![]() |
| Ilustrasi kebangkitan amarah rakyat kepada pemimpin zalim. (Foto: Istimewa/koleksi Lukas Luwarso) |
Oleh: Lukas Luwarso
APA pelajaran moral politik dari Peristiwa Pati 13 Agustus?
Kekuasaan jangan menentang, apalagi menantang, kehendak rakyat. Khususnya
setelah ugal-ugalan melakukan pemerasan dengan menaikkan pajak 250 persen.
Bupati Pati Sudewo masih "beruntung" cuma ditimpuk
dan mungkin dimakzulkan. Amarah rakyat adalah kekuatan alam, yang seringkali
tidak bisa diperkirakan daya hancurnya. Para petinggi politik, lokal atau
nasional, sebaiknya membaca referensi sejarah. Jangan bermain retorika ketika
rakyat mulai bergejolak, mengabaikan amanah menjadi amarah.
Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari sejarah politik
kekuasaan. Rakyat bergolak melawan pemerasan atas nama pajak. Menaikkan pajak semau
gue (seperti yang terjadi di Pati, Jombang, Cirebon, Bone, Kabupaten Semarang,
dll), adalah kebodohan dan kegilaan kekuasaan level Caligula.
Hanya karena asupan transfer dana dari pusat dipotong 50
persen, sebagian bupati, para raja kecil itu, menaikkan pajak ke rakyatnya
hingga ada yang mencapai 1.200 persen. Mereka ogah dan ridak mampu berpikir
kreatif mencari alternatif sumber pendapatan dan pendanaan pembangunan daerah.
Karena yang ada di otak mereka cuma, bagaimana mengembalikan modal bisa
terpilih menjadi bupati, bahkan mendapat keuntungan. Dan mengumpulkan logistik untuk
bertarung lima tahun lagi.
Perlawanan rakyat Pati akan tereplikasi di berbagai wilayah
lain. Menghadapi situasi ekonomi yang sulit saat ini rakyat tidak punya pilihan
selain melawan kegilaan Caligula-Caligula kecil, baik di level lokal maupun
nasional.
Peringatan untuk para penguasa zalim yang tak tahu diri.
Bacalah sejarah yang bergema dari abad ke abad, yang mencatat setiap
pengkhianatan terhadap kehendak rakyat, dan setiap tirani yang menindas hati
nurani.
Ingat Caligula, Kaisar Roma yang mabuk kuasa, menganggap dirinya dewa dan rakyatnya cuma
budak. Ia kerap berkata: "Aku berhak melakukan apapun kepada
siapapun". Ia mati dengan tebasan pedang yang membelah tubuhnya dan
tikaman di sekujur tubuhnya. Kekuasaan lalim selalu berakhir dengan darah.
Ingat Louis XVI, Raja Prancis yang menutup telinga atas
jeritan lapar rakyatnya. Istana Versailles berkilau kemewahan ketika rakyatnya
berkubang dalam kemiskinan. Rakyat pun bangkit, menggemakan slogan
"liberte, egalite fraternite".
Dan ia, juga istrinya, mati terpenggal guillotine, sebagai peringatan,
mahkota dan segala jubah mewah tak lebih berharga dari segenggam roti di tangan
rakyat miskin.
Ingat Dinasti Romanov, Tsar Nicholas II di Rusia. Ia
membungkam protes, menembaki rakyatnya yang kelaparan, berunjuk rasa di jalanan
Petersburg. Ia mengira tahtanya abadi, tetapi saat revolusi datang, seluruh
dinastinya habis seketika. Pembalasan rakyat sering tak mengenal belas kasihan.
Rakyat menjungkalkan penguasa lalim bukan cuma terjadi pada
era kekaisaran dan kerajaan, namun juga pada era modern, abad 20. Ingat Benito
Mussolini, diktator Itali, mati digantung rakyatnya di tiang kota. Ingat
Nicolae Ceaușescu, diktator Romania, berteriak minta ampun setelah rezim
komunisnya tumbang, tetapi peluru rakyat tetap menembus tubuhnya. Ingat Shah
Mohammad Reza Pahlavi Raja Iran yang beegelimang harta dari hasil minyak, mati
terusir di pengasingan. Ingat Ferdinand Marcos, Presiden Filipina, harus lari
terbirit-birit ke Hawaii, meninggalkan amarah rakyatnya yang terjerembab dalam
kemiskinan.
Ingat Gotabaya Rajapaksa, Presiden Sri Lanka, pada tahun
2022 harus melarikan diri dari istana ketika rakyat menyerbu, marah karena
perut kosong dan korupsinya. Ingat Sheikh Hasina Perdana Menteri Bangladesh,
setelah 15 tahun berkuasa, terpaksa kabur karena istananya diduduki mahasiswa
dan rakyat yang marah pada rejim korupnya.
Dan Ingat Suharto, penguasa Indonesia 32 tahun, yang
nasibnya sedikit beruntung karena memilih mundur. Ia yang mengaku "tak
punya satu sen pun uang simpanan", tapi keluarganya hidup bergelimang
harta. Ia tidak jadi diadili karena menderita dementia. Rakyat Indonesia masih
punya belas kasihan padanya.
Itulah hukum besi sejarah: bila penguasa mengabaikan jeritan
rakyat, cuma mengenyangkan dan
menyenangkan diri, maka amarah akan menggumpal. Menjadi gelombang perubahan
yang bakal menggilas apa saja yang menghalangi. Tidak ada tembok istana atau
senjata yang bisa menghentikan gelombang amarah itu.
Ingatlah selalu Caligula, Louis XVI, Romanov, Ceausescu,
Mussolini, Pahlavi, Marcos, Rajapaksa, Hasina, juga Soeharto, dan seluruh
penguasa lalim lainnya. Saat mereka berkuasa, dunia dan negerinya seakan ada
digenggamannya serta bisa berbuat apa saja. Tetapi sejarah menunjukkan, bahwa
kebenaran, keadilan, dan kedaulatan rakyat tidak bisa dipermainkan. Selalu ada
"harga" yang harus dibayar oleh para penguasa lalim dan korup.
Di Indonesia para penguasa suka meneriakkan slogan
"NKRI Harga Mati", seringkali
sebagai tameng pembenaran praktek politik lancung dan korupnya.
Pelajaran dari unjuk rasa amarah rakyat di Pati adalah, jika telinga dan mata
penguasa tertutup maka rakyat akan membukanya dengan paksa. Ingat, yang adil
bakal disembah, yang lalim akan disanggah. NKRI Harga Pati, adalah indikasi dan
konsekuensi yang perlu dibayar. (***)




0 Comments