Berita Terkini

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Belajar Mengelola Negara Dari Muhammadiyah

Ilustrasi, lambang organisasi Muhammadiyah.
(Foto: Istimewa)  


Oleh: Tere Liye

 

ORGANISASI ini, punya total aset tidak kurang Rp 450 triliun. Punya ribuan sekolah, kampus, rumah sakit, dan berbagai kegiatan lainnya. Dari aset tanahnya saja triliunan rupiah.

Nah, menariknya, di organisasi ini jika kamu naik jadi pengurusnya, pejabatnya; kamu justeru tidak digaji.

Jadi dosen, rektor di kampus-kampusnya, dapat gaji. Jadi kepala rumah sakit, dapat gaji. Jadi karyawan-karyawannya, dapat gaji. Tapi, kamu naik jadi pengurus, pejabat-pejabat elitnya, NOOO! Tidak diberi gaji. Aduh, jadi dia dapat gaji dari mana? Dia punya pekerjaan lain, sumber nafkah. Dia tidak hidup dari organisasi tersebut, dia justeru menghidupkan organisasi itu.

Inilah logika yang betul jika kita itu betulan mau berubah. Teladan.

Termasuk di pemerintahan. Saya setuju, Aparat Sipil Negara (ASN), polisi, tentara, pegawai, karyawan, diberi gaji. Tapi saat orang-orang ini berebut ingin menjadi anggota DPR, DPRD, Walikota, Bupati, Gubernur, Menteri, Wamen, Staf-Staf, Kades, pun Presiden sekalipun, saat itulah hapus total gaji-gajinya. Semua jabatan publik yang dipilih rakyat, pun jabatan-jabatan setingkat menteri+wamen, hapus gajinya!

Ngapain dia digaji? Dia mau berbakti pada nusa dan bangsa bukan? Maka buktikan dong. Orang-orang ini bukankah selalu membual bilang mereka punya kompetensi? Pintar? Hebat? Masa’ mereka tidak punya sumber nafkah? Tidak punya pekerjaan lain? Sekali dia ikutan Pilkada, Pilpres, Pileg, maka itu pengabdian Tidak ada lagi gaji.

Kalaupun yang bersangkutan memang betulan miskin, baiklah, cukup ganti biaya hidup. Maksimal 10x Upah Minimum Regional (UMR). Selesai. Tidak ada lagi tunjangan lain. Dia bisa hidup dengan 10x UMR. Lah, rakyat banyak yang bisa hidup dengan uang Rp 20.000 per hari.

Kita tidak perlu belajar ke China, apalagi mengejar ke Antartika untuk teladan terbaik seperti ini. Ada di dekat kalian. Ada di sekitar kalian. Saat sebuah organisasi, justeru tidak menggaji elit-elit tertingginya. Dan menariknya, apakah lantas banyak kasus korupsi di organisasi ini? Gara-gara elit-elitnya tidak digaji?

Nggak tuh. Nyaris tidak terdengar.

Dan satu lagi, di organisasi ini, budaya kritis juga kental. (***)

 

Penulis adalah novelis, bukan anggota organisasi ini. Suka saja menulis hal-hal baik, yang bisa diteladani.


Post a Comment

0 Comments