena mereka jahat, tapi karena mereka mencoba menantang monopoli dolar atas energi. Ketika Saddam Hussein mulai bicara soal menjual minyak dengan Euro, atau ketika Muammar Gaddafi mulai menggalang kekuatan untuk menciptakan mata uang emas Afrika guna menendang dominasi Barat, Amerika tidak mengirimkan tim negosiasi, mereka mengirimkan regu algojo berseragam militer.

Narasi tentang "demokrasi" atau "senjata pemusnah massal" hanyalah dongeng pengantar tidur untuk warga dunia yang naif. Kejahatan sejati mereka adalah mencoba menghancurkan sandera energi yang menjaga nilai dolar. Pesan Amerika kepada dunia sangat jelas dan sangat gelap: "Kalian boleh memegang tanahnya, kalian boleh memompa minyaknya, tapi jika kalian mencoba menggunakan mata uang lain, kami akan mengirim kalian kembali ke zaman batu."

​Kekejaman sistem ini terasa hingga ke piring makan setiap orang di dunia. Karena minyak adalah komponen dasar dari segala sesuatu mulai dari pupuk untuk petani hingga bahan bakar untuk truk pengangkut makanan, maka setiap kali Amerika memanipulasi nilai dolar, mereka sebenarnya sedang menarik upeti langsung dari setiap mulut manusia di planet ini.

Kita semua adalah penyumbang sukarela bagi mesin perang Amerika. Kita terjebak dalam lingkaran setan di mana kita harus terus bekerja lebih keras, menghancurkan alam kita lebih cepat, hanya untuk mendapatkan lebih banyak "kertas janji" agar kita tidak mati kedinginan atau kelaparan.

Dolar telah bertransformasi menjadi bentuk penjajahan yang tidak lagi membutuhkan gubernur jenderal, karena setiap tetes keringat kita secara otomatis dikonversi menjadi keuntungan bagi para bankir di Wall Street.

​Pada akhirnya, kita harus berani melihat kenyataan bahwa kemegahan gedung-gedung di Amerika dan kekuatan militer mereka dibangun di atas tumpukan mayat dan penderitaan di belahan dunia lain. Selama minyak masih menjadi darah bagi mesin dunia, dan selama tidak ada kekuatan yang cukup gila untuk menghadapi mesin pembunuh yang menjaga kontrak Petrodollar ini, kita semua hanyalah subjek dari sebuah kekaisaran tanpa batas wilayah.

Kita hidup dalam sebuah skema Ponzi berdarah yang sangat raksasa, di mana nilai uang di dompet Anda sebenarnya dijamin oleh jumlah peluru yang siap ditembakkan Amerika ke arah siapa pun yang berani membayangkan dunia yang merdeka.

Kita tidak sedang memegang uang; kita sedang memegang simbol dari ketidakberdayaan kita di bawah todongan senjata sang preman global. (***)



Post a Comment

0 Comments