Berita Terkini

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

DPR Dalam Menara Gading: Borjuis Baru Di Tengah 194,6 Juta Orang Kere

Gedung DPR/MPR RI di Jalan Jenderal
Gatot Subroto, Jakarta.
(Foto: Istimewa) 



Oleh: Sariman bin Saridin

 

JIKA kita hendak mencari wajah imperealisme abad ke-21, kita tidak perlu menengok ke negeri seberang. Ia telah bercokol nyaman di Senayan, Jakarta, berselimut kain sutra berlabel "anggaran negara", dan bersuara lantang dalam setiap pengesahan undang-undang yang mengukuhkan hegemoninya.

Angka yang dilontarkan Fitra - Rp230 juta per bulan untuk setiap anggota Dewan - bukan sekadar statistik. Itu adalah monumen ketimpangan yang dibangun di atas penderitaan 194,6 juta jiwa rakyat Indonesia yang - menurut Bank Dunia - hidup dalam kubangan kemiskinan. Bayangkan: seorang anggota dewan menghasilkan dalam satu bulan apa yang harus diperjuangkan oleh 105 orang buruh di Banjarnegara sepanjang tahun. Ini bukan demokrasi; ini feodalisme baru yang berkostum dasi dan jas.

Mereka menyebut diri mereka wakil rakyat, tetapi yang diwakili justru kepentingan oligarki dan kepatuhan membabak pada eksekutif. Kinerja mereka? Lebih mirip “pembantu pemerintah” yang rajin mengangguk ketimbang check and balance. Dari 47 RUU (Rancangan Undang-Undang) yang seharusnya dibahas, hanya 4 yang tuntas. Itu pun kualitasnya sering dipertanyakan - banyak yang digugat ke Mahkamah Konstitusi karena sarat kepentingan segelintir orang dan abai terhadap keadilan sosial.

Sementara rakyat berteriak karena harga sembako meninggi, mereka sibuk menggodok tunjangan perumahan tambahan Rp50 juta per bulan. Mereka beralasan: "Ini sudah hitungan Kemenkeu", seolah-olah angka yang diciptakan birokrat adalah wahyu yang tak boleh digugat. Pada saat yang sama, negara harus berutang hampir Rp800 triliun hanya untuk menutup deficit - yang sebagian justru untuk membayar gaya hidup para "tuan-tuan" di Senayan.

Inilah bentuk imperialisme terkini: penjajahan oleh elite domestik atas rakyatnya sendiri. Mereka tidak datang dengan kapal perang, tetapi dengan draft RUU yang penuh muatan politis. Mereka tidak menjajah dengan senjata, tetapi dengan kebijakan yang memiskinkan dan mengucilkan.

Mereka tinggal di menara gading yang dibangun dari uang rakyat, sambil melihat ke bawah dengan pandangan penuh belas kasihantetapi tidak pernah turun untuk mengubah keadaan. Bahkan, ketika gelombang kemiskinan melanda akibat kenaikan harga pangan dan energi, mereka justru menambah tunjangan - seolah-olah Indonesia adalah negeri yang begitu kaya, sampai-sampai para wakilnya harus hidup bak sultan.

Soekarno mungkin akan berkata: "Inilah bangsa yang terjajah oleh bangsanya sendiri. "Kita tidak butuh penjajah dari luar lagi. Kita sudah memproduksinya sendiri - dengan fasilitas mewah, tunjangan absurd, dan legitimasi melalui produk hukum yang rapuh.

Sudah waktunya kita mempertanyakan: untuk apa negara mengeluarkan Rp1,6 triliun hanya untuk 580 orang, sementara hampir 200 juta rakyatnya terperangkap dalam jerat kemiskinan? Apakah ini yang disebut keadilan? Ataukah ini bentuk baru perbudakan - di mana rakyat bekerja keras, sementara para majikan di Senayan menikmati hasilnya dengan tanpa malu? Mereka tak membayar pajak, membebek pemerintah dan cukong.

Jika ini bukan pengkhianatan terhadap konstitusi, lalu apa namanya? Jogetan sejumlah Anggota DPR secara tak langsung tidak punya kesadaran dan kepekaan apa yang terjadi di tengah banyak rakyat yang kere. Ya, yang kere 194,6 juta Bung! (***)


Post a Comment

0 Comments