Berita Terkini

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Pelajar Bunuh Diri: Semiskin Itukah NTT Ku? Sekorup Itu Kah Pejabatnya?

Tulisan tangan siswa SD yang  
mengakhiri hidup secara tragis.  
(Foto: Istimewa)  




Oleh: Gregg Djako




KAGET baca postingan Pesona Flores : Seorang siswa sekolah dasar berinisial YBS, usia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), ditemukan meninggal dunia setelah mengakhiri hidupnya. 


Sebelum peristiwa tersebut, korban meninggalkan sepucuk surat tulisan tangan yang ditujukan kepada ibunya. Surat itu ditulis menggunakan bahasa daerah Ngada dan berisi pesan perpisahan.


Berikut bunyi surat korban dalam bahasa Ngada:


KERTAS TII MAMA RETI

MAMA GALO ZEE

MAMA MOLO JA’O

GALO MATA MAE RITA EE MAMA

MAMA JAO GALO MATA

MAE WOE RITA NE’E GAE NGAO EE

MOLO MAMA


Adapun terjemahannya dalam bahasa Indonesia:


Surat buat Mama Reti

Mama, saya pergi dulu

Mama, relakan saya pergi (meninggal), jangan menangis ya Mama

Mama, saya pergi (meninggal)

Tidak perlu Mama menangis dan mencari atau merindukan saya

Selamat tinggal Mama


Surat tersebut menurut Pesona Flores ditulis korban setelah menyampaikan keinginan untuk memiliki buku dan pena guna keperluan sekolah, namun belum dapat dipenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga.


PROVINSI DENGAN JUMLAH PENDUDUK MISKIN TERTINGGI KE-6 DI INDONESIA


Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 menempatkan NTT sebagai salah satu provinsi termiskin keenam di Indonesia. Walaupun tercatat menurun 1,09 juta penduduk miskin di NTT pada Maret 2025 atau 18,60 persen, turun 19,16 ribu orang dari September 2024. Angka ini tetap menempatkan NTT sebagai provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi keenam di Indonesia.


PROVINSI TERKORUP VERSI ICW


Dalam laporan Indonesia Corruption Watch (ICW) yang dirilis pada akhir 2025, NTT disebut sebagai salah satu dari 7 provinsi terkorup dan menjadi pemuncak dalam hal kerentanan korupsi bersama Riau.


Berdasarkan laporan Indonesia Corruption Watch (ICW) dan data sektoral lainnya, NTT masuk dalam daftar provinsi paling rentan korupsi di Indonesia pada tahun 2025. Dimana NTT tercatat sebagai provinsi dengan jumlah penindakan kasus korupsi terbanyak ketiga di tingkat nasional. Hingga akhir 2025, Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTT telah menyelidiki setidaknya 106 kasus korupsi baru.


Dari jumlah tersebut, aparat berhasil menyelamatkan keuangan negara sebesar Rp57,5 miliar dengan Sektor Paling Rawan korup atau sekitar 75 persen kasus korupsi di NTT terjadi pada sektor pengadaan barang dan jasa.


HUBUNGAN ANTARA KEMISKINAN &  PERILAKU KORUP PARA PEJABAT


Indeks Persepsi Korupsi (CPI) Transparency International menunjukkan bahwa

Korupsi berkorelasi erat dengan tingkat kemiskinan dan hampir selalu menjadi salah satu faktor yang memperburuk kemiskinan melalui mekanisme ekonomi dan alokasi anggaran publik.


Menurut Transparency Internasional,  Kemiskinan dan perilaku korup pejabat bukanlah dua hal yang berdiri sendiri, keduanya saling berkaitan dan sering memperkuat satu sama lain. 


Hubungan antara keduanya dapat dijelaskan sebagai berikut:


1. Korupsi menggerus anggaran yang seharusnya untuk rakyat. 


Ketika pejabat korup “memotong” anggaran pendidikan, kesehatan, bantuan sosial, pembangunan desa, atau infrastruktur, maka:

sekolah tetap rusak,

buku dan pensil tidak terjangkau,

layanan kesehatan minim,

harga kebutuhan mahal,

lapangan kerja tidak terbentuk.

Akibatnya, rakyat miskin tetap miskin, atau bahkan makin miskin.


2. Korupsi merusak tata kelola program tidak tepat sasaran


Dana pembangunan yang seharusnya didistribusikan berdasarkan kebutuhan akhirnya dinikmati kelompok tertentu. Orang miskin kehilangan kesempatan untuk naik kelas karena program bantuan diselewengkan, dimonopoli, atau diprioritaskan untuk kepentingan politik.


3. Korupsi mematikan peluang ekonomi


Iklim usaha yang buruk, suap, pungutan liar, dan birokrasi pungli membuat investasi tidak masuk, lapangan kerja terbatas, dan roda ekonomi daerah mandek. Daerah yang tingkat korupsinya tinggi hampir selalu tertinggal secara ekonomi.


4. Rakyat miskin kehilangan akses dan layanan dasar


Korupsi pada sektor publik berakibat langsung pada:

sekolah kekurangan fasilitas,

jalan dan jembatan buruk,

Puskesmas tidak layak,

bantuan sosial bocor,

layanan publik lamban dan tidak berkualitas.

Semua itu memupuk lingkaran kemiskinan yang sulit diputus.


5. Korupsi menciptakan ketidakadilan struktural


Saat pejabat kaya karena korupsi, sementara rakyat tetap terpuruk, tercipta jurang sosial yang makin lebar. Ketidakadilan ini membuat masyarakat miskin terjebak dalam kehidupan tanpa akses, tanpa suara, tanpa daya tawar.


Miris membaca data - data statistik di atas. Dimana ketika seorang anak di pelosok negeri memilih mengakhiri hidup hanya karena tak mampu membeli pensil dan buku, itu bukan sekadar tragedi kemiskinan tapi itu adalah cermin dari mereka yang diberi amanah namun memilih menutup mata. Korupsi merampas masa depan yang bahkan belum sempat tumbuh. Semoga para pemegang kuasa ingat bahwa setiap rupiah yang diselewengkan adalah harapan seorang anak yang dipadamkan.” (***)



Penulis adalah warga asal NTT tinggal di Bogor, Jawa Barat.


Post a Comment

0 Comments