Berita Terkini

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Kurang Bedebah Apa Lagi Negeri Ini, Wakil Tuhan Pun Ditangkap

Foto AI hanya ilustrasi.







Oleh: Rosadi Jamani



KALIAN boleh marah kali ini. Koptagul tumpah, biarkan. Ini sudah sangat parah. Wakil Tuhan alias hakim digelandang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ketahuan disuap Rp 850 juta, Kamis (5/2/2026). Kurang bedebah apa lagi negeri saya, negeri ente, dan negeri kita, wak! Bukan konoha.


Pian bayangkan seekor tikus got raksasa, tubuhnya licin oleh lumpur selokan, kumisnya basah air comberan, matanya kecil tapi rakus, hidup nyaman di gorong-gorong kota yang gelap, pengap, dan penuh bangkai moral. Tikus ini bukan sembarang tikus. Ia mengenakan toga hitam sebagai kamuflase, berbicara tentang keadilan dengan mulut yang bau bangkai, dan mengetukkan palu hukum seperti tikus mengetuk pipa, bukan untuk memperbaiki, tapi mencari celah kebocoran uang.


Nama tikus itu, Dr. Bambang Setyawan, S.H., M.H. - Wakil Ketua Pengadilan Negeri Depok, Jawa Barat. Pada siang hari, ia tampil sebagai makhluk terhormat. Penuh gelar, penuh jabatan, penuh ceramah etika. Tapi begitu malam turun dan gorong-gorong dibuka, naluri aslinya bangkit. Tikus memang begitu, makannya diam-diam, larinya cepat, dan rakusnya tak pernah kenyang.


Tikus got tidak peduli kota banjir atau rakyat kelaparan. Anak SD bundir di Ngada Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia tak  ada 375 ribu guru honorer yang digaji Rp 400 ribu per bulan. Ia tak hirau 7,35 juta pengangguran. Selama ada sisa, bangkai, dan uang basah, ia akan menggigit. Benar saja, 5 Februari 2026, KPK menyergap sarang tikus itu. Dari balik lipatan toga dan dinding kekuasaan, menggelinding Rp 850 juta. Uang yang baunya sama seperti got, amis, busuk, dan menular. Tikus itu tertangkap basah, moncongnya masih belepotan suap, ekornya menggeliat panik, tapi sudah terlambat. Lampu sorot menyala. Gorong-gorong terbuka. Semua orang melihat, ini bukan dewa hukum, ini hama negara.


Tikus got paling menjijikkan bukan karena ia kotor, tapi karena ia berpura-pura suci. Ia berjalan di ruang sidang seolah malaikat, padahal jantungnya berdetak mengikuti aroma uang. Ia berbicara tentang sumpah jabatan, tapi sumpah itu baginya cuma seperti kertas tisu di selokan dipakai sebentar, lalu dibuang. Tikus ini menggigiti fondasi peradilan sedikit demi sedikit, sampai bangunan keadilan roboh tanpa suara, dan rakyat cuma kebagian puingnya.


Netizen pun muak. Timeline penuh muntahan emosi. 

“Hakim kok tikus,” kata mereka. 

“Gaji besar tapi masih menggerogoti,” teriak yang lain. 

"Wakil tuhan bisa ya ditangkap, emang udah parah negeri kita," teriak suporter futsal. 


Karena memang begitulah tikus got, diberi apa pun tak pernah cukup. Semakin tinggi jabatannya, semakin dalam ia menyelam ke lumpur. Semakin suci topengnya, semakin busuk perutnya.


Akhirnya tikus itu diseret ke luar sarangnya. Dari gorong-gorong kekuasaan ke kandang KPK. Tidak lagi berwibawa, hanya makhluk menjijikkan yang meronta karena cahaya. Semoga publik ingat, peradilan yang dibiarkan dipenuhi tikus tidak akan melahirkan keadilan, hanya wabah. Maka jangan berhenti muak. Jangan berhenti marah. Karena koruptor seperti ini bukan sekadar pelanggar hukum, mereka adalah hama yang harus dibasmi agar negeri ini tidak terus hidup di got yang sama.


"Abang ni, baru jak dibuat senang, terhibur oleh kemenangan Timnas futsal membantai Jepang 5-3, eh dibuat marah pula."


"Ya, mau gimana lagi, wak. Inilah negeri kita yang selalu dibilang kaya. Tenang, kalau nanti menang lawan Iran di final, Trump si rambut jagung, akan menarik kapal induknya, wak." Ups. (***)


 


Penulis adalah Ketua Satupena Kalbar



Post a Comment

0 Comments