![]() |
| Bambang Soesatyo bersama Mutia Hatta dan pengurus Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI) . (Foto: Istimewa) |
“Diharapkan generasi muda dapat memahami konteks sosial
politik sejarah bangsa serta menumbuhkan karakter cinta tanah air melalui
sinematografi,” ujar Bambang Soesatyo kepada wartawan di Jakarta, Ahad
(20/7/2025).
Bambang Soesatyo mengatakan Indonesia membutuhkan lebih
banyak film sejarah yang mampu menghidupkan kembali memori kolektif bangsa,
khususnya di kalangan anak muda yang semakin jauh dari akar identitas nasional.
“Ini merupakan upaya strategis menyelamatkan narasi
kebangsaan di tengah gempuran informasi global yang kerap mengikis rasa
nasionalisme generasi muda," ujar Bambang Soesatyo (Bamsoet) saat menerima
Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI) di Jakarta.
Hadir antara lain Meutia Hatta (Puteri Moh. Hatta), Antarini
Malik (Puteri Adam Malik), Ganang P. Soedirman (Cucu Jenderal Soedirman),
Melani Leimena Suharli (Puteri J. Leimena), Indah HA Soedadi (Cicit Wahidin
Sudirohusodo), Roy R. Yamin (Cucu M. Yamin), Margareth E. Lukas (Keponakan
Laksda. John Lie) serta Widowati Soedjoko (Cucu GSSJ Ratulangi).
Ketua DPR ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini
menjelaskan nama Bung Hatta sebagai Proklamator Kemerdekaan Bangsa Indonesia
kerap tenggelam oleh figur-figur revolusioner lainnya. Padahal, Bung Hatta
adalah sosok negarawan visioner.
Bamsoet menjelaskan seorang ekonom kerakyatan, demokrat
sejati, dan tokoh moral yang memilih hidup sederhana meski memiliki posisi
politik tertinggi sebagai Wakil Presiden pertama Republik Indonesia. Inilah
pentingnya Bung Hatta harus “dihidupkan kembali” melalui media digital yang
dekat dengan publik, yakni film nasional.
"Bung Hatta tidak hanya sosok pemberani, tetapi juga
pemikir besar. Nilai strategis pemikiran Bung Hatta tentang demokrasi, keadilan
sosial, dan ekonomi kerakyatan diyakini relevan bagi masa kini, terutama di
tangan generasi Alfa dan Z," ucap Bamsoet.
Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia dan Wakil Ketua Umum/Kepala
Badan Bela Negara FKPPI ini mengatakan fakta dilapangan menunjukkan bahwa jarak
generasi muda dengan sejarah bangsanya kian melebar. Survei Litbang Kompas pada
2023 mengungkap bahwa hanya 34 persen responden muda usia 17–25 tahun yang
mampu menyebut lima nama pahlawan nasional beserta peran sentral mereka secara
tepat. Sementara lebih dari 60 persen responden mengaku lebih mengenal
tokoh-tokoh populer dari luar negeri melalui media sosial dibanding tokoh
sejarah Indonesia.
"Mengenang pahlawan tidak berarti memuja masa lalu
secara membabi buta. Justru sebaliknya, nilai-nilai perjuangan itu harus
dikontekstualisasikan dalam tantangan bangsa hari ini. Melawan ketidakadilan
sosial, memperjuangkan pendidikan merata, menolak korupsi, hingga membela
hak-hak minoritas adalah bentuk perjuangan modern yang berakar dari semangat
para pahlawan," pungkas Bamsoet. (*pur)




0 Comments